Saat Jabatan Menentukan Makna Kata
Prolog
Kita hidup di panggung yang sering kali menukar wajah dengan topeng,
Di mana nilai seseorang ditentukan oleh kursi, bukan oleh hati yang jernih dan terang.
Benar dan salah menjadi elastis, mengikuti siapa yang memegang kendali,
Membuat keadilan terasa seperti barang mahal yang sulit dicari.
Mari kita buka tabir ini, melihat kenyataan pahit yang sering kali tersembunyi.
Timbangan yang Miring: Saat Jabatan Menentukan Makna Kata
Pernahkah Anda melihat seorang rakyat jelata bicara jujur apa adanya, lalu ia justru ditertawakan dan dianggap tidak mengerti cara main dunia? Itulah realitas yang sering kita telan mentah-mentah: Orang kecil jujur dibilang tolol, sementara orang besar yang melakukan kebodohan justru dipuji kejujurannya.
Dunia kita kadang bekerja dengan logika yang sungsang. Kita tidak lagi mengukur kebenaran dengan timbangan nurani, melainkan dengan ukuran kekuasaan.
Ketika Makna Kata Bergantung pada Siapa yang Memakainya
Fenomena ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap bahasa dan akal sehat. Kata-kata seolah kehilangan identitas aslinya dan dipakaikan baju baru sesuai pesanan:
- Tentang Kejujuran: Kejujuran orang kecil dianggap ketidakmampuan bermain peran. Seolah-olah, untuk bertahan hidup, seseorang harus licik. Namun, jika orang yang duduk di kursi tinggi melakukan kekeliruan telak, tiba-tiba saja itu disebut sebagai "ketulusan yang jujur."
- Tentang Keberanian: Jika mereka yang tak punya kuasa berani menyuarakan kebenaran, mereka dicap kurang ajar atau pembangkang. Sebaliknya, sikap arogan dan kurang ajar dari mereka yang berkuasa sering kali dipoles dengan label "keberanian yang tegas."
Penyakit "Siapa yang Berbicara"
Masalah sesungguhnya mungkin bukan pada kata-katanya, melainkan pada timbangan kita yang sudah lama miring. Kita menderita penyakit sosial di mana kita lebih cepat menilai siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan.
Jabatan telah menjadi filter yang mendistorsi kenyataan. Padahal, secara hakiki, kejujuran tetaplah emas meskipun ia keluar dari mulut seorang pemulung. Dan keberanian tetaplah sebuah kebajikan, hanya jika ia membela kebenaran, bukan karena ia lahir dari instruksi seorang atasan.
Harapan untuk Meluruskan Timbangan
Dunia akan terasa jauh lebih sederhana jika kita berani kembali ke dasar. Mengembalikan makna jujur kepada kejujuran itu sendiri, dan keberanian kepada substansi pembelaannya.
Jika suatu hari nanti kita berhasil meluruskan timbangan yang miring ini, maka yang jujur tidak akan lagi disebut tolol, dan yang kurang ajar tidak akan lagi punya tempat sembunyi di balik kata "berani." Kebenaran harus berdiri sendiri, tanpa butuh bantuan pangkat atau jabatan untuk diakui.
Endgame
Hormatilah kata-kata, jangan biarkan ia menjadi pelayan kekuasaan,
Sebab nurani tak mengenal kasta saat ia menimbang sebuah kebenaran.
Kembalikanlah kejujuran pada tempatnya yang mulia dan penuh kemuliaan,
Agar keadilan bukan sekadar slogan, melainkan napas dalam kehidupan.
Luruskan timbanganmu, sebelum waktu menghakimi setiap penyimpangan.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar