Ketika Popularitas Mengalahkan Kompetensi
Ketika Popularitas Mengalahkan Kompetensi Masihkah Kita Memilih Pemimpin karena Kemampuan, atau Sekadar Karena Terlihat Menarik? Di era media sosial, menjadi terkenal jauh lebih mudah daripada menjadi benar-benar kompeten. Seseorang dapat menghabiskan bertahun-tahun belajar, meneliti, membaca, dan mengasah kemampuan. Namun, dalam hitungan detik, orang lain bisa menjadi pusat perhatian hanya karena sebuah video yang viral. Inilah zaman ketika perhatian menjadi komoditas. Dan sering kali, perhatian lebih mahal daripada pengetahuan. Saya teringat sebuah ilustrasi yang pernah disampaikan oleh Gita Wirjawan . Ia menggambarkan dua orang yang hidup dalam sebuah sistem. Yang pertama memiliki kecerdasan intelektual sangat tinggi, menguasai fisika murni, berpikir sistematis, dan memiliki kapasitas analisis yang luar biasa. Namun, ia bukan komunikator yang hebat dan tidak pandai membangun popularitas. Yang kedua memiliki kemampuan intelektual yang jauh lebih rendah, tetapi sangat piawai men...