Ketika Sensus Mengetuk Pintu Seorang Guru Honorer
Ketika Sensus Mengetuk Pintu Seorang Guru Honorer Bukan Sekadar Angka Pendapatan, tetapi Potret Nilai Sebuah Pengabdian Ada percakapan yang selesai ketika wawancara berakhir. Namun, ada pula percakapan yang justru baru dimulai ketika semua orang memilih diam. Dialog antara seorang petugas sensus dan seorang guru honorer mungkin hanyalah ilustrasi. Tetapi di balik percakapan sederhana itu, tersimpan sebuah kenyataan yang masih dirasakan oleh banyak guru honorer di berbagai daerah di Indonesia. Bukan tentang angka. Melainkan tentang penghargaan. Bayangkan sejenak. Seorang petugas sensus datang membawa tablet digital. Ia menjalankan tugas negara untuk memotret kondisi ekonomi masyarakat. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan sesuai prosedur. "Berapa pendapatan Ibu setiap bulan?" Pertanyaan yang terdengar sederhana. Namun, bagi seorang guru honorer, pertanyaan itu bisa menjadi luka yang kembali terbuka. "Tiga ratus ribu rupiah." Bukan per minggu. Bukan per hari. Tetapi ...