Maaf Ramadan
Prolog Belasan fajar telah menyingsing, namun jiwa masih terasa asing, Langkah kaki masih tertatih, di antara dunia yang terus membising. Mulut berucap rindu, namun laku masih saja berpaling, Di hadapan pintu ampunan, mengapa diri ini masih saja bergeming? Mari kita menunduk sejenak, menatap cermin hati yang mulai retak. Maaf Ramadhan: Antara Kerinduan Palsu dan Sisa Waktu Ramadhan hampir melewati separuh perjalanannya. Belasan hari telah gugur satu per satu, meninggalkan kita yang masih saja terbelenggu oleh kemalasan yang sama. Di awal bulan, kita menyambutnya dengan gegap gempita, memasang status kerinduan, dan menjanjikan perubahan. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri di tengah sunyinya malam ini. Maaf Ramadhan, mungkin aku hanya berpura-pura rindu. Kita berkata rindu, namun interaksi kita dengan Al-Qur'an masih saja kaku. Kita berkata rindu, namun shalat kita masih terburu-buru, seolah Tuhan adalah beban yang ingin segera kita sudahi. Kita telah diberi k...