Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Filosofi Rotan

  Aku Pernah Duduk di Kursi Rotan, tetapi Tak Pernah Mengenal Buahnya Ketika Alam Mengajarkan bahwa Pengetahuan Tidak Boleh Berhenti pada Apa yang Tampak Sejak kecil, saya sering melihat kursi rotan. Bahkan mungkin saya pernah duduk di atasnya ratusan kali. Di rumah nenek, di ruang tamu tetangga, di sekolah, hingga di berbagai tempat wisata. Rotan begitu akrab dalam kehidupan kita. Ia hadir sebagai kursi, meja, rak, keranjang, bahkan berbagai karya seni anyaman yang memperlihatkan kecerdasan tangan-tangan para perajin Indonesia. Namun, ada satu hal yang baru saya sadari belakangan ini. Ternyata saya mengenal rotan, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalnya. Saya mengetahui batangnya. Saya menikmati manfaatnya. Tetapi saya tidak pernah tahu seperti apa buahnya. Ketika pertama kali melihat buah rotan, saya sempat mengira itu adalah salak kecil yang tumbuh bergerombol. Permukaannya bersisik. Warnanya berubah dari putih krem, kuning, hingga jingga ketika matang. Unik. Eksotis. Dan ju...

Postingan Terbaru

Kepemimpinan alur Kaizen

Ketika Sensus Mengetuk Pintu Seorang Guru Honorer

Ketika Matahari Menjadi Harapan Petani

Ketika Kesempatan Bertemu Ketekunan

Konservasi Dimulai dari Kepedulian

Sepiring Makanan atau Seorang Guru

Hat-trick Mitchell Lee Baker

Sawit, Hutan, dan Cara Kita Berpikir

Membaca Sejarah dengan Utuh

Ketika Mikrofon Menjadi Cermin