DUNIA TAK LAGI MAMPU MENYANDERA HATI
GAK PATHÈKEN: KETIKA DUNIA TAK LAGI MAMPU MENYANDERA HATI
Banyak dari kita hidup dalam ketakutan.
Takut miskin.
Takut gagal.
Takut tidak dihargai.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut tidak punya masa depan.
Takut melihat orang lain lebih berhasil.
Takut ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Dan tanpa sadar, ketakutan-ketakutan itu perlahan menjadi majikan bagi hidup kita.
Kita bekerja bukan lagi karena ingin berkarya, tetapi karena takut miskin.
Kita mengejar jabatan bukan lagi karena ingin memberi manfaat, tetapi karena takut dianggap tidak berhasil.
Kita mencari pengakuan bukan lagi karena ingin dihargai, tetapi karena takut merasa tidak berarti.
Kita tersenyum kepada banyak orang, bukan karena bahagia, tetapi karena takut kehilangan penerimaan.
Lalu kita bertanya:
“Kapan hidupku akan enak?”
Mungkin justru di situlah masalahnya.
Karena selama ukuran hidup kita adalah kenyamanan, maka dunia akan selalu punya sesuatu untuk menakut-nakuti kita.
SEBUAH PERTANYAAN YANG MEMBALIK LOGIKA HIDUP
Dalam pemikiran yang dinisbatkan kepada Emha Ainun Nadjib, ada sebuah cara pandang yang sederhana, tetapi sangat dalam:
Jangan terlalu sibuk bertanya:
“Apakah hidupku enak?”
Tetapi tanyakan:
“Apakah Allah marah kepadaku dengan hidup yang sedang kujalani?”
Dua pertanyaan itu tampak sederhana.
Tetapi arah hidup yang dihasilkannya sangat berbeda.
Pertanyaan pertama membuat kita sibuk mengukur dunia.
Apakah aku cukup kaya?
Apakah aku cukup terkenal?
Apakah orang-orang menghargai aku?
Apakah hidupku lebih baik daripada hidup mereka?
Apakah aku menang?
Apakah aku nyaman?
Sementara pertanyaan kedua membuat kita kembali mengukur diri sendiri di hadapan Tuhan.
Apakah langkahku masih benar?
Apakah rezeki yang kudapat halal?
Apakah keberhasilanku membuatku sombong?
Apakah kesulitanku membuatku putus asa?
Apakah aku masih menjaga manusia ketika dunia sedang tidak berpihak kepadaku?
Dan mungkin, ketika pertanyaan kedua menjadi pusat hidup kita, banyak ketakutan mulai kehilangan kekuatannya.
DUNIA SERING MENYANDERA KITA DENGAN KETAKUTAN
Dunia tahu cara membuat manusia takut.
Tak punya uang? Takut.
Tak punya jabatan? Takut.
Tidak populer? Takut.
Tidak dipuji? Takut.
Gagal? Takut.
Ditinggalkan? Takut.
Bahkan ketika sudah memiliki semuanya, manusia masih bisa takut kehilangan.
Itulah masalahnya.
Keinginan manusia hampir tidak pernah mengenal kata selesai.
Ketika belum punya rumah, kita ingin rumah.
Setelah punya rumah, kita takut rumah itu hilang.
Ketika belum punya jabatan, kita ingin jabatan.
Setelah punya jabatan, kita takut kehilangan jabatan.
Ketika belum terkenal, kita ingin dikenal.
Setelah dikenal, kita takut dilupakan.
Maka selama kebahagiaan kita bergantung sepenuhnya pada apa yang bisa diberikan dunia, kita akan selalu hidup dalam kecemasan.
Karena dunia bisa memberikan.
Dan dunia juga bisa mengambil kembali.
PUISI: JIKA HATI SUDAH PULANG
Wahai Tuhan,
jika dunia memberiku bunga,
jangan biarkan aku lupa bahwa ia bisa layu.
Jika dunia memberiku tepuk tangan,
jangan biarkan aku mengira suara itu abadi.
Jika suatu hari aku dijunjung tinggi,
ingatkan aku bahwa kaki tetap harus menyentuh bumi.
Dan jika suatu hari aku dibanting,
jangan biarkan jiwaku ikut hancur.
Karena aku sedang belajar,
bahwa bahagia bukan ketika dunia selalu baik kepadaku.
Bahagia adalah ketika aku masih menemukan-Mu
di tengah hidup yang tidak selalu ramah.
Jika Engkau tidak meninggalkanku,
apa sebenarnya yang harus kutakutkan?
Jika hati ini sudah pulang kepada-Mu,
maka ke mana pun dunia membawaku,
aku tidak benar-benar tersesat.
GAK PATHÈKEN
Ada sebuah ungkapan Jawa yang terasa sederhana:
“Gak pathèken.”
Kurang lebih: tidak terlalu dipikirkan sampai membebani hati.
Bukan berarti hidup tanpa tanggung jawab.
Bukan berarti malas.
Bukan berarti menyerah.
Bukan berarti tidak punya cita-cita.
Justru sebaliknya.
Kita tetap bekerja.
Tetap berusaha.
Tetap belajar.
Tetap memperbaiki diri.
Tetap memperjuangkan kehidupan.
Tetapi hati kita tidak lagi menjadi sandera dari hasil.
Karena manusia memang wajib berusaha.
Tetapi manusia tidak pernah memiliki kuasa penuh atas hasil.
Ada wilayah yang bisa kita kerjakan.
Dan ada wilayah yang harus kita serahkan.
Mungkin di situlah sabar dan syukur bertemu.
SABAR BUKAN SEKADAR BERTAHAN
Banyak orang mengira sabar hanya berarti diam ketika menderita.
Padahal sabar jauh lebih luas.
Sabar adalah tetap menjaga diri ketika keadaan tidak sesuai keinginan.
Tetap jujur ketika kejujuran terasa merugikan.
Tetap baik ketika tidak dibalas baik.
Tetap bekerja ketika belum terlihat hasilnya.
Tetap percaya ketika jalan di depan belum terlihat.
Dan yang paling sulit:
tetap tenang ketika dunia sedang mencoba membuat kita panik.
Sabar bukan kelemahan.
Sabar adalah kekuatan seseorang yang tidak menyerahkan kendali jiwanya kepada keadaan.
SYUKUR JUGA BUKAN SEKADAR UCAPAN
Syukur bukan hanya mengatakan alhamdulillah ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan.
Syukur yang lebih dalam adalah kemampuan melihat bahwa hidup tidak hanya berisi apa yang kita inginkan.
Kadang kita mendapatkan sesuatu.
Kadang kita kehilangan sesuatu.
Kadang jalan terbuka.
Kadang pintu tertutup.
Kadang kita dipuji.
Kadang kita disalahpahami.
Kadang hidup terasa ringan.
Kadang terasa sangat berat.
Tetapi seseorang yang belajar bersyukur mulai memahami:
Tidak semua yang datang harus membuatku sombong.
Dan tidak semua yang pergi harus menghancurkanku.
INILAH KEMERDEKAAN YANG SESUNGGUHNYA
Orang yang terlalu bergantung pada pujian akan menjadi budak dari manusia.
Orang yang terlalu takut miskin bisa menjadi budak dari uang.
Orang yang terlalu mengejar jabatan bisa menjadi budak dari kekuasaan.
Orang yang terlalu membutuhkan pengakuan bisa menjadi budak dari penilaian orang lain.
Maka kemerdekaan bukan selalu tentang memiliki semuanya.
Kadang kemerdekaan justru terjadi ketika kita mampu berkata:
“Aku akan tetap berusaha, tetapi aku tidak akan menjual jiwaku demi mendapatkan semuanya.”
Itulah manusia yang sulit disandera dunia.
Ia bisa kehilangan pekerjaan, tetapi tidak kehilangan harga dirinya.
Ia bisa kehilangan jabatan, tetapi tidak kehilangan prinsipnya.
Ia bisa kehilangan tepuk tangan, tetapi tidak kehilangan alasan untuk berbuat baik.
Ia bisa mengalami kegagalan, tetapi tidak kehilangan keberanian untuk bangkit.
Karena ia tahu:
nilai dirinya tidak ditentukan oleh seberapa keras dunia bertepuk tangan.
LA UBALI: APA PUN YANG TERJADI
Ada sebuah titik spiritual yang sangat indah.
Ketika manusia berkata kepada Tuhannya:
“Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka apa pun yang terjadi di dunia ini, aku akan berusaha menerimanya.”
Bahagia atau derita.
Dijunjung atau dibanting.
Nyaman atau sengsara.
Dipuji atau dicela.
Diberi atau diambil.
Bukan karena manusia tidak merasakan sakit.
Manusia tetap bisa menangis.
Tetap bisa kecewa.
Tetap bisa terluka.
Tetapi ia tidak membiarkan luka itu menentukan seluruh hidupnya.
Karena ada sesuatu yang lebih besar daripada semua kehilangan dunia:
hubungan antara dirinya dan Tuhannya.
MUNGKIN INI YANG PERLU KITA PELAJARI HARI INI
Kita boleh punya ambisi.
Tetapi jangan sampai ambisi memiliki kita.
Kita boleh mengejar kesuksesan.
Tetapi jangan sampai kesuksesan membuat kita kehilangan diri.
Kita boleh ingin hidup nyaman.
Tetapi jangan sampai ketidaknyamanan membuat kita merasa hidup telah gagal.
Kita boleh ingin dihargai.
Tetapi jangan menyerahkan harga diri kepada orang lain.
Dan kita boleh takut.
Karena takut adalah bagian dari manusia.
Tetapi jangan sampai ketakutan menjadi pengemudi kehidupan kita.
Sebab mungkin ketenangan terbesar bukan datang ketika semua masalah selesai.
Melainkan ketika kita akhirnya memahami:
Tidak semua hal harus berhasil agar hidup ini tetap layak dijalani.
Tidak semua orang harus menyukai kita agar kita tetap berharga.
Tidak semua keinginan harus terpenuhi agar kita tetap bisa bersyukur.
Dan tidak semua penderitaan berarti Tuhan sedang meninggalkan kita.
PADA AKHIRNYA...
Mungkin hidup memang tidak akan selalu enak.
Mungkin rezeki tidak selalu besar.
Mungkin penghargaan tidak selalu datang.
Mungkin kita pernah gagal.
Mungkin kita pernah diremehkan.
Mungkin kita pernah kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai.
Tetapi ada satu pertanyaan yang mungkin jauh lebih penting daripada semuanya:
“Apakah Allah masih ridha dengan cara aku menjalani hidup ini?”
Jika kita terus berusaha memperbaiki jawabannya...
maka mungkin kita bisa belajar menjalani hidup dengan lebih ringan.
Bukan karena masalah hilang.
Tetapi karena hati kita tidak lagi mudah disandera oleh dunia.
Gak pathèken.
Bukan karena hidup tidak penting.
Justru karena ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar menang dalam kehidupan dunia.
Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku, maka aku akan belajar menerima apa pun yang Kau tuliskan untukku.
Karena mungkin...
puncak kemerdekaan manusia bukan ketika ia memiliki segalanya.
Tetapi ketika dunia tidak lagi mampu mengambil ketenangan dari dalam hatinya.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar
Posting Komentar