Sudah Malas Menulis dengan Judul Arah Baru Pendidikan Indonesia
Ketika Kurikulum Terus Berganti, Tapi Realitas di Lapangan Masih Sama
Guru di kelas bukan hanya bergulat dengan RPP dan asesmen formatif, tapi juga dengan jaringan internet yang putus-nyambung, perangkat belajar yang tak semua murid punya, hingga semangat belajar yang naik turun.
Sementara di atas kertas, sistem terus menjanjikan pembaruan: student centered learning, project based learning, hingga profil pelajar Pancasila. Semua tampak indah dalam konsep, tapi sering tak menyentuh realitas lapangan.
Pendidikan memang butuh arah baru, tapi bukan berarti setiap arah baru harus menghapus peta lama. Yang kita perlukan bukan hanya kurikulum baru, tapi kebiasaan baru — cara berpikir baru dalam mengajar dan belajar.
Era Teknologi + Lingkungan + Karakter
Kita hidup di masa ketika teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.
Namun ironisnya, di tengah derasnya digitalisasi, banyak yang masih memaknai belajar hanya sebatas menyelesaikan tugas daring atau membuat presentasi yang menarik. Padahal, esensi pembelajaran di era ini bukan hanya soal konten, tapi cara mengajar yang adaptif terhadap zaman.
Di Era Society 5.0, manusia bukan dituntut sekadar mahir teknologi, tapi mampu menyeimbangkan kecerdasan digital dengan kemanusiaan.
Guru bukan hanya fasilitator belajar, tapi juga penjaga nilai, penggerak empati, dan penanam karakter.
Pendidikan hari ini harus memadukan teknologi, lingkungan, dan karakter — tiga pilar yang menentukan masa depan bangsa:
-
Teknologi, agar siswa tak tertinggal oleh zaman;
Lingkungan, agar mereka sadar bahwa kemajuan tak boleh mengorbankan bumi;
Karakter, agar mereka tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga beretika dan berempati
Mengajar dengan Cara yang Manusiawi
Mungkin inilah “arah baru” yang sesungguhnya: bukan pada pergantian istilah, tapi pada cara kita memanusiakan pembelajaran.
Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan menghadirkan makna.
Mendampingi siswa bukan hanya untuk menuntaskan kompetensi, tapi membantu mereka memahami hidup, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan keberanian untuk terus belajar.
Pendidikan yang sejati adalah tentang menemukan keseimbangan — antara ilmu dan nilai, teknologi dan empati, pengetahuan dan kebijaksanaan.
Jadi, meski kadang lelah dan terasa “malas menulis” setiap kali ada jargon arah baru pendidikan, kita tahu satu hal: harapan itu tetap hidup di ruang-ruang kelas, di tangan guru-guru yang mau terus belajar dan beradaptasi.
Karena sejatinya, arah baru pendidikan Indonesia tidak akan pernah datang dari dokumen kurikulum atau peraturan menteri — melainkan dari kelas-kelas kecil di mana guru masih percaya bahwa perubahan sejati dimulai dari dirinya sendiri.
Abdulloh Aup / @aupdentata / Abdulloh, S.Pd., M.Pd.

Komentar
Posting Komentar