Hakikat di Balik Kelalaian
Menanggal Diri: Mengulas Hakikat di Balik Kelalaian Manusia
Kita sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk dunia yang kita sebut sebagai "kehidupan". Namun, benarkah kita telah hidup? Ataukah kita sebenarnya hanya sedang terlelap dalam mimpi panjang yang begitu riuh, terbuai oleh khayalan-khayalan tentang eksistensi diri yang kita bangun sendiri?
Terlelap dalam Labirin Amalan
Dewasa ini, kita menyaksikan sebuah fenomena di mana ilmu agama sering kali direduksi hanya menjadi deretan daftar "pekerjaan rumah". Kita diajarkan untuk sibuk mengumpulkan bekal—amalan ini, bacaan itu—seolah-olah kita sedang menimbun harta untuk menyuap waktu. Kita menjadi kolektor pahala, namun abai terhadap substansi siapa sebenarnya yang sedang beramal.
Inilah paradoks "tidur" manusia: semakin kita merasa sibuk mempersiapkan bekal karena takut akan kematian, sebenarnya kita semakin jauh dari kesadaran ruhani. Ketakutan akan kematian adalah bukti nyata bahwa kita masih merasa memiliki hidup. Padahal, jika kita benar-benar menyadari bahwa hidup bukanlah hak milik, lalu apa yang sebenarnya kita khawatirkan dari sebuah kepulangan?
Melepas Kehendak di Hadapan Sang Maha Ilmu
"Ilmu itu hanya untuk mengetahui, bukan untuk diakui."
Ada sebuah jebakan ego ketika manusia mulai merasa "tahu". Pengetahuan seringkali dijadikan jubah untuk menutupi kebodohan hakiki kita. Padahal, saat kita menghadap Sang Maha Ilmu, segala daya dan upaya kita—termasuk kehendak untuk "menjadi sesuatu"—hanyalah debu yang tertiup angin.
Filosofi ini mengajak kita untuk berhenti mengatur ketetapan. Tidak perlu berkehendak apa-apa, karena sejatinya, daya untuk berkehendak itu pun bukan milik kita. Kita hanyalah wadah yang kosong.
Aku yang Haqiqi: Allahunurrusama watiwal' ard
Jika kita telusuri lebih dalam ke dalam diri yang mazazi (semi-nyata) ini, kita akan menemukan sebuah kesunyian yang absolut. Siapa yang sebenarnya mendengar? Siapa yang melihat? Siapa yang berkata-kata?
Bukan kita. Sebab, manusia pada hakikatnya tidak pernah hidup dan tidak memiliki tempat. Yang benar-benar ADA dan NYATA hanyalah AKU yang Haqiqi. Dialah yang menempati seluruh apa saja di bumi ini. Allahunurrusama watiwal' ard—Cahaya Allah meliputi seluruh langit dan bumi.
Pulang dalam Kebodohan Hakiki
Kita datang ke alam dunia ini tanpa mengerti apa-apa, dalam keadaan putih dan kosong. Maka, perjalanan spiritual yang sesungguhnya bukanlah tentang menjadi "pintar" atau "suci" di mata manusia, melainkan perjalanan untuk pulang kembali dengan kebodohan yang sama.
Pulang dengan kebodohan berarti pulang tanpa membawa beban ego, tanpa membawa klaim atas ilmu, dan tanpa merasa telah melakukan sesuatu. Kita pulang dengan kesadaran bahwa kita tidak pernah ada, dan hanya Dia-lah yang kekal.

Komentar
Posting Komentar