Labirin Pendidikan Kita

  


Retorika "Burn the Bridge": Paradox Kelazimkan dalam Labirin Pendidikan Kita

​Mengenakan kaos Merdeka Belajar (MB) hari ini, tepat saat dakwaan terhadap Nadiem dibacakan, bukan sekadar urusan memilih busana dari tumpukan lemari yang lama terabaikan. Ini adalah sebuah pernyataan ontologis. Di tengah riuh rendah ruang sidang, kaos ini menjadi konfirmasi pahit atas sebuah tesis lama: bahwa dalam panggung politik Indonesia, strategi “burn the bridge”—membumihanguskan jembatan masa lalu—masih menjadi dogma yang diagungkan.

​Kezaliman yang Dilazimkan: Siklus Tanpa Progresi

​Secara filosofis, kita sering terjebak dalam apa yang saya sebut sebagai "Kezaliman yang Dilazimkan". Ada kecenderungan sistematis untuk menafikan capaian masa lalu demi sebuah obsesi akan kebaruan yang semu. Menghapus nomenklatur, merombak struktur, hingga membuang pernak-pernik simbolis seperti atribut MB bukan sekadar perubahan administratif, melainkan upaya mendelegitimasi sebuah perjalanan kolektif.

​Data menunjukkan betapa mahalnya harga dari "perubahan demi perubahan" ini:

  • Inersia Birokrasi: Setiap perubahan besar dalam kurikulum atau struktur memerlukan waktu adaptasi minimal 3–5 tahun bagi praktisi di lapangan untuk mencapai efisiensi optimal.
  • Waste of Resources: Pergantian kebijakan yang "ujug-ujug" mengakibatkan pemborosan anggaran negara pada pelatihan ulang yang redundan dan produksi materi yang cepat usang.
  • Stagnasi PISA: Sejarah mencatat skor literasi dan numerasi kita cenderung jalan di tempat, salah satunya karena guru lebih sibuk memahami "istilah baru" daripada mendalami substansi pedagogi.

​Paradoks Kebijakan: Antara Narasi dan Realita

​Kesibukan hari ini tampak seperti sebuah upaya membangkitkan "hantu" masa lalu. Kita melihat kembalinya konsep-konsep yang sempat usang dengan bungkus baru yang paradoks.

  • Eksklusivitas dalam Kedalaman: Menggaungkan "Pembelajaran Mendalam" namun secara praktis membatasi akses melalui sistem yang eksklusif.
  • Kontradiksi Evaluasi: Berbicara tentang kompetensi holistik, namun secara mendadak memberlakukan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang reduksionis. Ini adalah sebuah disonansi kognitif kebijakan yang membingungkan akar rumput.

Meta-Kognisi: Melampaui Angka dan Kognisi

​Di tengah kabut regulasi ini, dukungan kita harus jatuh pada "Guru-guru kecil berhati besar". Mereka yang sadar bahwa pendidikan bukan sekadar transfer kognisi (IQ), melainkan pengasahan meta-kognisi.

Pendidikan sejati adalah ketika seorang siswa tidak hanya tahu "apa" yang dipelajari, tapi "mengapa" ia mempelajarinya dan "bagaimana" ia berefleksi atas eksistensinya terhadap sesama.

​Guru-guru inilah yang menjadi benteng terakhir melawan pikiran-pikiran sempit dan kepentingan sesaat yang sering kali mengatasnamakan "reformasi".

​And Game: Indonesia yang Melampaui Sidang

​Indonesia Raya terlalu megah untuk dikerdilkan oleh dendam politik atau ego sektoral. Kaos MB yang saya kenakan hari ini adalah pengingat bahwa ide tentang kemandirian belajar melampaui figur dan jabatan.

​Dari luar ruang sidang ini, doa saya sederhana: semoga kabut setebal apa pun di dalam sana tidak mampu membutakan mata hati kita. Kebenaran tidak bisa dikubur oleh pergantian rezim, dan harapan akan pendidikan yang memanusiakan manusia harus tetap tegak berdiri—meski jembatan-jembatan masa lalu berusaha diruntuhkan.

Komentar

Postingan Populer