Tentang Kerendahan Hati
Prolog
Langit begitu luas, namun kita sering merasa paling tinggi menjulang,
Lupa pada bumi tempat berpijak, tempat segala sombong akhirnya pulang.
Rumi membawa pesan sunyi, sebuah teguran yang begitu tenang,
Tentang waktu yang berputar, dan raga yang kelak kan menghilang.
Ubie mengajakmu merenung sejenak, di balik narasi yang tak lekang oleh zaman.
Rumput di Bawah Kaki: Sebuah Tadzkirah tentang Kerendahan Hati
Dalam riuhnya ambisi dan gemerlap pencapaian, manusia seringkali terjebak dalam ilusi kebesaran diri. Kita merasa kuat, merasa abadi, dan merasa bahwa dunia berputar hanya demi kepentingan kita. Namun, sang penyair sufi agung, Jalaluddin Rumi, memberikan sebuah tamparan lembut namun telak melalui untaian katanya:
"Jangan menganggap dirimu besar. Hari ini rumput yang tumbuh di bawah kakimu, besok akan tumbuh di atas makammu."
Kalimat ini bukan sekadar puitis, melainkan sebuah analisis eksistensial yang sangat akurat tentang posisi manusia di semesta.
Hakikat Waktu dan Perputaran Nasib
Rumi menggunakan metafora rumput untuk menggambarkan siklus kehidupan. Hari ini, rumput adalah sesuatu yang kita injak, sesuatu yang kita anggap remeh di bawah telapak kaki kita. Kita merasa dominan atas alam. Namun, Rumi mengingatkan bahwa posisi itu hanya sementara.
Besok, ketika napas telah sampai pada titik terakhirnya, posisi itu akan berbalik. Tubuh yang dulu sombong berpijak, kini terbaring sunyi di bawah tanah. Dan rumput yang dulu diinjak, justru tumbuh subur di atas makam kita, menjadi saksi bisu bahwa alam akan terus berlanjut tanpa peduli seberapa besar kita pernah merasa.
Analisis Akurat: Mengapa Kita Harus Rendah Hati?
- Kefanaan Posisi: Jabatan, kekayaan, dan kekuatan adalah atribut luar yang bisa hilang dalam sekejap. Menganggap diri besar karena atribut tersebut adalah sebuah kesia-siaan.
- Ketergantungan Mutlak: Sebesar apa pun manusia, ia tetap bergantung pada elemen terkecil di bumi untuk bertahan hidup—air, udara, dan tumbuhan. Kita adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasanya.
- Warisan yang Sebenarnya: Jika pada akhirnya rumput akan tumbuh di atas makam kita, maka yang tersisa di dunia ini bukanlah raga kita yang "besar", melainkan jejak kebaikan dan kemanfaatan yang kita tinggalkan untuk sesama.
Relevansi di Era Modern
Pesan Rumi ini menjadi penawar racun bagi budaya narsisme yang kian subur di era digital. Kita sering merasa "besar" karena jumlah pengikut, pujian virtual, atau status sosial. Padahal, semua itu hanyalah riak kecil di samudra waktu.
Menganggap diri kecil bukan berarti merendahkan harga diri, melainkan mengakui kebesaran Sang Pencipta dan menghargai setiap makhluk hidup di sekitar kita. Ketika kita sadar bahwa kita akan kembali ke tanah, kita akan lebih bijak dalam melangkah, lebih lembut dalam bertutur, dan lebih tulus dalam berbagi.
Endgame
Sombong hanyalah jubah tipis yang kan koyak oleh waktu,
Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali menyatu dengan debu.
Rumput yang hari ini kau pijak, kelak akan menjadi selimut di tidur panjangmu.
Maka hiduplah dengan cinta, biarkan kerendahan hati menjadi cahayamu.
Sebab kebesaran sejati, hanya milik Dia yang menghidupkan dan mematikanmu.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar