Antara Kekurangan dan Kekuatan Terpendam


Prolog

Di setiap sudut sekolah, ada cerita yang berbeda kita temukan,

Antara dinding kusam dan semangat yang takkan terpadamkan.

Ada yang hanya melihat lubang, ada pula yang melihat peluang,

 Mari bersama menyelami dua lensa, yang menentukan arah pandang.

Mari kita bedah, antara fokus pada masalah atau pada harta karun yang terpendam.

​Dua Lensa Memandang Sekolah: Antara Kekurangan dan Kekuatan Terpendam

​Setiap hari, kita melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan berbagai ekspektasi dan tantangan. Namun, bagaimana kita memandang entitas pendidikan ini, seringkali menentukan hasil dan semangat kita dalam berkarya. Dalam konteks pengelolaan sumber daya, terdapat dua cara pandang fundamental yang saling bertolak belakang: Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach).

​Pendekatan, pada dasarnya, adalah cara berpikir kita dalam melihat sesuatu. Dalam modul ini, ini berarti bagaimana kita memandang sumber daya yang ada di sekolah—apakah sebagai deretan masalah yang menghambat, atau sebagai kumpulan aset dan potensi yang siap dikembangkan.

​Lensa Pertama: Memusatkan Diri pada Masalah (Deficit-Based Approach)

​Pendekatan berbasis kekurangan atau masalah ini secara harfiah akan memusatkan seluruh perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. Otak kita seolah secara otomatis mencari celah, lubang, dan hal-hal negatif.

  • ​Kita mengeluhkan banyak fasilitas sekolah yang tidak berfungsi baik.
  • ​Kita mengeluh buku ajar yang tidak lengkap.
  • ​Kita mengeluh sekolah yang tidak memiliki laboratorium yang memadai.

​Fokus pada kekurangan ini mendorong cara berpikir negatif. Energi kita terkuras habis untuk memikirkan bagaimana mengatasi semua kekurangan, atau apa saja yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi pribadi yang mudah merasa tidak nyaman, bahkan curiga terhadap situasi. Ironisnya, cara pandang ini dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang sebenarnya ada di sekitar kita, namun tersembunyi di balik tumpukan keluhan.

​Lensa Kedua: Menemukenali Hal Positif (Asset-Based Approach)

​Berbeda jauh dengan yang pertama, Pendekatan Berbasis Aset (Asset-Based Approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis untuk menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan, termasuk di lingkungan sekolah.

​Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada:

  • ​Apa yang sudah berjalan dengan baik.
  • ​Apa yang menjadi inspirasi dan memotivasi.
  • ​Apa yang menjadi kekuatan intrinsik sekolah atau komunitas.
  • ​Potensi-potensi positif yang bisa dikembangkan.

​Pendekatan ini menggeser fokus dari "apa yang salah" menjadi "apa yang benar dan bisa dioptimalkan". Ini membuka mata kita pada berbagai sumber daya, baik yang terlihat maupun tidak terlihat—seperti semangat gotong royong guru, kreativitas murid, dukungan orang tua, hingga lokasi sekolah yang strategis.

​Perbandingan Cara Pandang: Green & Haines (2010)

​Green & Haines (2010) secara jelas menggarisbawahi perbedaan kecenderungan cara pandang antara kedua pendekatan ini. (Asumsi: Tabel perbandingan akan disajikan di blog). Intinya, pendekatan berbasis kekurangan cenderung melihat masalah sebagai penghalang utama, sementara pendekatan berbasis aset melihat masalah sebagai tantangan yang bisa diatasi dengan memanfaatkan kekuatan yang sudah ada.

Endgame

Sekolah bukan hanya gedung, tapi ladang potensi yang tak terkira,

Tersembunyi di setiap sudut, menanti sentuhan dan indra.

Pilihlah lensa yang benar, antara keluhan atau peluang yang membara,

Sebab cara kita memandang, kan tentukan masa depan yang kita cipta.

Maka, mari ubah fokus, dari yang kurang menjadi yang berguna.

Abdulloh Aup



Komentar

Postingan Populer