Adab Digital

 



Adab Digital: Pelajaran yang Tidak Tertulis di Buku Paket

Membangun Etika Berkomunikasi dengan Guru melalui WhatsApp dan Media Sosial di Era Society 5.0

Oleh: Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia (Canvassador) | Guru Pejuang Digital | Penggerak Literasi


"Di sekolah, anak-anak belajar Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, bahkan Artificial Intelligence. Mereka belajar menyelesaikan soal, membuat presentasi digital, hingga memanfaatkan teknologi untuk mencari informasi. Namun, ada satu pelajaran yang sering kali luput diajarkan secara eksplisit, padahal dipraktikkan setiap hari: adab dalam berkomunikasi di ruang digital."

Era Society 5.0 telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, peserta didik kini dapat menghubungi gurunya melalui WhatsApp, Instagram, Telegram, email, maupun berbagai media sosial lainnya. Komunikasi menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan tanpa batas ruang maupun waktu.

Namun, di balik kemudahan tersebut, tersimpan sebuah pertanyaan yang patut kita renungkan bersama. Apakah kemajuan teknologi juga diikuti oleh kemajuan etika?

Tidak semua peserta didik menyadari bahwa setiap pesan yang mereka kirim bukan sekadar rangkaian huruf di layar ponsel. Di balik setiap kalimat yang ditulis, tersirat sikap, penghormatan, empati, bahkan karakter yang sedang mereka bangun. Cara menyapa guru, memilih kata, menghargai waktu, hingga mengakhiri percakapan dengan ucapan terima kasih sesungguhnya merupakan bagian dari pendidikan yang sering kali tidak tertulis dalam buku pelajaran.

Teknologi memang menghadirkan kemudahan. Akan tetapi, adablah yang menentukan apakah kemudahan itu menjadi sarana membangun hubungan yang bermartabat atau justru mengikis nilai-nilai kemanusiaan.

Di sinilah pendidikan memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menanamkan nilai, membangun karakter, dan membiasakan perilaku yang mencerminkan penghormatan kepada sesama. Ketika peserta didik belajar menyampaikan salam, memperkenalkan diri, meminta izin, menggunakan bahasa yang santun, serta mengakhiri percakapan dengan ucapan terima kasih dan permohonan maaf jika mengganggu waktu gurunya, sesungguhnya mereka sedang mempraktikkan pelajaran kehidupan yang jauh lebih berharga daripada sekadar menguasai teknologi.

Karena itu, etika berkomunikasi melalui WhatsApp dan media sosial bukan sekadar aturan sopan santun, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat MEMANUSIAKAN MANUSIA yang menempatkan karakter sebagai tujuan utama pendidikan yang menumbuhkan penghormatan, empati, dan kasih sayang dalam setiap interaksi.

Pada akhirnya, pendidikan tidak hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang berhasil dihafal peserta didik, melainkan dari bagaimana mereka memperlakukan orang lain. Sebab, seseorang mungkin dikenang karena kecerdasannya, tetapi ia akan dihormati karena akhlak dan adabnya.

"Tidak semua pelajaran tercetak di buku paket. Ada yang hanya dapat dipelajari melalui keteladanan, penghormatan, dan kebiasaan sederhana, seperti mengucapkan salam, meminta izin, serta mengakhiri pesan dengan ucapan terima kasih. Itulah pelajaran yang disebut adab, bekal yang akan tetap relevan meskipun zaman terus berubah." Abdulloh Aup : Guru yang Biasa Saja



Komentar

Postingan Populer