GARIS TIPIS SIGNIFIKANSI DENGAN KONTIBUSI
JANGAN TERLALU SIBUK MENJADI SIGNIFIKAN
Sebab tidak semua yang penting bagi orang lain harus menjadi ukuran nilai bagi diri sendiri.
Ada garis yang sangat tipis antara kontribusi dan signifikansi.
Sekilas keduanya terdengar sama.
Sama-sama tentang melakukan sesuatu.
Sama-sama tentang memberi.
Sama-sama tentang meninggalkan jejak.
Tetapi semakin dipikirkan, keduanya ternyata bisa membawa manusia ke arah yang sangat berbeda.
Kontribusi bertanya:
“Apa yang bisa aku lakukan?”
Sementara signifikansi sering bertanya:
“Apakah orang lain menganggap apa yang kulakukan itu penting?”
Dan di situlah, diam-diam, banyak manusia mulai kelelahan.
Karena kita tidak lagi sibuk melakukan sesuatu yang bermakna.
Kita mulai sibuk memastikan bahwa orang lain melihat kita sedang melakukan sesuatu yang bermakna.
KONTRIBUSI TIDAK SELALU TERLIHAT
Seorang guru datang ke sekolah.
Mengajar tiga puluh anak.
Menjelaskan sesuatu yang mungkin hari ini belum mereka pahami.
Besok mengulanginya lagi.
Lusa mengulanginya lagi.
Tidak ada kamera.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sertifikat.
Tidak ada unggahan yang menjadi viral.
Tetapi mungkin, dua puluh tahun kemudian, salah satu anak itu mengingat satu kalimat sederhana dari gurunya.
Dan kalimat itu mengubah hidupnya.
Apakah guru itu tahu?
Belum tentu.
Apakah orang lain melihat?
Belum tentu.
Apakah kontribusinya kecil?
Belum tentu juga.
Karena kontribusi tidak selalu membutuhkan penonton.
Kadang ia bekerja seperti akar.
Tidak terlihat.
Tidak dipuji.
Tidak disebut.
Tetapi diam-diam menopang sesuatu agar tetap berdiri.
MASALAH DIMULAI KETIKA KITA TERLALU INGIN TERLIHAT PENTING
Manusia punya kebutuhan untuk diakui.
Itu wajar.
Kita ingin dihargai.
Ingin didengar.
Ingin keberadaan kita dianggap berarti.
Tetapi ada titik ketika kebutuhan untuk dianggap penting mulai mengalahkan keinginan untuk benar-benar memberi manfaat.
Di titik itu, kita mulai berubah.
Kita tidak bertanya lagi:
“Apa yang dibutuhkan?”
Kita mulai bertanya:
“Apakah namaku akan disebut?”
Kita tidak lagi berpikir:
“Bagaimana pekerjaan ini bisa selesai?”
Kita mulai berpikir:
“Siapa yang akan mendapat kredit?”
Kita tidak lagi ingin sekadar membantu.
Kita ingin diketahui sebagai orang yang membantu.
Dan tanpa sadar, kita mulai mengukur nilai kontribusi berdasarkan seberapa besar perhatian yang kita terima.
Padahal keduanya tidak selalu sama.
Yang viral belum tentu paling bermanfaat.
Yang dipuji belum tentu paling berjasa.
Yang namanya paling sering disebut belum tentu paling banyak bekerja.
Dan yang bekerja dalam diam...
belum tentu tidak berarti.
KONTRIBUSI ADALAH APA YANG KITA BERIKAN.
SIGNIFIKANSI SERING KALI ADALAH APA YANG ORANG LAIN CERITAKAN TENTANG KITA.
Kontribusi berada di tangan kita.
Signifikansi sering kali berada di tangan orang lain.
Kita bisa memilih untuk bekerja dengan baik.
Tetapi kita tidak bisa memaksa orang untuk menganggap pekerjaan kita penting.
Kita bisa membantu seseorang.
Tetapi kita tidak bisa memaksa mereka untuk selalu mengingatnya.
Kita bisa melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Tetapi kita tidak bisa mengendalikan apakah dunia akan memberikan tepuk tangan atau tidak.
Dan mungkin...
di sinilah banyak manusia salah memilih medan perjuangan.
Mereka terlalu sibuk mengejar sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa mereka kendalikan.
Mengejar pengakuan.
Mengejar popularitas.
Mengejar posisi.
Mengejar status.
Mengejar validasi.
Padahal ada sesuatu yang jauh lebih sederhana:
Lakukan bagianmu.
Karena kontribusi adalah wilayah kerja.
Sedangkan pengakuan adalah wilayah yang tidak selalu bisa kita atur.
PUISI: AKAR YANG TIDAK PERNAH DIPUJI
Aku tidak selalu ingin menjadi pohon yang paling tinggi.
Kadang aku hanya ingin menjadi akar.
Tidak terlihat.
Tidak disebut.
Tidak difoto ketika musim tiba.
Tetapi diam-diam menjaga tanah agar tidak runtuh.
Biarlah daun mendapat pujian karena hijau.
Biarlah bunga dipetik karena indah.
Biarlah buah menjadi alasan orang datang.
Aku tidak keberatan tinggal di bawah.
Sebab aku tahu,
tidak semua yang penting harus terlihat.
Dan tidak semua yang memberi kehidupan
harus mendapatkan tepuk tangan.
SIGNIFIKANSI BISA MENJADI PERANGKAP
Tidak ada yang salah dengan menjadi signifikan.
Tidak ada yang salah ketika karya kita dikenal.
Tidak ada yang salah ketika kontribusi kita dihargai.
Yang berbahaya adalah ketika signifikansi menjadi tujuan utama.
Karena sejak saat itu, kita mulai mudah kehilangan arah.
Kita mulai memilih pekerjaan yang terlihat besar daripada pekerjaan yang benar-benar dibutuhkan.
Kita mulai lebih suka panggung daripada proses.
Lebih suka disebut daripada bekerja.
Lebih suka terlihat sibuk daripada benar-benar berguna.
Kita bahkan bisa mulai melakukan kebaikan bukan karena orang lain membutuhkan...
tetapi karena kita membutuhkan pengakuan sebagai orang baik.
Dan itu melelahkan.
Sebab hidup yang dibangun dari pengakuan orang lain akan selalu berada dalam kecemasan.
Hari ini dipuji.
Besok dilupakan.
Hari ini dianggap penting.
Besok digantikan.
Hari ini namamu disebut.
Besok orang lain yang mendapatkan panggung.
Kalau seluruh nilai diri kita bergantung pada perhatian manusia...
maka kita akan selalu ketakutan ketika perhatian itu berpindah.
ORANG YANG BERKONTRIBUSI TIDAK SELALU TERKENAL.
ORANG YANG TERKENAL TIDAK SELALU BERKONTRIBUSI.
Kalimat ini mungkin sederhana.
Tetapi sulit diterima di zaman ketika hampir semua hal memiliki panggung.
Hari ini, melakukan sesuatu saja kadang belum cukup.
Harus difoto.
Harus direkam.
Harus diunggah.
Harus diketahui.
Harus mendapatkan respons.
Harus mendapatkan angka.
Dan akhirnya, manusia modern menghadapi penyakit baru:
Takut melakukan sesuatu yang baik jika tidak ada yang melihat.
Padahal sejarah manusia tidak hanya dibangun oleh nama-nama besar.
Ada banyak orang yang tidak pernah masuk buku sejarah.
Tetapi tanpa mereka, sejarah mungkin tidak akan pernah terjadi.
Ada ibu yang tidak pernah mendapat penghargaan.
Ada guru yang tidak pernah menjadi tokoh nasional.
Ada petugas kebersihan yang namanya tidak pernah disebut.
Ada orang tua yang mengorbankan hidupnya agar anaknya bisa sekolah.
Ada seseorang yang menolong kita pada saat paling sulit, lalu pergi tanpa meminta apa-apa.
Mereka mungkin tidak signifikan di mata dunia.
Tetapi sangat signifikan dalam kehidupan seseorang.
Dan mungkin itulah bentuk signifikansi yang paling jujur.
KITA TERLALU SERING MENUNGGU DUNIA MEMBERI NILAI
Padahal ada pekerjaan-pekerjaan yang nilainya tidak bisa dihitung dengan tepuk tangan.
Menjadi guru yang sabar.
Menjadi ayah yang hadir.
Menjadi ibu yang mendidik.
Menjadi teman yang setia.
Menjadi pemimpin yang adil.
Menjadi bawahan yang tetap jujur meskipun tidak diawasi.
Menjadi manusia yang tidak berubah hanya karena tidak ada yang melihat.
Mungkin tidak semuanya akan membuat kita terkenal.
Tetapi apakah semuanya tidak berarti?
Justru mungkin di situlah kehidupan menemukan maknanya.
Karena dunia ini tidak hanya membutuhkan orang-orang besar.
Dunia juga membutuhkan orang-orang yang setia melakukan hal kecil dengan sungguh-sungguh.
JADI, MANA YANG LEBIH PENTING?
Kontribusi atau signifikansi?
Mungkin kita tidak harus memusuhi salah satunya.
Kontribusilah sebaik mungkin.
Dan jika suatu hari dunia menganggapnya signifikan, bersyukurlah.
Tetapi jangan bekerja hanya agar dianggap signifikan.
Karena ketika kontribusi menjadi tulus, signifikansi kadang datang sebagai akibat.
Bukan sebagai tujuan.
Seperti pohon yang tidak tumbuh untuk dipuji.
Ia hanya menjalankan tugasnya.
Menyerap.
Bertumbuh.
Berakar.
Memberi teduh.
Dan suatu hari, seseorang datang lalu berkata:
“Untung ada pohon ini.”
Pohon itu tidak pernah meminta kalimat tersebut.
Tetapi keberadaannya tetap berarti.
PADA AKHIRNYA...
Mungkin kita tidak harus menjadi orang paling terkenal di ruangan.
Tidak harus menjadi nama paling besar.
Tidak harus selalu disebut dalam setiap keberhasilan.
Tidak harus selalu menjadi pusat cerita.
Ada ketenangan yang luar biasa ketika seseorang akhirnya mampu berkata:
“Aku tidak harus terlihat penting untuk melakukan sesuatu yang penting.”
Karena kontribusi adalah tentang apa yang kita berikan.
Sedangkan signifikansi sering kali adalah tentang bagaimana orang lain menilai apa yang kita berikan.
Yang pertama bisa kita kerjakan.
Yang kedua tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.
Maka jangan habiskan hidup mengejar penilaian.
Habiskan energi untuk memberi sesuatu yang benar-benar bernilai.
Sebab mungkin...
tugas kita bukan memastikan dunia selalu mengingat nama kita.
Tugas kita adalah memastikan, selama kita pernah hadir, ada sesuatu yang menjadi lebih baik.
Dan jika tidak ada yang bertepuk tangan?
Tidak apa-apa.
Jika tidak ada yang menyebut nama?
Tidak apa-apa.
Jika dunia tidak menganggapnya besar?
Juga tidak apa-apa.
Karena tidak semua kontribusi harus menjadi headline.
Tidak semua kebaikan harus menjadi konten.
Dan tidak semua kehidupan harus menjadi terkenal untuk menjadi berarti.
Jangan terlalu sibuk menjadi signifikan di mata manusia.
Cukuplah pastikan kehadiranmu menjadi kontribusi bagi kehidupan.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar
Posting Komentar