Era Post-Truth

 


Prolog

Di tengah badai informasi yang tak berkasta, kebenaran seringkali menjadi kepingan yang langka.

Dunia riuh oleh suara, namun sunyi akan makna yang benar-benar nyata.

Kita dipaksa berdiri di persimpangan, antara fakta yang murni atau ilusi yang sengaja dicipta.

Coba mengajakmu masuk ke dalam sebuah ruang hening, sebuah navigasi di tengah kekacauan dunia,

Menemukan kembali jati diri sebagai 'Homo Sapiens' yang bijaksana.

​Navigasi di Era Post-Truth: Menemukan Ruang Metakognisi dalam Diri

​Kita sedang hidup di era post-truth, sebuah masa di mana ledakan informasi terjadi setiap detik. Siapa pun bisa menjadi sumber berita, namun tidak semua membawa kebenaran. Di era ini, batas antara fakta dan opini menjadi kabur, membuat kita seringkali tersesat dalam labirin ambiguitas.

​Untuk bertahan, kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton pasif. Kita harus berdaya, berperan sebagai pencari fakta, dan yang terpenting: mengkalibrasi ulang ukuran kebenaran di dalam diri kita. Kita harus kembali menjadi manusia yang bijaksana, sebagaimana diisyaratkan oleh nama latin spesies kita: Homo sapiens.

​Mengenal Ruang Metakognisi

​Sebagai guru atau orang tua, tugas kita bukan hanya memberikan jawaban, tetapi membantu diri sendiri dan anak-anak kita membangun sebuah ruang internal. Ruang ini adalah benteng pertahanan dari kebisingan, ketidakpastian, dan perubahan cepat dunia.

​Ruang itu bernama "Metakognisi".

​Secara sederhana, metakognisi adalah "obrolan" dengan benak kita sendiri. Ini adalah momen saat kita mulai mempertanyakan apa yang sedang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan. Metakognisi adalah suara lirih di kepala yang bertanya:

  • "Kok saya tersinggung ya dengan perkataannya?"
  • "Apa sebenarnya motivasi saya melakukan ini?"
  • "Duh, seharusnya itu tidak saya lakukan tadi."

​Dua Pilar Metakognisi

​Metakognisi bukan sekadar melamun, ia terdiri dari dua bagian tindakan yang tegas:

  1. Memahami Cara Kerja Pikiran: Menyadari pola pikir kita sendiri, memahami emosi yang muncul, dan mengenali prasangka yang mungkin kita miliki.
  2. Mengambil Tindakan Korektif: Memiliki kemampuan untuk berhenti sekejap, mundur selangkah untuk mengevaluasi situasi, lalu mengubah arah saat menyadari ada yang tidak sesuai.

​Seseorang dengan metakognisi yang baik tidak bertindak secara impulsif. Mereka mampu menimbang, menentukan keputusan yang paling bajik, barulah kemudian maju mengambil tindakan yang bijak.

​Melatih Otot Kebijaksanaan

​Hal ini memang tidak mudah, namun kabar baiknya: ia dapat dilatih. Salah satu cara terbaik untuk siswa atau anak-anak kita adalah dengan membiasakan mereka menelaah proses belajar mereka sendiri secara sengaja.

  • ​Ajak mereka merencanakan apa yang akan dipelajari.
  • ​Pantau bagaimana performa mereka saat proses berjalan.
  • ​Evaluasi hasil yang diperoleh dengan bertanya, "Apa yang bisa saya perbaiki lain kali?"

​Dengan melatih metakognisi, kita sedang mendidik hati nurani dan mempertajam mata batin. Kita sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga tangguh dan bijaksana dalam merespons kompleksitas dunia.

Endgame

Kebenaran bukan dicari di luar sana, tapi ditemukan dalam kejernihan batin yang tertata.

Metakognisi adalah kompas saat dunia kehilangan arah dan kata.

Mari kita bangun ruang jeda, tempat obrolan dengan jiwa menemukan muara.

Jadilah bijak, jadilah manusia yang benar-benar mendengarkan suara hatinya.

Sebab di dalam kesadaran diri, tersimpan kekuatan untuk mengubah dunia.

Abdulloh Aup

Komentar

  1. Betul itu. Hati nurani adalah filter sejati dalam setiap keputusan dan langkah yang akan kita pilih

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer