DILAMAR MALAIKAT MAUT
AKAN TIBA MASANYA KITA DILAMAR MALAIKAT MAUT
Dinikahi kematian, lalu bercerai dengan dunia yang selama ini kita kejar
Ada satu hari yang sering kita hindari untuk dibicarakan.
Bukan karena hari itu tidak pasti.
Justru karena terlalu pasti.
Kita hanya tidak tahu kapan ia datang.
Hari ketika rumah yang kita bangun tidak lagi menjadi milik kita.
Mobil yang kita banggakan berhenti mengantar kita.
Jabatan yang kita perjuangkan berpindah kepada orang lain.
Uang yang kita kumpulkan begitu lama tidak ikut masuk ke dalam liang lahat.
Dan orang-orang yang selama ini memanggil nama kita…
akan berdiri di sisi makam.
Lalu perlahan pulang.
Sementara kita tinggal.
Sendirian.
AKAN TIBA MASANYA…
Akan tiba masa ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk berkata:
"Nanti saja."
Nanti saya bertobat.
Nanti saya memperbaiki salat.
Nanti saya meminta maaf.
Nanti saya lebih banyak bersama keluarga.
Nanti saya membaca Al-Qur'an.
Nanti saya berhenti mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah membuat hati saya tenang.
Kita terlalu sering menggunakan kata "nanti", seolah-olah umur adalah milik kita.
Padahal Allah mengingatkan:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
— QS. Ali 'Imran: 185
Bukan mungkin.
Bukan kalau.
Tetapi akan.
MALAIKAT MAUT TIDAK PERNAH SALAH ALAMAT
Kita boleh berpindah rumah.
Mengganti nomor telepon.
Menghindari orang.
Mengubah identitas di dunia maya.
Bahkan bersembunyi di tempat yang paling jauh.
Tetapi ketika waktunya tiba, tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kematian.
Allah berfirman:
“Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh.”
— QS. An-Nisa': 78
Betapa mengerikannya.
Kita bisa salah alamat ketika mengirim paket.
Tetapi kematian tidak pernah salah alamat.
Ia tahu persis siapa yang harus dijemput.
Ia tahu rumahnya.
Ia tahu waktunya.
Dan ia tidak pernah terlambat.
KITA SEBENARNYA SEDANG MENUNGGU TAMU
Menariknya, sepanjang hidup kita sibuk mempersiapkan kedatangan banyak hal.
Kita mempersiapkan pernikahan.
Mempersiapkan rumah.
Mempersiapkan sekolah anak.
Mempersiapkan pensiun.
Mempersiapkan investasi.
Mempersiapkan masa depan.
Tetapi sering lupa mempersiapkan kepulangan.
Padahal Rasulullah ï·º mengajarkan agar kita banyak mengingat sesuatu yang memutus kenikmatan dunia, yaitu kematian.
Kematian adalah tamu yang tidak bisa kita tolak ketika waktunya tiba.
Dan mungkin selama ini kita terlalu sibuk menata ruang tamu dunia, tetapi lupa membersihkan rumah terakhir kita.
KITA MENGEJAR DUNIA, PADAHAL DUNIA TIDAK PERNAH BERJANJI UNTUK TINGGAL
Kita mengejar uang.
Setelah mendapatkannya, kita mengejar lebih banyak.
Kita mengejar jabatan.
Setelah mendapatkannya, kita takut kehilangannya.
Kita mengejar popularitas.
Setelah dikenal, kita takut dilupakan.
Kita mengejar pengakuan.
Setelah dipuji, kita takut tidak lagi dipuji.
Begitulah manusia.
Mengejar sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggalkan.
Allah berfirman:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…”
— QS. Al-Hadid: 20
Dunia bukan berarti harus dibenci.
Dunia bukan berarti kita tidak boleh kaya.
Bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, cita-cita, atau kesuksesan.
Masalahnya bukan pada memiliki dunia.
Masalahnya adalah ketika dunia memiliki kita.
Ketika dunia menjadi tujuan terakhir.
SUATU HARI, KITA AKAN BERCERAI DENGAN DUNIA
Ada sebuah perceraian yang pasti terjadi.
Tidak peduli seberapa romantis hubungan kita dengan dunia.
Tidak peduli berapa banyak harta yang sudah kita kumpulkan.
Tidak peduli seberapa tinggi nama kita dikenal.
Pada akhirnya…
kita akan berpisah.
Kita meninggalkan rumah.
Meninggalkan pekerjaan.
Meninggalkan rekening.
Meninggalkan kendaraan.
Meninggalkan jabatan.
Meninggalkan akun media sosial.
Meninggalkan foto-foto.
Meninggalkan orang-orang yang kita cintai.
Dan dunia akan tetap berjalan.
Matahari tetap terbit.
Pasar tetap ramai.
Orang-orang tetap bekerja.
Media sosial tetap bergulir.
Anak-anak tetap tumbuh.
Seolah-olah kita tidak pernah ada.
Dan mungkin di situlah kita baru sadar:
ternyata dunia tidak pernah benar-benar membutuhkan kita untuk berhenti.
LALU APA YANG KITA BAWA?
Bukan rumah.
Bukan sertifikat tanah.
Bukan gelar.
Bukan jabatan.
Bukan jumlah pengikut.
Bukan jumlah likes.
Bukan mobil.
Bukan pakaian mahal.
Bukan pujian manusia.
Yang kita bawa adalah apa yang pernah kita lakukan.
Tentang salat yang kita jaga.
Tentang sedekah yang kita sembunyikan.
Tentang ilmu yang kita bagikan.
Tentang orang yang pernah kita bantu.
Tentang hati yang pernah kita bahagiakan.
Tentang kesalahan yang kita sesali.
Tentang dosa yang kita tinggalkan.
Tentang amal yang mungkin tidak pernah diketahui siapa-siapa, tetapi diketahui Allah.
DUNIA BOLEH DI TANGAN, JANGAN SAMPAI DI HATI
Mungkin inilah keseimbangan yang sering kita lupakan.
Kita tidak diperintahkan untuk menjadi miskin agar dekat dengan Allah.
Kita tidak diperintahkan meninggalkan dunia.
Tetapi kita diajarkan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir.
Bekerjalah.
Bangunlah rumah.
Rawatlah keluarga.
Belajarlah.
Berusahalah.
Jadilah profesional.
Boleh punya cita-cita besar.
Boleh menjadi orang sukses.
Tetapi setiap kali mendapatkan sesuatu, tanyakan:
“Apakah ini mendekatkanku kepada Allah atau justru membuatku lupa kepada-Nya?”
Karena yang berbahaya bukan memiliki dunia.
Yang berbahaya adalah ketika kita kehilangan akhirat karena terlalu sibuk memilikinya.
KETIKA MALAIKAT MAUT DATANG
Bayangkan…
Suatu hari kita sedang duduk.
Mungkin sedang bekerja.
Mungkin sedang makan.
Mungkin sedang tertawa.
Mungkin sedang menggulir layar ponsel.
Mungkin sedang membuat rencana untuk esok pagi.
Lalu…
tidak ada lagi esok pagi.
Telepon masih menyala.
Pesan belum sempat dibalas.
Pekerjaan belum selesai.
Rencana belum terlaksana.
Anak masih ingin bercerita.
Orang tua masih ingin bertemu.
Seseorang mungkin masih menunggu permintaan maaf kita.
Tetapi waktu berkata:
cukup.
Di situlah kita memahami bahwa kematian tidak menunggu hidup kita menjadi sempurna.
Ia datang ketika waktunya tiba.
SEBELUM UNDANGAN ITU DATANG
Mungkin karena itulah mengingat kematian bukan untuk membuat kita takut menjalani kehidupan.
Justru sebaliknya.
Agar kita tidak salah menjalani kehidupan.
Mengingat kematian membuat kita lebih menghargai waktu.
Lebih lembut kepada orang tua.
Lebih sabar kepada pasangan.
Lebih menyayangi anak.
Lebih hati-hati mencari rezeki.
Lebih mudah meminta maaf.
Lebih cepat memaafkan.
Lebih serius beribadah.
Dan lebih sadar bahwa setiap hari yang kita jalani sebenarnya adalah satu hari yang berkurang dari umur kita.
PUISI — “UNDANGAN TERAKHIR”
Suatu hari
akan datang sebuah undangan
yang tidak bisa kita tolak.
Bukan undangan pernikahan,
bukan undangan peresmian,
bukan undangan menuju pesta.
Ia datang tanpa dekorasi,
tanpa musik,
tanpa keramaian.
Hanya sunyi.
Namamu tertulis di sana.
Dan engkau tahu,
inilah perjalanan
yang tidak bisa diwakilkan.
Maka sebelum hari itu,
jangan terlalu sibuk
menghias rumah yang akan ditinggalkan.
Hiaslah hati
yang akan menghadap Tuhan.
Jangan terlalu takut
kehilangan apa yang ada di dunia.
Sebab semuanya memang
akan hilang.
Takutlah jika ketika dunia pergi,
ternyata kita juga
tidak membawa bekal
untuk pulang.
KITA TIDAK TAHU KAPAN CERITA INI BERAKHIR
Mungkin besok.
Mungkin sepuluh tahun lagi.
Mungkin puluhan tahun lagi.
Kita tidak tahu.
Dan justru karena tidak tahu itulah kita harus bersiap.
Bukan dengan ketakutan yang membuat kita berhenti hidup.
Tetapi dengan kesadaran yang membuat kita lebih benar dalam hidup.
Sebab kematian bukan lawan dari kehidupan.
Kematian adalah pengingat bahwa kehidupan memiliki batas.
Dan karena memiliki batas, setiap detiknya menjadi berharga.
PENUTUP
Akan tiba masa ketika kita dilamar oleh malaikat maut.
Kita tidak bisa meminta waktu untuk berdandan.
Tidak bisa meminta satu hari tambahan.
Tidak bisa meminta menyelesaikan satu pekerjaan.
Tidak bisa meminta pulang sebentar.
Tidak bisa meminta mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang.
Kita hanya bisa pergi.
Dan dunia yang selama ini kita kejar…
akan kita tinggalkan.
Maka mungkin pertanyaan terbesar dalam hidup bukan:
“Seberapa banyak yang berhasil saya miliki?”
Tetapi:
“Ketika semuanya harus saya tinggalkan, apa yang pantas saya bawa pulang?”
Karena pada akhirnya…
kita semua akan bercerai dengan dunia.
Yang membedakan kita bukan apakah kita akan pergi.
Tetapi dengan bekal apa kita pergi.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia yang pasti kita tinggalkan, sampai lupa mempersiapkan akhirat yang akan menjadi tempat kita menetap.”
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar
Posting Komentar