76,5 Juta Rupiah per bulan

 


NEGARA MEMBAYAR MAHAL YANG RAHASIA, TETAPI MURAH YANG NYATA

Tentang harga sebuah nasihat, martabat guru, dan cara negara menghitung masa depan

Ada angka yang belakangan membuat saya berhenti cukup lama.

Rp76,5 juta per bulan.

Itulah besaran hak keuangan Ketua dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) berdasarkan Perpres Nomor 15 Tahun 2026. Aturan tersebut juga mengatur berbagai fasilitas yang disetarakan dengan fasilitas menteri.

Di sisi lain, kita mengenal cerita yang jauh lebih sunyi:

guru honorer yang menerima Rp300 ribu sebulan.

Tentu, Rp300 ribu bukanlah standar honor seluruh guru honorer. Besarannya berbeda-beda menurut daerah, sekolah, status kepegawaian, dan sumber pembiayaan.

Tetapi angka itu cukup menjadi metafora untuk sebuah persoalan yang lebih besar:

Mengapa pekerjaan yang membentuk manusia sering kali dihargai begitu murah?

Saya tidak sedang ingin mempertentangkan guru dengan Wantimpres.

Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa seorang penasihat Presiden tidak penting.

Justru sebaliknya.

Presiden membutuhkan nasihat dan pertimbangan dalam menjalankan pemerintahan. Fungsi tersebut memiliki tanggung jawab strategis.

Pertanyaan saya bukan:

“Mengapa Wantimpres digaji mahal?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Mengapa kita begitu mudah menganggap mahal pekerjaan yang hasilnya tidak langsung terlihat, tetapi begitu sulit menghargai pekerjaan yang hasilnya sedang kita nikmati setiap hari?”

Dan di situlah persoalan pendidikan sebenarnya bermula.


SATU ORANG DAN RATUSAN ANAK

Bayangkan dua ruang.

Di ruang pertama, seorang penasihat memberikan pertimbangan kepada Presiden.

Keputusan yang lahir dari sebuah nasihat dapat berdampak luas kepada negara. Karena itu, pekerjaan tersebut tentu memiliki tanggung jawab besar.

Tetapi proses pertimbangannya bersifat tertutup. Informasi mengenai nasihat dan pertimbangan Wantimpres bukan sesuatu yang seluruhnya dapat diketahui publik.

Di ruang kedua, ada seorang guru.

Pagi-pagi ia masuk kelas.

Di depannya bukan satu orang.

Melainkan puluhan.

Hari berikutnya puluhan lagi.

Dalam satu tahun, bisa ratusan wajah yang ditemuinya.

Ia bukan hanya mengajarkan IPA, matematika, bahasa, atau sejarah.

Ia mengajarkan cara bertanya.

Cara berpikir.

Cara menghargai orang lain.

Cara gagal tanpa menyerah.

Cara membaca dunia.

Cara menyelesaikan konflik.

Cara percaya kepada diri sendiri.

Dan tanpa pernah membuat konferensi pers, tanpa pernah masuk berita utama, tanpa pernah memperoleh fasilitas setingkat pejabat negara, guru itu setiap hari sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih panjang:

mempersiapkan manusia yang suatu hari akan mengisi negara.

Muridnya kelak mungkin menjadi dokter.

Guru.

Insinyur.

Pengusaha.

Birokrat.

Petani.

Politisi.

Hakim.

Tentara.

Bahkan mungkin suatu hari menjadi Presiden.

Menariknya, sebelum seseorang menjadi pejabat yang membutuhkan penasihat, ia terlebih dahulu pernah menjadi murid yang membutuhkan guru.


NEGARA SERING MENGHITUNG HARI, BUKAN GENERASI

Inilah paradoks yang membuat saya gelisah sebagai seorang pendidik.

Kita hidup dalam sistem yang sangat pandai menghitung anggaran.

Berapa biaya sebuah program?

Berapa honor seorang pejabat?

Berapa tunjangan?

Berapa fasilitas?

Berapa rupiah yang harus dibayarkan negara?

Tetapi kita sering kesulitan menghitung sesuatu yang jauh lebih penting:

berapa harga sebuah masa depan?

Sebab dampak pendidikan tidak selalu muncul dalam satu tahun anggaran.

Guru hari ini mengajar anak kelas VII.

Dampaknya mungkin baru terlihat dua puluh tahun kemudian.

Guru hari ini mengajarkan kejujuran.

Mungkin manfaatnya baru terasa ketika muridnya menjadi pejabat.

Guru hari ini mengajarkan berpikir kritis.

Mungkin manfaatnya baru terlihat ketika muridnya menjadi pengambil kebijakan.

Guru hari ini mengajarkan empati.

Mungkin manfaatnya baru terasa ketika muridnya menjadi pemimpin yang memiliki kekuasaan.

Dengan kata lain:

pendidikan bekerja dengan logika jangka panjang.

Sementara birokrasi sering bekerja dengan logika jangka pendek.

Anggaran harus terserap tahun ini.

Program harus selesai tahun ini.

Laporan harus selesai tahun ini.

Padahal manusia tidak tumbuh berdasarkan kalender anggaran.


YANG TIDAK TERLIHAT BUKAN BERARTI TIDAK BERNILAI

Di sinilah kita perlu membongkar cara berpikir kita tentang nilai.

Ada pekerjaan yang hasilnya langsung terlihat.

Jalan dibangun, kita melihat jalan.

Gedung dibangun, kita melihat gedung.

Jembatan selesai, kita bisa melewatinya.

Tetapi ada pekerjaan yang hasilnya tidak langsung terlihat.

Pendidikan termasuk di dalamnya.

Guru menanam sesuatu yang mungkin baru tumbuh puluhan tahun kemudian.

Ia menanam karakter.

Ia menanam rasa ingin tahu.

Ia menanam keberanian.

Ia menanam kemampuan berpikir.

Ia menanam kebiasaan membaca.

Ia menanam kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat.

Tidak ada kamera yang merekam seluruh proses itu.

Tidak ada laporan yang mampu menangkap seluruh dampaknya.

Tidak ada angka yang benar-benar mampu menghitung berapa banyak kehidupan yang berubah karena satu guru pernah berkata:

“Saya percaya kamu bisa.”

Maka ketika kita mengatakan bahwa pekerjaan guru “hanya mengajar”, sesungguhnya kita sedang gagal memahami apa itu pendidikan.

Mengajar bukan sekadar pekerjaan memindahkan pengetahuan.

Mengajar adalah pekerjaan memengaruhi kemungkinan masa depan seseorang.


GURU TIDAK SEKADAR MENGAJAR ANAK, GURU SEDANG MEMBENTUK NEGARA

Ada kesalahan cara pandang yang menurut saya perlu dikoreksi.

Kita sering membicarakan pendidikan sebagai sektor.

Padahal pendidikan bukan sekadar sektor.

Pendidikan adalah infrastruktur manusia.

Jalan menghubungkan tempat.

Internet menghubungkan informasi.

Transportasi menghubungkan manusia.

Tetapi pendidikan menghubungkan manusia dengan kemungkinan masa depannya.

Karena itu, ketika kualitas guru meningkat, sebenarnya negara sedang meningkatkan kualitas manusia.

Ketika kesejahteraan guru meningkat, negara bukan sekadar “memberi uang kepada guru”.

Negara sedang menciptakan kondisi agar guru dapat bekerja dengan lebih bermartabat.

Ketika guru diberi ruang untuk berkembang, negara sedang berinvestasi pada kualitas generasi berikutnya.

Maka pertanyaan tentang gaji guru seharusnya tidak berhenti pada:

“Berapa yang mampu dibayar negara?”

Tetapi harus naik menjadi:

“Berapa nilai manusia yang sedang kita bangun melalui pekerjaan guru?”


SAYA TIDAK IRI KEPADA WANTIMPRES

Saya kira kita perlu berhenti sejenak dari logika iri.

Bukan:

“Kalau mereka dapat Rp76,5 juta, kenapa guru tidak?”

Bukan itu.

Karena membangun keadilan dengan cara mempertentangkan sesama pekerja negara justru membuat kita kehilangan persoalan utama.

Yang harus kita pertanyakan adalah arsitektur penghargaan negara.

Apakah remunerasi kita sudah mencerminkan nilai strategis sebuah pekerjaan?

Apakah pekerjaan yang menentukan masa depan manusia memperoleh perhatian yang sebanding?

Apakah negara mampu membedakan antara pekerjaan yang menghasilkan output dan pekerjaan yang menghasilkan transformasi?

Sebab keduanya berbeda.

Seorang pejabat dapat menyelesaikan rapat hari ini.

Seorang guru mungkin baru melihat hasil pekerjaannya dua puluh tahun kemudian.

Seorang pejabat dapat menghasilkan sebuah rekomendasi.

Seorang guru menghasilkan manusia yang kelak membuat keputusan.

Keduanya penting.

Tetapi pendidikan memiliki satu karakter unik:

hasilnya diwariskan lintas generasi.


RAHASIA DAN NYATA

Ada sesuatu yang menarik dari dua dunia ini.

Nasihat kepada Presiden dapat bersifat rahasia.

Sementara pekerjaan guru berlangsung di depan mata.

Kita melihat guru masuk kelas.

Kita melihat guru memeriksa tugas.

Kita melihat guru berdiri berjam-jam.

Kita melihat guru menegur murid.

Kita melihat guru mendampingi anak yang kesulitan.

Kita melihat guru tersenyum ketika muridnya berhasil.

Tetapi justru karena terlalu sering melihatnya, kita mungkin menjadi terbiasa.

Dan sesuatu yang sudah terlalu biasa sering kehilangan nilai di mata manusia.

Padahal di balik rutinitas itu terdapat pekerjaan yang sangat tidak biasa:

membentuk manusia.

Maka barangkali problem kita bukan semata-mata tentang besar kecilnya gaji.

Problem kita adalah cara negara dan masyarakat memahami nilai.

Kita terlalu mudah memberi harga kepada sesuatu yang bisa dihitung.

Tetapi terlalu sulit memberi penghargaan kepada sesuatu yang dampaknya baru terlihat setelah generasi berganti.


KALAU GURU ADALAH INVESTASI, MENGAPA MASIH DIANGGAP BIAYA?

Ini pertanyaan yang menurut saya layak dibawa ke ruang kebijakan.

Apakah guru masih kita lihat sebagai biaya?

Ataukah guru sudah kita lihat sebagai investasi strategis negara?

Jika guru hanya dianggap sebagai komponen belanja, maka gaji akan selalu dilihat sebagai beban.

Tetapi jika guru dipandang sebagai human capital builder, maka kesejahteraan guru adalah investasi.

Seorang guru yang hidup dengan tenang akan memiliki ruang lebih besar untuk merancang pembelajaran.

Guru yang dihargai akan lebih mungkin terus belajar.

Guru yang memiliki kepastian hidup akan memiliki energi untuk melakukan inovasi.

Guru yang tidak terus-menerus cemas tentang kebutuhan dasar akan memiliki kesempatan lebih besar untuk memikirkan kebutuhan murid.

Karena itu, meningkatkan kesejahteraan guru bukanlah tindakan belas kasihan.

Itu kebijakan pembangunan manusia.


NEGARA JANGAN HANYA BERTANYA SIAPA YANG MENASIHATI PRESIDEN

Negara perlu mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:

Siapa yang menyiapkan manusia yang kelak menasihati Presiden?

Siapa yang mengajarkan mereka membaca?

Siapa yang mengajarkan mereka berpikir?

Siapa yang memperkenalkan mereka kepada sains?

Siapa yang mengajarkan mereka berdiskusi tanpa membenci?

Siapa yang pertama kali mengajarkan bahwa kekuasaan harus disertai tanggung jawab?

Siapa yang menemani mereka ketika mereka merasa gagal?

Sering kali jawabannya sederhana:

guru.

Sebelum seorang manusia memiliki gelar.

Sebelum memiliki jabatan.

Sebelum memiliki kekuasaan.

Sebelum memiliki ruang kerja.

Ia pernah duduk di sebuah bangku kelas.

Dan di depan bangku itu pernah berdiri seorang guru.


HARGA SEBUAH NASIHAT, HARGA SEBUAH MASA DEPAN

Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa Rp76,5 juta adalah harga sebuah nasihat, karena negara tidak sedang membeli nasihat seperti membeli barang.

Begitu pula Rp300 ribu bukan harga seorang guru, karena martabat manusia tidak pernah dapat ditentukan oleh nominal honor.

Tetapi justru di situlah kritiknya.

Kalau martabat tidak dapat dihitung dengan uang, negara tetap memiliki kewajiban untuk memastikan orang yang menjaga martabat dan masa depan manusia tidak hidup dalam ketidakberdayaan ekonomi.

Kita tidak boleh menjadikan kemiskinan sebagai bukti ketulusan guru.

Guru tidak harus sengsara agar disebut berdedikasi.

Guru tidak harus kekurangan agar disebut pahlawan.

Guru tidak perlu dibayar murah agar pengabdiannya terlihat mulia.

Pengabdian dan kesejahteraan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Guru boleh idealis.

Tetapi guru juga berhak hidup layak.

Guru boleh mengabdi.

Tetapi guru juga berhak dihargai.

Guru boleh mencintai muridnya.

Tetapi negara juga harus menunjukkan bahwa negara mencintai orang-orang yang mendidik mereka.


PADA AKHIRNYA, MUNGKIN INI BUKAN TENTANG GAJI

Pada akhirnya, tulisan ini bukan tentang Rp76,5 juta.

Bukan pula tentang Rp300 ribu.

Ini tentang pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apa yang sebenarnya dianggap penting oleh sebuah negara?

Sebab cara negara membayar seseorang adalah salah satu cermin tentang bagaimana negara memandang pekerjaannya.

Ketika seorang penasihat diberi hak keuangan yang besar, kita dapat memahami bahwa fungsi memberikan pertimbangan kepada Presiden dianggap strategis.

Maka logika yang sama seharusnya kita gunakan untuk pendidikan.

Kalau pendidikan adalah fondasi pembangunan manusia, maka guru harus diperlakukan sebagai profesi strategis negara.

Bukan sekadar orang yang mengisi jam pelajaran.

Bukan sekadar pelaksana kurikulum.

Bukan sekadar penerima tugas administratif.

Melainkan arsitek manusia masa depan.


DAN MUNGKIN, KALIMAT YANG LEBIH TEPAT BUKAN...

“Negara bayar mahal untuk yang rahasia, negara bayar murah untuk yang nyata.”

Karena kalimat itu terlalu sederhana untuk persoalan yang kompleks.

Saya lebih memilih mengatakan:

“Sebuah negara dapat membayar mahal sebuah nasihat karena ia dianggap strategis. Maka sudah seharusnya negara juga menghargai pendidikan karena ia menentukan siapa yang kelak membuat keputusan.”

Sebab nasihat mungkin memengaruhi satu keputusan.

Tetapi pendidikan memengaruhi siapa yang akan mengambil keputusan-keputusan itu.

Nasihat bekerja pada hari ini.

Pendidikan bekerja melampaui hari ini.

Nasihat membantu menentukan arah kebijakan.

Pendidikan menentukan kualitas manusia yang akan menjalankan sejarah.

Dan guru?

Guru bekerja di titik paling sunyi dari semuanya.

Ia berdiri di depan papan tulis.

Membuka buku.

Menjelaskan.

Mengulang.

Menunggu.

Membimbing.

Menyemangati.

Kadang pulang dalam keadaan lelah.

Kadang menerima honor yang tidak sebanding dengan beban pikirannya.

Tetapi esok pagi ia kembali.

Karena di hadapannya ada anak-anak yang belum selesai menjadi manusia.

Dan mungkin itulah pekerjaan paling strategis yang sering kita bayar terlalu murah:

membantu manusia menemukan dirinya, lalu mempersiapkannya untuk menemukan masa depan bangsanya.


“Jangan ukur guru dari berapa banyak uang yang ia terima.
Ukurlah dari berapa banyak masa depan yang pernah ia bantu selamatkan.

Sebab mungkin negara sedang sibuk menghitung harga sebuah nasihat, sementara guru setiap hari sedang membentuk manusia yang suatu hari akan menentukan nasib negara.”

— Abdulloh
guru yang biasa saja

Komentar

Postingan Populer