Sumpah Pemuda di Tengah Runtuhnya Ruang Hidup



Sumpah Pemuda di Tengah Runtuhnya Ruang Hidup: Ketika Kelas, Hutan, dan Pangan Sedang Tidak Baik-Baik Saja

Hari ini, bendera berkibar, seragam dikenakan, dan teks Sumpah Pemuda kembali menggema di berbagai penjuru negeri. Namun, di balik khidmatnya upacara Sumpah Pemuda ke-98, kita patut berhenti sejenak untuk bertanya: apakah sumpah ini masih bernyawa, atau ia telah menjelma menjadi ritual hampa tanpa makna?

Ketika tema “Bersatu, Berkreasi, & Berinovasi” didengungkan sebagai slogan perayaan, kenyataan di luar sana menampar kesadaran kita dengan keras. Ibu Pertiwi sedang tidak baik-baik saja. Ruang hidup menyempit, keadilan sosial kian kabur, dan masa depan generasi muda dipertaruhkan di atas meja kepentingan oligarki.

1. Ruang Kelas dan Piring Makan yang Terancam

Bagaimana mungkin kita menuntut anak-anak muda dan para siswa untuk fokus belajar, berkreasi, dan menorehkan prestasi, jika fondasi dasar kehidupan mereka diguncang krisis sistemik?

Kasus keracunan yang terjadi pada program Makan Bergizi (MBG)—yang seharusnya menjadi ikhtiar menyehatkan generasi penerus—justru berbalik menjadi potret buram lemahnya pengawasan mutu, buruknya tata kelola, dan aji mumpung para pengambil kebijakan di tingkat bawah. Belum lagi tekanan ekonomi harian yang kian mencekik keluarga di rumah, serta bayang-bayang Ketimpangan Daya Meli (KDMP) yang membuat dapur rakyat semakin senyap.

Bagaimana anak-anak kita bisa bermimpi besar jika untuk sekadar mendapatkan jaminan pangan yang aman dan bergizi saja mereka harus bertaruh nyawa?

2. Asap, Kayu, dan Bencana Ekologis yang Diabaikan

Bukan hanya perut anak-anak kita yang terancam, ruang hidup bumi Nusantara pun sedang dirobek-robek. Hutan-hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia digerus, ditebang, dan dibakar tanpa ampun demi alih fungsi menjadi perkebunan monokultur sawit.

Rentetan bencana ekologis—banjir bandang, longsor, hingga kekeringan panjang—silih berganti menghantam berbagai daerah. Alam sedang menagih utang, sementara para pemegang kuasa sibuk menutup mata demi kepentingan investasi sesaat. Keadilan iklim dikubur dalam-dalam, menyisakan penderitaan bagi masyarakat adat dan warga lokal yang tak berdaya.

3. Mentransformasi Makna Sumpah Pemuda di Era Society 5.0

Lalu, di mana posisi kita—khususnya para pendidik, pemuda, dan insan penggerak—di tengah karut-marut ini?

Sumpah “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa” tidak boleh lagi berhenti sebagai romantisme sejarah masa lalu. Hari ini, sumpah tersebut harus diterjemahkan ulang dalam bentuk perlawanan terhadap ketidakpedulian.

Pemuda hari ini tidak boleh memilih jalan aman dengan menjadi penonton yang apatis.

  • Bersatu bukan berarti diam menjaga zona nyaman.
  • Berkreasi bukan berarti abai terhadap penderitaan sesama.
  • Berinovasi harus berakar pada keberpihakan mutlak kepada keselamatan rakyat dan kelestarian bumi.

Jika para pemuda tahun 1928 berikrar meruntuhkan tembok penjajahan fisik bangsa asing, maka pemuda hari ini mengemban mandat yang tak kalah berat: meruntuhkan tembok keserakahan, ketidakadilan struktural, dan kerusakan ekologis.

Sebuah Seruan

Masa depan Indonesia terlalu berharga untuk dibiarkan runtuh di tangan para pemangku kebijakan yang abai pada nurani. Mari mengambil peran dari lini kita masing-masing—guru di ruang kelas, petani di ladang, penulis di balik meja, hingga penggerak di komunitas. Beraksi dan berkontribusilah sesuai kebisaan dan profesi kita.

Karena pada akhirnya, diam adalah bentuk pengkhianatan, dan kepedulian adalah bukti bahwa kita masih manusia.

LAWAN KEDZALIMAN!

#SumpahPemuda #RefleksiBangsa #DaruratEkologis #KeadilanSosial #PemudaBergerak #CatatanPendidik

Komentar

Postingan Populer