SOMEWHERE I BELONG

 


SOMEWHERE I BELONG

Tentang tempat yang tidak selalu berupa alamat

“Mungkin sepanjang hidup kita, yang sebenarnya kita cari bukan sekadar sebuah tempat untuk tinggal, melainkan sebuah tempat untuk merasa diterima. Tempat di mana kita tidak perlu terlalu keras menjelaskan siapa diri kita. Tempat di mana lelah boleh pulang, salah boleh diperbaiki, diam tidak dianggap aneh, dan menjadi diri sendiri tidak terasa seperti sebuah kesalahan. Barangkali, somewhere I belong bukan tentang di mana kaki kita berdiri, tetapi di mana hati kita akhirnya berkata: di sini, aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.”

Ada kalanya kita berada di sebuah tempat, tetapi tidak merasa berada di sana.

Ramai, tetapi sepi.

Dikelilingi banyak orang, tetapi tetap merasa sendirian.

Berbicara dengan banyak manusia, tetapi tidak menemukan satu pun yang benar-benar memahami.

Lalu diam-diam kita bertanya:

“Sebenarnya, di mana tempatku?”

Bukan sekadar tempat untuk tinggal.

Bukan sekadar alamat.

Bukan sekadar ruangan dengan pintu dan jendela.

Tetapi sebuah tempat yang membuat kita merasa:

aku diterima di sini.


Saya teringat sebuah frasa sederhana:

Somewhere I belong.

Jika diterjemahkan secara harfiah, mungkin berarti:

suatu tempat di mana aku termasuk.

Tetapi rasanya lebih dalam dari sekadar terjemahan.

Ia seperti sebuah kerinduan.

Tempat di mana aku seharusnya berada.

Tempat yang terasa seperti rumah.

Dan ternyata, rumah tidak selalu berupa bangunan.

Kadang rumah adalah seseorang.

Kadang sebuah keluarga.

Kadang sebuah persahabatan.

Kadang sebuah kelas.

Kadang pekerjaan yang membuat kita merasa berguna.

Kadang sebuah komunitas yang membuat kita tidak perlu menjelaskan terlalu banyak tentang siapa diri kita.

Dan kadang…

rumah adalah diri kita sendiri.


Kita mungkin pernah berada di tempat yang sebenarnya baik.

Orang-orangnya baik.

Fasilitasnya baik.

Kesempatannya besar.

Tetapi hati tetap merasa asing.

Lalu kita menyalahkan diri sendiri.

Mungkin aku yang terlalu sensitif.

Mungkin aku yang kurang pandai beradaptasi.

Mungkin aku yang terlalu banyak berharap.

Padahal bisa jadi bukan siapa yang salah.

Mungkin memang tidak semua tempat ditakdirkan menjadi tempat kita menetap.

Ada tempat yang hanya menjadi persinggahan.

Ada orang yang hanya menjadi bagian dari satu bab.

Ada pekerjaan yang mengajarkan sesuatu, lalu selesai.

Ada pertemuan yang datang untuk meninggalkan pelajaran, bukan untuk tinggal selamanya.

Dan tidak apa-apa.

Sebab pergi dari sebuah tempat bukan selalu berarti gagal.

Kadang itu adalah cara kehidupan mengantarkan kita menuju tempat yang lebih sesuai.


Saya belajar bahwa manusia tidak hanya membutuhkan tempat untuk hidup.

Kita membutuhkan rasa memiliki.

Rasa bahwa keberadaan kita berarti.

Bahwa ketika kita datang, ada yang senang.

Ketika kita pergi, ada yang kehilangan.

Ketika kita berbicara, ada yang mau mendengar.

Ketika kita jatuh, ada yang membantu berdiri.

Dan ketika kita menjadi diri sendiri…

kita tidak perlu takut ditolak.

Mungkin itulah alasan mengapa seseorang bisa merasa sangat nyaman hanya dengan duduk di samping orang tertentu.

Tidak banyak bicara.

Tidak melakukan sesuatu yang istimewa.

Tetapi hati terasa tenang.

Karena kita tidak sedang berusaha menjadi siapa-siapa.

Kita cukup menjadi diri sendiri.


Sebagai guru, saya juga sering berpikir tentang ini.

Berapa banyak anak yang datang ke sekolah setiap hari, tetapi sebenarnya belum merasa “belong” di dalamnya?

Mereka hadir.

Duduk di bangku.

Mengerjakan tugas.

Mengikuti pelajaran.

Tetapi mungkin ada yang diam-diam merasa tidak cukup pintar.

Ada yang merasa selalu salah.

Ada yang takut ditertawakan.

Ada yang tidak pernah merasa punya tempat di antara teman-temannya.

Maka sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat anak belajar tentang angka, bahasa, sains, atau pengetahuan.

Sekolah juga harus menjadi tempat di mana seorang anak bisa berkata:

“Di sini aku diterima.”

Di sini aku boleh bertanya.

Di sini aku boleh salah.

Di sini aku boleh mencoba lagi.

Di sini aku tidak harus menjadi seperti orang lain untuk dianggap berharga.

Karena mungkin sebelum kita meminta anak berprestasi, kita perlu memastikan mereka terlebih dahulu merasa memiliki tempat.


Begitu pula dalam kehidupan.

Kita sering mengejar tempat yang terlihat bagus.

Pekerjaan yang keren.

Lingkungan yang bergengsi.

Lingkaran pertemanan yang dianggap hebat.

Kita ingin berada di tempat yang membuat orang lain berkata,

“Wah, hebat sekali kamu bisa sampai di sana.”

Tetapi semakin dewasa, mungkin kita mulai sadar:

Tidak semua tempat yang terlihat hebat membuat hati bahagia.

Tidak semua keramaian membuat kita merasa ditemani.

Tidak semua keberhasilan membuat kita merasa pulang.

Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar tempat yang membuat kita terlihat berhasil.

Kita mencari tempat yang membuat kita merasa berarti.


Dan mungkin ada satu hal yang sering kita lupakan:

Sebelum mencari tempat di mana kita merasa diterima, kita perlu belajar menerima diri sendiri.

Sebab bagaimana mungkin kita merasa pulang jika sepanjang perjalanan kita terus memusuhi diri sendiri?

Kita terlalu sibuk membandingkan.

Terlalu sering merasa kurang.

Terlalu keras kepada diri sendiri.

Terlalu banyak melihat hidup orang lain, lalu menganggap hidup kita tertinggal.

Padahal mungkin perjalanan kita memang berbeda.

Jalannya berbeda.

Waktunya berbeda.

Tujuannya berbeda.

Dan tidak semua orang harus sampai di tempat yang sama.

Barangkali yang perlu kita cari bukan tempat milik orang lain.

Tetapi tempat yang memang Allah siapkan untuk perjalanan kita.


Saya tidak tahu apakah setiap orang pada akhirnya akan menemukan somewhere I belong-nya.

Mungkin tidak segera.

Mungkin perlu berpindah beberapa kali.

Perlu kehilangan.

Perlu kecewa.

Perlu merasa asing.

Perlu berjalan sendirian.

Sampai akhirnya kita memahami:

Ternyata perjalanan mencari tempat pulang juga merupakan perjalanan mengenal diri sendiri.

Kita belajar siapa yang benar-benar kita butuhkan.

Kita belajar mana yang harus dipertahankan.

Mana yang harus dilepaskan.

Dan mana yang selama ini kita kejar, padahal bukan milik kita.


Mungkin suatu hari nanti kita akan berada di sebuah tempat.

Tidak terlalu mewah.

Tidak terlalu ramai.

Tidak pula sempurna.

Tetapi entah mengapa…

hati terasa tenang.

Kita tidak perlu berpura-pura.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Tidak perlu menjadi versi terbaik menurut standar siapa pun.

Kita hanya duduk.

Bernapas.

Melihat sekitar.

Lalu tersenyum kecil.

Dan dalam hati berkata:

“Oh… ternyata di sinilah aku seharusnya berada.”

Bukan karena tempat itu sempurna.

Tetapi karena di sana kita bisa menjadi manusia yang utuh.

Bisa tumbuh.

Bisa belajar.

Bisa salah.

Bisa memperbaiki diri.

Bisa memberi manfaat.

Dan yang paling penting…

bisa pulang tanpa harus kehilangan diri sendiri.


Barangkali somewhere I belong bukan hanya tentang menemukan sebuah tempat.

Ia tentang menemukan makna.

Menemukan orang-orang yang membuat kita merasa diterima.

Menemukan pekerjaan yang membuat kita merasa berguna.

Menemukan lingkungan yang membuat kita bertumbuh.

Menemukan diri yang selama ini kita cari.

Dan pada akhirnya, menemukan bahwa sejauh apa pun kita berjalan…

ada satu tempat yang paling kita rindukan:

tempat di mana hati merasa pulang.

Maka jika hari ini kita masih merasa asing di sebuah tempat, jangan buru-buru menganggap diri kita gagal.

Mungkin kita sedang dalam perjalanan.

Mungkin Allah sedang memindahkan kita.

Mungkin ada ruang yang lebih tepat.

Ada manusia yang lebih tepat.

Ada tugas yang lebih tepat.

Ada kehidupan yang lebih sesuai dengan siapa kita sebenarnya.

Kita hanya belum sampai.

Dan selama belum sampai…

teruslah berjalan.

Sebab bisa jadi, somewhere I belong itu tidak sedang kita tinggalkan.

Ia sedang menunggu kita datang.

“Pada akhirnya, kita hanya ingin menemukan tempat yang membuat hati berkata: aku pulang.”

Abdulloh Aup
Guru yang biasa saja

Komentar

Postingan Populer