Ketika Guru Mengajar Dunia namun Merindukan Rumah
Ketika Guru Mengajar Dunia, Tapi Diam-Diam Merindukan Rumah Prolog Ada orang-orang yang setiap pagi berangkat untuk menyalakan masa depan orang lain. Mereka masuk ke ruang kelas membawa suara yang harus tetap tenang, senyum yang harus tetap hangat, dan kesabaran yang tidak boleh habis. Mereka mengajari: cara membaca dunia, cara memahami kehidupan, bahkan cara menjadi manusia. Namun di balik semua itu, ada satu ironi yang sering tidak terdengar: kadang guru terlalu sibuk menumbuhkan anak-anak di sekolah, sampai lupa bahwa di rumah ada anak kecil yang juga sedang bertumbuh dan diam-diam menunggu ditemani. Menunggu diajari. Menunggu dipeluk. Atau sekadar menunggu: “Ayah pulang jam berapa hari ini?” “Ibu nanti sempat cerita sebelum tidur, kan?” Dan mungkin, tidak ada pengorbanan yang lebih sunyi daripada seseorang yang menghabiskan hidupnya untuk masa depan banyak anak— sambil diam-diam merelakan sebagian waktunya bersama anaknya sendiri. Guru da...