Tentang Menepi
Prolog Ada beban yang tak nampak di pundak, meski tangan tak memikul benda. Ada lelah yang tak kunjung usai, meski raga telah lama tertidur di peraduan. Bukan karena terjalnya jalan yang kita daki, melainkan karena topeng yang kita pakai. Kita berlari dalam sunyi, mengejar bayangan yang disebut pengakuan. Hingga lupa, bahwa rumah yang paling hangat untuk pulang, Adalah diri sendiri yang selama ini kita abaikan. Tentang Menepi: Saat Damai Tak Lagi Membutuhkan Tepuk Tangan Pernahkah Anda merasa lelah yang luar biasa, padahal seharian tidak melakukan kerja fisik yang berat? Itu adalah kelelahan jiwa. Sebuah keletihan yang lahir dari upaya tanpa henti untuk terlihat "cukup" di mata orang lain. Kita bangun dengan kecemasan tentang penilaian, siang hari sibuk membandingkan, dan malam hari meringkuk dalam resah yang tak sempat diberi nama. Validasi kini menjadi mata uang sosial yang kejam. Ia seperti candu; setiap pujian hanya memberi lega sesaat, lalu menuntut dosis...