PULANGLAH, SAAT RINDU KALAH OLEH GENGSI
Prolog Terminal dan stasiun selalu dipenuhi pelukan, namun di sudut-sudutnya, ada ribuan rindu yang tertahan oleh gengsi dan rasa malu. Kita dibesarkan dalam narasi bahwa merantau adalah ekspedisi kemenangan—pergi sebagai debu, pulang sebagai permata. Namun, dunia rantau tak pernah seramah dongeng keberhasilan yang kita dengar di meja makan. Di balik gemerlap lampu kota, ada punggung-punggung yang membungkuk memikul beban ekspektasi yang kian berat setiap tahunnya. Mari kita bicara tentang sisi sunyi dari sebuah perjalanan pulang. Beban di Balik Tiket Mudik: Saat Pulang Terhalang oleh Definisi "Sukses" Seolah-olah pergi merantau itu wajib sukses. Seolah-olah kepulangan hanyalah hak istimewa bagi mereka yang sudah mampu menenteng hasil nyata. Di banyak keluarga, merantau selalu dibungkus dengan harapan besar: "Pergilah jauh, cari pengalaman, ubah nasib." Kalimat itu terdengar seperti doa, namun bagi si perantau, ia adalah beban yang diam-diam tumbuh m...