Gratis yang tidak gratis
Prolog Piring-piring bersih, senyum merekah di wajah anak bangsa, Kamera merekam momen, mengukir narasi mulia tanpa jeda. Negara tersenyum, merasa telah mengukir tugas sejarah, Melalui program makan siang yang katanya tanpa cela. Namun, di balik setiap suapan yang terasa gratis, nan nikmat, Ada bayangan utang yang mengintai, sebuah konsekuensi pahit. Sebab kebijakan tak bisa hanya berbekal rasa haru semata, Ia harus jujur pada nalar, dan tidak mengkhianati masa depan nyata. Makan Siang Ini, Dibayar oleh Masa Depan: Ketika Haru Mengalahkan Nalar Kebijakan Suatu pagi, negara tampak bahagia. Bukan karena kualitas pendidikan melesat, bukan karena guru dimuliakan, bukan pula karena anak-anak kritis. Negara bahagia melihat program Makan Bergizi Gratis (MBG) disambut sorak. Piring bersih, lauk habis, dan kamera merekam setiap detail. Hati negara tersentuh, merasa sedang menjalankan misi sejarah. Maka, anggaran pun dibesarkan. Di sinilah cerita ini bermula: ketika rasa har...