Filosofi Rotan
Aku Pernah Duduk di Kursi Rotan, tetapi Tak Pernah Mengenal Buahnya Ketika Alam Mengajarkan bahwa Pengetahuan Tidak Boleh Berhenti pada Apa yang Tampak Sejak kecil, saya sering melihat kursi rotan. Bahkan mungkin saya pernah duduk di atasnya ratusan kali. Di rumah nenek, di ruang tamu tetangga, di sekolah, hingga di berbagai tempat wisata. Rotan begitu akrab dalam kehidupan kita. Ia hadir sebagai kursi, meja, rak, keranjang, bahkan berbagai karya seni anyaman yang memperlihatkan kecerdasan tangan-tangan para perajin Indonesia. Namun, ada satu hal yang baru saya sadari belakangan ini. Ternyata saya mengenal rotan, tetapi tidak pernah benar-benar mengenalnya. Saya mengetahui batangnya. Saya menikmati manfaatnya. Tetapi saya tidak pernah tahu seperti apa buahnya. Ketika pertama kali melihat buah rotan, saya sempat mengira itu adalah salak kecil yang tumbuh bergerombol. Permukaannya bersisik. Warnanya berubah dari putih krem, kuning, hingga jingga ketika matang. Unik. Eksotis. Dan ju...