Maaf Ramadan
Prolog
Belasan fajar telah menyingsing, namun jiwa masih terasa asing,
Langkah kaki masih tertatih, di antara dunia yang terus membising.
Mulut berucap rindu, namun laku masih saja berpaling,
Di hadapan pintu ampunan, mengapa diri ini masih saja bergeming?
Mari kita menunduk sejenak, menatap cermin hati yang mulai retak.
Maaf Ramadhan: Antara Kerinduan Palsu dan Sisa Waktu
Ramadhan hampir melewati separuh perjalanannya. Belasan hari telah gugur satu per satu, meninggalkan kita yang masih saja terbelenggu oleh kemalasan yang sama. Di awal bulan, kita menyambutnya dengan gegap gempita, memasang status kerinduan, dan menjanjikan perubahan. Namun, mari kita jujur pada diri sendiri di tengah sunyinya malam ini.
Maaf Ramadhan, mungkin aku hanya berpura-pura rindu.
Kita berkata rindu, namun interaksi kita dengan Al-Qur'an masih saja kaku. Kita berkata rindu, namun shalat kita masih terburu-buru, seolah Tuhan adalah beban yang ingin segera kita sudahi. Kita telah diberi kesempatan emas untuk bertemu, untuk mencuci noda yang bertumpuk setahun lalu, namun aku masih begitu pandai menyia-nyiakan waktu.
Wahai Diri, Sadarlah...
Waktu terus merayap menuju garis finis. Kesempatan ini bukanlah sesuatu yang pasti akan berulang tahun depan. Banyak orang di bawah tanah sana yang memohon untuk dikembalikan satu detik saja ke dunia ini hanya untuk satu kali sujud, sementara kita yang masih bernafas, justru membuang jam demi jam untuk hal yang sia-sia.
Peringatan ini bukan untuk orang lain, melainkan sebuah tamparan keras untuk diri sendiri:
“Andai di sisa Ramadhan ini, engkau belum mampu berbenah diri, lalu bulan apa lagi yang kau cari?”
Jika di bulan di mana setan dibelenggu saja kita masih kalah oleh hawa nafsu sendiri, maka di bulan mana lagi kita bisa menang? Jika di bulan di mana pintu surga dibuka selebar-lebarnya kita masih enggan melangkah masuk, maka ke mana lagi kita akan menuju?
Memanfaatkan Sisa Nafas
Jangan biarkan Ramadhan tahun ini hanya menjadi ritual lapar dan haus yang tanpa makna. Jangan biarkan ia berlalu hanya sebagai kenangan tentang menu berbuka yang mewah, sementara ruh kita tetap kelaparan akan hidayah.
Masih ada sisa hari. Masih ada sisa malam.
- Berhentilah berpura-pura. Akuilah kelemahan diri di hadapan Allah.
- Berhentilah menyia-nyiakan. Fokuslah pada satu atau dua perubahan kecil yang konsisten.
- Mulailah berbenah. Sebab jika bukan sekarang, mungkin takkan pernah ada lagi kata "nanti".
Jangan sampai kita menjadi golongan orang yang merugi; yang mendapati Ramadhan, namun keluar darinya tanpa membawa ampunan.
Endgame
Sisa hari kian menipis, jangan biarkan penyesalan berakhir tragis,
Hapus air mata kepalsuan, ganti dengan sujud yang lebih manis.
Sebab Ramadhan takkan menunggu, ia akan pergi dengan tangis atau tawa yang magis,
Jadilah pemenang di sisa waktu, sebelum kesempatan ini benar-benar habis.
Berbenahlah sekarang, sebelum namamu hanya tinggal kenangan yang terpasang.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar