KEMATIAN KECERDASAN MELAMPAUI ZAMAN
Prolog
Ia tak pernah mengetuk pintu, tak pula mengirim pesan untuk bertemu.
Hadirnya adalah kepastian yang seringkali kita bumbui dengan rasa semu.
Kita berlari seolah waktu takkan habis, mengejar dunia yang kian menderu,
Padahal di balik punggung kita, bayangan itu kian dekat menunggu.
Mari kita bicara tentang akhir, agar kita tahu bagaimana memulai hidup dengan benar.
Kematian: Bayangan yang Mengajar Kita Cara Hidup
Dalam panggung sandiwara dunia, banyak dari kita yang berpura-pura bahwa waktu adalah milik kita selamanya. Kita menyusun rencana untuk puluhan tahun ke depan, namun seringkali lupa menyiapkan diri untuk satu detik yang paling pasti: perpisahan. Kematian itu ibarat bayangan; ia tidak pernah meninggalkanmu. Semakin kencang engkau berlari menjauh, ia justru semakin setia mengikuti di belakangmu, menunggu momentum yang telah digariskan.
Perintah Sang Baginda: Mengingat Sang Pemutus Kelezatan
Rasulullah SAW memberikan sebuah wasiat yang mampu meruntuhkan segala bentuk kesombongan duniawi:
"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (kematian)." (HR. Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah).
Mengapa kita diperintahkan untuk mengingatnya? Bukan untuk membuat kita menjadi pesimis atau takut melangkah. Mengingat mati adalah cara untuk menjaga kewarasan. Ia adalah "rem" saat kita mulai kehilangan kendali karena syahwat dunia, dan ia adalah "obat" saat kita mulai merasa paling berkuasa di atas bumi.
Definisi Cerdas yang Sesungguhnya
Dunia mungkin menganggap orang cerdas adalah mereka yang memiliki gelar berderet atau harta yang melimpah. Namun, dalam kacamata langit, definisi cerdas jauh melampaui angka-angka statistik itu. Rasulullah SAW pernah ditanya tentang siapakah orang mukmin yang paling cerdas, lalu beliau menjawab:
"Yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas." (HR. Ibnu Majah).
Kecerdasan sejati adalah kemampuan memprediksi masa depan yang paling jauh, yaitu akhirat. Orang yang cerdas tidak akan menghabiskan seluruh energinya untuk membangun rumah yang akan ia tinggalkan, melainkan ia akan sibuk membangun "rumah" yang akan ia tempati selamanya.
Sebuah Pertanyaan Retoris untuk Jiwa
Mari kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas. Tarik nafas dalam-dalam, dan tanyakan pada cermin hati kita sendiri:
"Jika hari ini adalah hari terakhirmu, apakah engkau bangga dengan apa yang sedang engkau lakukan sekarang?"
Jika jawabannya adalah keraguan atau rasa malu, maka saat ini juga adalah waktu terbaik untuk berbenah. Jangan menunggu esok, karena esok hanyalah sebuah kemungkinan, sedangkan kematian adalah sebuah kepastian. Hiduplah dengan penuh kesadaran, berkaryalah dengan penuh ketulusan, dan bersiaplah dengan penuh ketaatan.
Endgame
Jangan biarkan nafasmu habis dalam kesia-siaan yang tak bermakna,
Sebab setiap detak jantung adalah langkah menuju gerbang yang fana.
Cerdaslah dalam memilih, berbekallah sebelum masa itu tiba di depan mata,
Sebab hanya mereka yang bersiap, yang akan menemui Rabb-nya dengan cinta.
Ingatlah mati agar kau tahu, betapa berharganya setiap detik hidupmu.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar