Hadiah Ramadan untuk Seorang Guru Biasa

 


Hadiah Ramadan yang Tak Pernah Saya Bayangkan

Saya tidak pernah benar-benar bermimpi akan sampai di titik ini.

Menjadi mahasiswa doktoral bukanlah sesuatu yang dulu saya rencanakan. Bahkan ketika kuliah S1 dulu, saya hanya berpikir sederhana: lulus, menjadi guru, dan mengajar dengan baik sudah cukup.

Perjalanan hidup sering kali membawa kita ke arah yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, Allah menghadiahkan sebuah kabar yang membuat saya terdiam cukup lama. Sebuah kabar yang saya terima dengan rasa haru, syukur, dan juga tanggung jawab yang besar.

Saya dinyatakan lulus sebagai calon mahasiswa Program Beasiswa 5000 Doktor di Universitas Muhammadiyah Malang.

Bagi sebagian orang mungkin ini adalah prestasi akademik.
Namun bagi saya, ini adalah kisah tentang doa, perjuangan kecil, dan orang-orang baik yang selalu membersamai perjalanan saya.

Saya hanyalah seorang guru biasa.
Seorang guru yang setiap hari belajar dari murid-muridnya sendiri.


Belajar tentang kesabaran, harapan, dan tentang arti menjadi manusia yang terus bertumbuh.

Karena itu saya ingin menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya.

Terima kasih ya Allah, atas hadiah indah di bulan Ramadan ini.
Hadiah yang mungkin tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Terima kasih kepada orang tua saya, yang doa-doanya tidak pernah putus untuk anaknya.

Terima kasih kepada istri tercinta dan ketiga anak saya, yang selalu menjadi alasan saya untuk terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari.

Terima kasih kepada saudara dan keluarga, yang selalu memberikan dukungan.

Di titik perjalanan ini, saya juga teringat kepada para guru yang pernah menuntun langkah kecil saya sejak dahulu.

Dengan penuh hormat dan rasa terima kasih, izinkan saya menyebut beberapa nama yang begitu berarti dalam perjalanan hidup saya.

Bu Surasmi dan Bu Sum, dua guru yang pertama kali mengajarkan saya membaca. Dari tangan merekalah saya mulai mengenal huruf, kata, dan perlahan memahami dunia.

Pak Ustaz Zubair, yang dengan sabar membimbing saya membaca Al-Qur’an. Semoga setiap huruf yang pernah beliau ajarkan menjadi cahaya yang terus menerangi perjalanan hidup saya.

Saya juga teringat kepada Pak Salam, KH. Dzofir, dan KH. Affan. Para guru yang saya hormati, yang ilmunya pernah saya duduki dengan penuh takzim. Semoga saya tetap dianggap sebagai salah satu santri yang pernah mereka didik.

Dalam perjalanan akademik saya, ada pula Pak Mif, Pak Edi, dan Pak Wahyu, guru-guru Biologi yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menyalakan rasa ingin tahu dan semangat belajar dalam diri saya.

Dan kepada semua guru saya, yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tanpa mengurangi rasa hormat saya sebagai murid — setiap dari kalian adalah bagian dari perjalanan ini.

“Jika hari ini saya melangkah lebih jauh, sejatinya itu karena saya berdiri di atas doa dan ilmu para guru saya.”

Semoga setiap huruf yang pernah diajarkan, setiap nasihat yang pernah disampaikan, dan setiap kesabaran yang pernah diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir tanpa putus.

Saya hanyalah murid yang masih terus belajar.

“Ilmu para guru mungkin sederhana saat diajarkan, tetapi ia tumbuh menjadi jalan hidup bagi murid-muridnya.”

Terima kasih kepada rekan-rekan guru, yang bersama-sama berjalan di jalan pengabdian yang sama.

Terima kasih kepada murid-murid hebat saya, yang justru sering menjadi sumber inspirasi terbesar dalam belajar.

Dan tentu saja kepada rekan-rekan Duta Canva, ruang belajar yang luar biasa tempat kami saling berbagi, saling menguatkan, dan saling menginspirasi untuk terus fastabiqul khairat—berlomba dalam kebaikan.

Bagi saya, belajar sepanjang hayat adalah tujuan utama.

Gelar bukanlah tujuan akhir.
Yang paling berharga adalah pengalaman, perjalanan, dan pelajaran hidup yang kita dapatkan selama proses itu berlangsung.

Jika suatu hari perjalanan ini selesai, saya berharap langkah kecil ini dapat menjadi sebuah prasasti inspirasi, sebuah jejak kecil yang mungkin bisa dikenang sebagai legasi doktoral sebelum saya menutup perjalanan hidup di dunia ini.

Saya memohon doa dari semua sahabat dan keluarga.

Semoga perjalanan ini diberi kemudahan.
Semoga saya diberi kesehatan.
Semoga saya mampu menyelesaikan amanah ini tepat waktu dan dengan penuh keberkahan.

Karena pada akhirnya, ini bukanlah pencapaian pribadi.

Ini adalah perjalanan untuk orang-orang yang saya cintai.
Ini adalah bagian dari pengabdian sebagai pemimpin pembelajaran.

Saya tetaplah orang yang sama.

“Jika kelak ada kebaikan yang lahir dari perjalanan ini, maka itu bukan milik saya, melainkan buah dari ilmu dan barokah orang tua, para guru, keluarga dan sahabat yang pernah menuntun saya.”

Abdulloh Aup
Seorang Guru yang Biasa Saja.

Namun dengan satu keyakinan sederhana:

Selama kita masih hidup, kita harus terus belajar, berbagi, dan menyalakan harapan.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, keberkahan, dan kesempatan untuk terus berbuat baik.

SemangART!
au au au…

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hormat Saya

Abdulloh Aup 💚🫰🙏🏾🇮🇩


Komentar

Postingan Populer