Victim Blaming

 


Prolog

Dunia digital sering kali menjadi pengadilan tanpa hakim yang adil,

Di mana jari-jari dengan ringannya menunjuk, membuat luka kian ganjil.

Saat korban jatuh, bukan uluran tangan yang mereka dapatkan,

Melainkan rentetan tanya yang menghujam, memutarbalikkan kenyataan.

Mari kita tajamkan akal, agar tak terjebak dalam arus empati yang dangkal.

​Membaca untuk Memahami: Mengapa Kita Harus Berhenti Menyalahkan Korban

​Di belantara media sosial, kita sering menyaksikan pemandangan yang menyayat hati: seseorang baru saja mengalami musibah atau tindak kejahatan, namun kolom komentarnya justru dipenuhi oleh penghakiman. Bukannya mengecam pelaku, banyak orang justru sibuk mencari celah kesalahan pada diri korban. Itulah yang kita kenal sebagai Victim Blaming.

​Membacalah, pelajarilah, dan bukalah mata hingga Anda paham benar apa itu victim blaming. Sebab, fenomena ini bukan sekadar komentar iseng; ia adalah bentuk kekerasan kedua yang dialami oleh mereka yang sudah terluka.

​Mengenali Wajah Victim Blaming di Sosial Media

​Di layar ponsel kita, praktek ini muncul dalam berbagai "topeng" pertanyaan yang seolah logis padahal beracun:

  • "Kenapa dia pulang malam-malam?"
  • "Salah sendiri bajunya seperti itu."
  • "Harusnya kalau sudah tahu tempatnya bahaya, jangan ke sana."
  • "Kenapa baru lapor sekarang? Pasti ada maunya."

​Pertanyaan-pertanyaan ini memiliki satu tujuan bawah sadar: menggeser tanggung jawab dari pundak pelaku ke pundak korban. Ini adalah mekanisme pertahanan diri yang keliru, di mana orang merasa aman dengan berpikir, "Kalau aku tidak melakukan apa yang dilakukan korban, aku akan selamat." Padahal, kejahatan adalah pilihan pelaku, bukan kelalaian korban.

​Luka yang Tak Terlihat

​Mengapa kita harus peduli? Karena victim blaming membisukan kebenaran. Saat masyarakat lebih sibuk menghakimi pakaian atau perilaku korban daripada menghukum pelaku, para korban lainnya akan memilih untuk diam dalam trauma. Mereka takut bahwa alih-alih mendapatkan keadilan, mereka justru akan mendapatkan penghinaan massal di ruang publik digital.

​Jauhkan Dirimu dari Orang-Orang Semacam Itu

​Inilah filter terpenting dalam lingkaran sosial Anda: Jauhkan dirimu dari orang-orang yang gemar menyalahkan korban.

​Orang-orang semacam ini memiliki empati yang tumpul dan cara berpikir yang toksik. Berteman atau berinteraksi terlalu dekat dengan mereka hanya akan mencemari sudut pandang Anda. Mereka adalah tipe orang yang akan menyalahkan Anda saat Anda terjatuh, alih-alih membantu Anda berdiri.

​Membaca dan memiliki pemahaman yang benar tentang hal ini bukan hanya soal pengetahuan, tapi soal menjaga kemanusiaan kita di tengah bisingnya dunia virtual. Jadilah bagian dari mereka yang memberi perlindungan, bukan mereka yang menambah beban penderitaan.

Endgame

Jadilah lisan yang menenangkan, bukan hakim yang menghancurkan,

Pahami rasa sakit orang lain, sebelum jemarimu mulai mengetikkan penghakiman.

Sebab kebenaran sering kali tertimbun oleh suara-suara yang menyalahkan,

Pilihlah untuk berdiri di sisi kemanusiaan, di atas segala ego dan pembenaran.

Pilah lingkaranmu dengan bijak, agar hatimu tetap bercahaya dan tidak retak.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer