Hidayah Adalah Titipan
Prolog
Bukan karena kaki yang kuat, kita mampu melangkah menuju ketaatan,
Bukan karena akal yang hebat, kita memilih jalan kebaikan.
Seringkali kita pongah, merasa semua adalah hasil jerih payah,
Padahal di balik setiap sujud, ada pertolongan Allah yang tak pernah menyerah.
Mari menunduk sejenak, merenungi hakikat hidayah yang tak ternilai harganya.
Hidayah Adalah Titipan: Merenungi Ketidakberdayaan Diri di Hadapan-Nya
Seringkali kita terjebak dalam rasa bangga ketika mampu menyelesaikan ibadah atau melakukan sebuah kebaikan. Kita merasa diri ini rajin, kita merasa diri ini hebat. Namun, benarkah demikian?
Sejatinya, saat kita bisa beribadah atau melakukan kebaikan, itu bukan karena kita yang hebat, melainkan karena Allah yang menolong kita. Allah yang memberikan Hidayah dan Taufik sehingga hati kita tergerak. Allah yang memberikan kemudahan sehingga raga kita mampu melakukannya. Tanpa pertolongan Allah, kita tak akan mampu—meskipun secara logis kita tahu caranya dan secara fisik kita bisa melakukannya.
Rahasia di Balik Sebuah Amal
Berapa banyak orang yang tahu bahwa shalat itu wajib, namun tak kuasa untuk berdiri di atas sajadah? Berapa banyak yang tahu bahwa sedekah itu mulia, namun tangannya terasa berat untuk memberi? Di situlah kita sadar: Kebaikan adalah undangan eksklusif dari Allah.
Jika hari ini Anda bisa berbuat baik, itu adalah tanda bahwa Allah sedang memegang tangan Anda. Itulah Taufik—kesesuaian antara kehendak hamba dengan ridha Sang Pencipta.
Pegang Erat Sebelum Hilang
Satu hal yang harus kita sadari dengan penuh rasa takut dan harap: Hidayah itu bisa lepas. Ia bisa hilang, dan ia bisa Allah ambil kembali jika kita mulai sombong atau lalai. Maka, saat Allah berikan hidayah dan kemudahan dalam beramal:
- Jaga dan Pegang Erat: Jangan biarkan ia menguap ditelan hiruk-pikuk dunia.
- Rawat dengan Syukur: Syukuri nikmat hidayah ini melebihi syukurmu atas nikmat materi. Syukur adalah pengikat nikmat agar tidak lari.
- Teruslah Meminta: Jangan pernah putus asa untuk berdoa agar terus berada di jalan-Nya hingga napas terakhir. Karena hati manusia itu berbolak-balik, dan hanya Dia-lah Sang Pemilik Hati.
Sebuah Renungan Diri
Catatan ini ditujukan pertama-tama untuk renungan dan pengingat diri saya sendiri. Di tengah dunia yang penuh godaan, merasa aman dengan amal sendiri adalah sebuah kekeliruan besar.
Semoga Allah mudahkan kita untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang tenang. Semoga Allah mudahkan kita untuk beramal sebaik-baiknya, dan yang terpenting, semoga Allah ridha serta menerima segala amal yang kita lakukan.
Aamiin Ya Rabbal 'Aalamiin. 🤲
Endgame
Hidayah adalah cahaya, yang Allah titipkan di relung jiwa,
Bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dijaga dengan air mata.
Jangan biarkan ia padam, oleh rasa aku yang merasa bisa,
Sebab tanpa bantuan-Mu ya Allah, kami hanyalah debu yang tak berdaya.
Tetapkanlah kami di jalan-Mu, hingga tiba masa kembali ke pangkuan-Mu.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar