Antara Ritme Otak, Kecepatan Teknologi, dan Hilangnya Berkah

 


Prolog

Dahulu, ilmu dicari dengan langkah pelan namun mendalam,

Kini, ia datang seperti air bah yang menenggelamkan tanpa salam.

Antara kecepatan jemari dan ketenangan hati, ada jarak yang kian menjauh,

Saatnya mengajakmu menengok ruang kelas, tempat marwah guru kian melepuh.

Mari kita bedah, mengapa dunia pendidikan kita kini terasa begitu penuh namun rapuh.

​Pendidikan di Persimpangan: Antara Ritme Otak, Kecepatan Teknologi, dan Hilangnya Berkah

​Pernahkah kita merenungkan mengapa metode "ceramah dan mencatat" yang dianggap kuno sebenarnya memiliki logika biologis yang kuat? Otak manusia memiliki ritme. Secara alami, ia butuh waktu sekitar 10 menit untuk mengolah satu informasi secara mendalam. Ritme ini selaras dengan metode ceramah dan menulis yang memerlukan waktu 15 menit atau lebih untuk meresap. Ada jeda, ada proses, dan ada internalisasi.

​Namun, hari ini, teknologi memaksa informasi hadir dalam hitungan 0,0001 detik. Dalam satu detik, jutaan data menyerbu benak siswa. Bayangkan betapa pusingnya saraf-saraf mereka mencerna itu semua. Akibatnya? Teknologi hanya menarik minat pada tampilan luar saja. Untuk memahami? Hampir tidak mungkin. Yang tersisa hanyalah kejenuhan dan kelelahan mental.

​Generasi Instan dan "Mbah Google"

​Pergeseran ini melahirkan fenomena "generasi manja". Banyak murid kini enggan berusaha berpikir keras. Jika ada pertanyaan, jalan pintasnya adalah meminta tolong pada "Mbah Google". Mereka menginginkan hasil instan tanpa mau mencicipi pahitnya proses belajar.

​Efek samping yang paling menyedihkan adalah hilangnya rasa hormat kepada sosok pendidik. Dahulu, murid memuliakan gurunya, sehingga pintu pemahaman terbuka lebar dan keberkahan ilmu pun mengalir. Sekarang? Sebagian murid justru menganggap guru sebagai perampas hak atau pemenjara kebebasan. Padahal, marwah seorang guru tetap sama sejak zaman dahulu: ia adalah penuntun menuju cahaya.

​Pendidikan yang Menjadi Transaksional

​Kini, pendidikan seringkali terasa seperti transaksi dagang. Sekolah dianggap tempat untuk presensi saja, dan nilai tinggi adalah pesanan demi nama baik. Karakter? Seolah itu urusan masing-masing, bukan lagi tanggung jawab bersama.

​Guru yang mencoba bersikap tegas kini harus berhadapan dengan risiko hukum yang mengintai. Di sisi lain, orang tua merasa berhak mengintervensi secara berlebihan karena merasa sudah membayar mahal. Pendidikan bukan lagi proses transformasi jiwa, melainkan pertukaran jasa yang kaku.

​Jika pendidikan terus berjalan di jalur transaksional ini, kita akan kehilangan sesuatu yang paling berharga: karakter dan keberkahan. Kita perlu mengembalikan sekolah sebagai tempat di mana hati dididik, bukan hanya jemari yang dilatih untuk mengetik cepat.

Endgame

Nilai bisa dibeli, tapi budi pekerti harus ditanam dengan hati.

Kecepatan teknologi takkan bisa menggantikan kedalaman budi yang hakiki.

Mari kita kembalikan marwah guru, agar cahaya ilmu tak pernah mati.

Sebab tanpa hormat dan usaha, pendidikan hanyalah raga tanpa isi.

Berhentilah mengejar instan, mulailah menghargai proses yang memberi arti.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer