Catatan Langit Tentang Sebuah Keberpihakan



Prolog

Sejarah bukan sekadar deretan angka di kalender, ia adalah roda yang terus berputar membawa ujian yang serupa.

Hari ini, hikayat lama itu seolah menemukan panggung barunya di hadapan mata kita.

Ketika nilai-nilai yang kita muliakan mulai diusik, ketika suara langit dipermasalahkan, dan mereka yang berdiri menjaga marwah agama justru dipojokkan, kita sedang diuji.

Bukan tentang seberapa besar kekuatan yang kita miliki untuk mengubah keadaan, tapi tentang di mana detak jantung keberpihakan kita berlabuh.

Mari kita menengok kembali pada paruh kecil seekor burung pipit, sebagai cermin bagi nurani kita sendiri.

​Hikayat Pipit dan Cicak: Catatan Langit Tentang Sebuah Keberpihakan

​Hikayat ini terjadi sekarang, dan nampaknya akan terus berulang. Kita menyaksikan Al-Qur'an dinistakan, suara azan dipermasalahkan, simbol-simbol tauhid dibakar, hingga para pembela agama dikriminalisasi. Di tengah riuh rendah kemelut ini, satu pertanyaan mendasar menghampiri setiap kita: "Di mana kau berpihak, wahai sahabat?"

​1. Paruh Kecil Sang Pipit

​Dahulu, saat api yang disulut Raja Namrud berkobar dahsyat untuk membakar Nabi Ibrahim AS, datanglah seekor burung pipit. Dengan paruh kecilnya, ia bolak-balik mengambil air, lalu meneteskannya di atas api raksasa itu.

​Seekor cicak yang melihatnya pun tertawa meremehkan. "Hai Pipit! Bodoh sekali yang kau lakukan. Paruhmu yang kecil hanya bisa membawa beberapa tetes air, mana mungkin bisa memadamkan api sebesar itu?"

​Jawaban sang pipit menjadi tamparan abadi bagi akal yang hanya menghitung hasil: "Wahai cicak, memang tak mungkin aku memadamkan api itu. Tapi aku tak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Dia cintai dizhalimi. Allah tak akan melihat apakah aku berhasil atau tidak, tapi Allah akan mencatat di mana aku berpihak."

​2. Tiupan Sia-Sia Sang Cicak

​Sebaliknya, sang cicak terus tertawa. Sambil menjulurkan lidahnya, ia berusaha meniup api agar kian berkobar membakar Sang Nabi. Memang, tiupan cicak itu tak ada artinya; tak sedikit pun menambah besarnya api. Namun, tindakan itu sudah cukup bagi Allah untuk mencatat di mana letak kebencian dan keberpihakannya.

​3. Takdir Allah dan Catatan Amal

​Sahabat, memang benar bahwa pendapat kita, status kita, atau pembelaan kita tidak akan mengubah sedikit pun takdir yang telah Allah tetapkan bagi agama-Nya. Allah Mahakuasa untuk membela agama-Nya sendiri tanpa bantuan kita.

​Namun, dunia ini adalah ruang ujian bagi kita, bukan bagi-Nya. Allah tidak menuntut kita untuk menjadi pemenang yang memadamkan seluruh api fitnah, tetapi Allah menuntut kejujuran sikap kita. Allah akan mencatat di barisan mana nama kita tertera saat agama-Nya dihina.

Endgame

Jangan biarkan dirimu menjadi penonton yang bisu saat kebenaran sedang diuji.

Jangan pula menjadi cicak yang menertawakan perjuangan kecil orang lain, sementara kau sendiri meniupkan api kebencian.

Jadilah seperti pipit; biarlah hanya setetes air yang sanggup kau bawa, asalkan tetesan itu menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kau mencintai apa yang Dia cintai.

Sebab pada akhirnya, yang akan menyelamatkan kita bukanlah hasil akhir, melainkan di mana posisi kaki kita berpijak saat badai fitnah menerjang.

Abdulloh Aup


Komentar

Postingan Populer