Ketika Dunia Menjadi Tuhan dan Perut Menjadi Tujuan

 


Prolog

Roda zaman terus berputar, menyeret manusia ke dalam pusaran ambisi yang tak pernah usai.

Ada sebuah masa yang telah diramalkan, di mana batin manusia menjadi gersang di tengah limpahan materi.

Sebuah peringatan dari masa lalu yang kini terasa begitu nyata di depan mata, menampar kesadaran kita tentang makna keberadaan.

Mari menatap cermin sejarah untuk melihat wajah zaman yang sedang kita huni hari ini.

​Ramalan Zaman: Ketika Dunia Menjadi Tuhan dan Perut Menjadi Tujuan

​Lebih dari seribu tahun yang lalu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan tentang sebuah masa yang akan datang. Sebuah zaman yang penuh dengan anomali spiritual dan moral, di mana beliau berkata:

"Akan datang zaman orang tidak puas dengan sedikit, tidak kenyang dengan banyak, perhatian mereka hanya urusan perut, agama mereka uang, dan kiblat mereka perempuan."

​Pesan ini bukan sekadar deretan kata, melainkan sebuah diagnosa tajam terhadap penyakit jiwa yang kini mewabah di era modern.

​Ketidakpuasan yang Tak Bertepi

​Fenomena pertama yang digambarkan adalah hilangnya rasa syukur. Manusia di zaman ini seolah kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal kecil. Namun, yang lebih mengerikan adalah rasa "tidak kenyang dengan banyak." Berapa pun harta yang dikumpulkan, jabatan yang diraih, atau pengakuan yang didapat, hati tetap merasa hampa. Ini adalah kutukan bagi mereka yang mencari kepuasan pada benda yang bersifat fana.

​Perut: Pusat Perhatian dan Kekhawatiran

​Ketika perhatian seseorang hanya terpaku pada "urusan perut", maka standar hidupnya hanya sebatas pemenuhan kebutuhan jasmani. Segala daya upaya, kreativitas, dan waktu habis hanya untuk memikirkan apa yang akan dimakan dan bagaimana cara mendapatkannya, tanpa mempedulikan dari mana sumbernya atau apa dampaknya bagi jiwa.

​Uang sebagai Agama, Nafsu sebagai Kiblat

​Puncak dari kerusakan zaman ini adalah ketika nilai-nilai ketuhanan digantikan oleh lembaran kertas bernama uang. Agama mereka adalah materi; segala sesuatu diukur dengan keuntungan finansial. Hukum, persaudaraan, bahkan kejujuran bisa diperjualbelikan.

​Ditambah lagi dengan hilangnya arah martabat karena "kiblat" hidup telah bergeser pada godaan nafsu semata. Manusia kehilangan prinsip karena terlalu mudah disetir oleh pesona duniawi yang memabukkan.

​Menemukan Kembali Arah Pulang

​Peringatan dari Ali bin Abi Thalib ini mengajak kita untuk melakukan introspeksi mendalam. Apakah kita termasuk bagian dari arus zaman tersebut? Ataukah kita masih memiliki keberanian untuk melawan arus dan kembali pada prinsip yang hakiki?

​Kebahagiaan sejati tidak akan pernah ditemukan dalam "lebih banyak", melainkan dalam "lebih berkah". Ketenangan hati tidak akan pernah hadir dalam "urusan perut", melainkan dalam "urusan sujud".

Endgame

Zaman mungkin berubah, namun kebenaran tetaplah abadi.

Jangan biarkan dirimu tenggelam dalam samudera ketamakan yang tidak memiliki dasar.

Ingatlah, bahwa pada akhirnya, bukan apa yang kita miliki yang akan kita bawa, melainkan apa yang telah kita berikan.

Kembalilah ke arah yang benar, sebelum zaman benar-benar menelan nuranimu.

Abdulloh Aup

Komentar