Wirama dan Budi Pekerti



Prolog

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan isi buku ke dalam kepala siswa.

Ia adalah proses menyelaraskan orkestra batin: pikiran, perasaan, kemauan, hingga tindakan nyata.

Ki Hadjar Dewantara menyebutnya sebagai Budi Pekerti—sebuah keseimbangan hidup yang menjadi akar kemerdekaan manusia.

Lantas, bagaimana kita sebagai pendidik menuntun anak-anak kita agar tetap seirama dengan sesama dan semesta di tengah badai zaman yang kian menderu?

Mari kita selami lebih dalam tentang filosofi Wirama dan peran kita sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid.

​Menumbuhkan Budi Pekerti: Menyelaraskan Cipta, Rasa, Karsa, dan Karya

​Budi pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta (kognitif), rasa (afektif), karsa (psikomotor), dan karya (tindakan nyata). Sebagai pendidik, kita memiliki tugas mulia untuk menstimulus aspek-aspek ini agar tumbuh secara harmonis. Namun, perlu diingat bahwa budi pekerti tidak akan tumbuh maksimal jika pembelajaran dilakukan dengan cara-cara yang membatasi ruang gerak batin anak, seperti:

  • Memberikan hukuman fisik untuk mendisiplinkan siswa.
  • Menuntut penyeragaman hasil belajar tanpa melihat keunikan anak.
  • Membatasi interaksi sosial yang bermakna di dalam kelas.

​1. Memasuki Periode Wirama: Menata Jati Diri

​Ki Hadjar Dewantara meyakini bahwa proses belajar harus selaras dengan kodrat anak. Saat anak memasuki periode Wirama (usia remaja/sekolah menengah), mereka mulai menata bagaimana agar masa depannya senantiasa seirama dengan sesama dan semesta.

​Pada fase ini, anak mulai sadar akan jati dirinya sebagai manusia merdeka yang memiliki tanggung jawab terhadap tanah air dan bangsa. Guru tidak lagi sekadar memberi instruksi, melainkan berperan sebagai:

  • Fasilitator Pengambilan Keputusan: Memberi ruang bagi anak untuk mengambil keputusan-keputusan penting mengenai arah belajar dan masa depan mereka.
  • Penuntun Jati Diri: Membantu mereka memahami bagaimana membawa diri di tengah masyarakat tanpa kehilangan prinsip.
  • Penggerak Kesadaran Sosial: Menanamkan bahwa kemerdekaan diri mereka selalu berbatasan dengan kemerdekaan orang lain dan kelestarian alam.

​2. Guru Penggerak: Pemimpin Pembelajaran untuk Wellbeing

​Menjadi pemimpin pembelajaran berarti menaruh perhatian penuh pada setiap komponen untuk mewujudkan wellbeing (kesejahteraan batin) dalam ekosistem sekolah. Rencana yang paling tepat untuk mewujudkan hal ini adalah:

"Menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif, di mana suara, pilihan, dan kepemilikan murid (student agency) menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan kelas."

​Seorang guru penggerak harus berani merancang program yang tidak hanya mengejar ketuntasan materi, tetapi juga memastikan kesehatan mental dan kebahagiaan siswa terjaga selama proses belajar.

Endgame

Pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang memanusiakan manusia.

Jangan biarkan kurikulum yang kaku membunuh 'wirama' atau irama alami dari jiwa anak-anak kita.

Mari kita tuntun mereka agar tidak hanya menjadi pintar secara intelek (cipta), tapi juga halus secara rasa, kuat dalam karsa, dan nyata dalam karya.

Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa ditentukan oleh budi pekerti para warganya.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer