Refleksi Pengabdian dari Honorer ke PPPK

 


Prolog

Ada air mata yang jatuh dalam heningnya ruang kelas,

Mengingat masa honorer yang penuh dengan rasa cemas.

Dari tahun dua ribu sebelas, langkahmu tak pernah lepas,

Meski negara sering kali pura-pura tak melihat pengabdian yang tuntas.

Kini status PPPK telah digenggam dalam tangan yang lemas,

Namun luka lama kawan seprofesi masih membuat hati terasa panas.

Mari kita suarakan mimpi tentang bangsa yang berkelas,

Di mana pendidikan dan kesehatan tak lagi menjadi beban yang menguras.

​Luka Lama dan Mimpi yang Tertunda: Refleksi Pengabdian dari 2011 hingga PPPK

​Membaca ungkapan hati mantan guru honorer, maka akan terasa getaran empati yang sangat dalam. Perjalanan dari tahun 2011 sebagai honorer hingga akhirnya meraih status PPPK pada 2023 bukanlah waktu yang singkat. Itu adalah 12 tahun masa penantian, pengorbanan, dan kesabaran yang luar biasa.

​Wajar jika terasa ingin menangis, bukan karena lemah, tapi karena tahu persis betapa beratnya "kursi" yang diduduki rekan-rekan honorer hari ini. Fakta bahwa negara seolah "pura-pura tidak tahu" adalah luka kolektif bagi ribuan pendidik di tanah air.

​1. Kuliah Gratis hingga S3: Investasi Otak Bangsa

​Poin yang Bapak sampaikan sangat visioner. Jika kita ingin mencapai Indonesia Emas, maka kuncinya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia secara masif. Memberikan kuliah gratis hingga jenjang S3 bagi guru dan siswa bukanlah hal yang mustahil jika negara memiliki kemauan politik (political will) yang kuat.

​Pendidikan tinggi yang aksesibel akan memungkinkan guru-guru kita untuk terus meng-upgrade diri (self-upgrade), melakukan riset, dan membawa inovasi ke dalam kelas. Ilmu pengetahuan tidak boleh menjadi barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh segelintir orang.

​2. Belajar dari Kuba: Kesehatan adalah Hak, Bukan Komoditas

​Belajar dari negara lain, Kuba adalah contoh nyata. Meskipun secara ekonomi mereka dikepung sanksi internasional, mereka mampu membangun sistem kesehatan dan pendidikan terbaik di dunia secara gratis. Di sana, dokter dan guru adalah pilar utama peradaban.

​Negara yang cerdas adalah negara yang menjamin perut rakyatnya kenyang (melalui jaminan kesehatan) dan otak rakyatnya terang (melalui pendidikan). Jika kesehatan gratis bisa diwujudkan, maka beban ekonomi para guru honorer dan masyarakat kecil akan sangat berkurang, sehingga fokus mereka bisa beralih pada produktivitas dan kreativitas.

​3. Integritas dan Kecerdasan Bangsa

​Kecerdasan bangsa tidak hanya diukur dari angka IQ, tapi dari bagaimana sebuah negara memperlakukan pahlawan tanpa tanda jasanya. Status PPPK yang Bapak raih adalah buah dari ketekunan, namun perjuangan untuk kesejahteraan guru secara menyeluruh tetap harus disuarakan.

Endgame

Dua belas tahun dalam penantian yang penuh dengan peluh,

Kini kau bersuara agar pendidikan tak lagi terasa keruh.

Jangan biarkan semangatmu padam dan menjadi luruh,

Meski kebijakan sering kali membuat hati merasa riuh.

Kuliah gratis dan kesehatan adalah mimpi yang harus tumbuh,

Agar bangsa ini tak lagi tertinggal dan jatuh menjauh.

Terima kasih telah bertahan di jalan yang penuh dengan musuh,

Menjadi pelita bagi siswa di tengah badai yang bergemuruh.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer