THE FUNTASTIC 4 Hari Pendidikan Nasional
THE FUNTASTIC 4
(spoken word — Hari Pendidikan Nasional)
Dengarkan…
ini bukan cerita tentang kami yang hebat.
Ini cerita tentang kami yang tidak menyerah.
Empat orang.
Empat arah.
Satu frekuensi: tumbuh—bersama.
Yang paling atas… Yophie Adhi Sasmita.
Ia bukan yang paling banyak bicara,
tapi langkahnya selalu paling terasa.
Tenang… tapi dalam.
Ia mengajarkan kami satu hal:
bahwa keteguhan tidak selalu perlu suara.
Yang kanan… Sri Astutik.
Hangatnya seperti rumah.
Di tengah lelah, ia tetap menyapa dengan senyum.
Meski terkadang suka marah-marah nan penuh amarah membahana
Namun ia bukan hanya mendampingi,
ia menguatkan tanpa diminta.
Darinya kami belajar:
bahwa empati adalah energi yang tak pernah habis.
Yang kiri atas… Suraji.
Penuh ide. Penuh gerak.
Kadang terlalu cepat untuk dunia yang masih ragu.
Tapi justru dari sana, kami ditarik untuk berani.
Ia mengingatkan:
bahwa perubahan… tidak menunggu siap.
Dan yang paling bawah…
saya, Abdulloh.
Masih belajar. Masih mencari.
Kadang ragu, kadang jatuh.
Tapi saya tahu satu hal:
selama bersama mereka
saya tidak pernah benar-benar sendiri.
Kami dipertemukan…
bukan karena kebetulan.
Dari Guru Penggerak,
kami mulai mengenal arti bergerak.
Dari Kompak Terbang,
kami belajar menulis bukan sekadar kata,
tapi jejak.
Tiga buku antologi
bukan tentang siapa yang paling hebat,
tapi siapa yang tetap bertahan.
Lalu langkah kami berlanjut
ke PGRI Kabupaten Bangkalan,
hingga satu hari…
kami menulis sejarah kecil kami bersama segenap guru-guru Kabupaten Bangkalan:
Rekor MURI.
Dan kini…
kami berjalan lagi, bersama
dalam satu mimpi yang lebih besar:
5000 doktor di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang).
Kami ini bukan siapa-siapa.
Tapi kami saling sapa untuk bersama.
Bukan sekadar kolaborasi
ini koalisi rasa.
Persaudaraan yang tidak butuh pangkat.
Tidak butuh jabatan.
Cukup satu:
sefrekuensi.
Kami tahu…
jadi guru itu tidak selalu mudah.
Ada lelah yang tidak terlihat.
Ada luka yang tidak tersampaikan.
Ada usaha yang tidak selalu dihargai.
Tapi kami tetap berjalan.
Pelan…
senyap…
namun nyata.
Dan di ujung perjalanan ini,
kami tersenyum.
Karena jumlah kami empat.
Seperti cerita lama
yang kemudian kami ubah dengan cara kami sendiri.
Bukan…
The Fantastic 4.
Tapi…
THE FUNTASTIC 4.
Karena bagi kami,
menjadi fun di tengah perjuangan
bukan pilihan
itu cara bertahan.
Hari ini…
di Hari Pendidikan Nasional,
kami tidak sedang merayakan kesempurnaan.
Kami merayakan proses.
Kami merayakan kebersamaan.
Kami merayakan perjalanan yang belum selesai.
Karena bagi kami
mengajar bukan tentang siapa yang paling tahu,
tapi siapa yang paling mau terus tumbuh.
Dan selama kami masih tertawa…
di antara lelah,
di antara luka,
di antara mimpi
kami tahu…
kami masih di jalan yang benar
untuk terus berlayar di lautan impian
Demi membangun peradaban.
By: aupdentata


Komentar
Posting Komentar