Sahabat Melampaui Ruang & Waktu
Melampaui Ruang dan Waktu: Refleksi Filosofis tentang Persahabatan, Teknologi, dan Pengabdian dalam Pendidikan
Oleh: Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia (Canvassador)
Ada satu pelajaran penting yang semakin saya pahami seiring bertambahnya usia dan pengalaman sebagai pendidik: bahwa manusia tidak pernah tumbuh sendirian.
Di balik setiap capaian, selalu ada orang-orang yang diam-diam menjadi bagian dari proses pembentukan diri kita. Mereka hadir bukan sekadar sebagai teman kerja, melainkan sebagai sesama pejalan yang membantu kita memahami arah ketika jalan terasa kabur, menguatkan langkah ketika semangat mulai melemah, dan mengingatkan makna ketika rutinitas perlahan menggerus idealisme.
Tulisan ini saya dedikasikan kepada seorang sahabat, rekan kerja, sekaligus pembelajar sejati yang telah membersamai perjalanan saya selama kurang lebih tiga belas tahun: Dedy Kharisma, S.Pd.
Hari ini beliau melanjutkan pengabdiannya di SMP Negeri 3 Pamekasan. Sebuah perpindahan yang secara administratif mungkin hanya tercatat sebagai mutasi tugas, tetapi bagi saya menyimpan banyak makna yang layak dikenang dan direnungkan.
Pendidikan Adalah Perjalanan yang Ditempuh Bersama
Ketika pertama kali bertemu pada tahun 2013, saya tidak pernah membayangkan bahwa perjumpaan tersebut akan berkembang menjadi sebuah persahabatan yang bertahan lebih dari satu dekade.
Dalam filsafat pendidikan, manusia sering dipahami sebagai makhluk yang terus menjadi (becoming), bukan makhluk yang selesai (being). Kita dibentuk oleh pengalaman, lingkungan, dan terutama oleh orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidup kita.
Pak Dedy adalah salah satu sosok yang turut membentuk perjalanan saya sebagai pendidik.
Kami tumbuh bersama dalam berbagai dinamika sekolah. Dari aktivitas sederhana hingga program-program yang menuntut kreativitas dan dedikasi tinggi. Kami belajar bahwa sekolah bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan, melainkan ruang sosial tempat nilai, karakter, dan budaya kolaborasi dibangun setiap hari.
Di tengah berbagai keterbatasan yang pernah kami hadapi, ada satu hal yang selalu kami jaga: semangat untuk terus belajar.
Barangkali itulah yang membuat perjalanan tiga belas tahun terasa begitu cepat.
Ketika Teknologi Menjadi Bahasa Baru Pendidikan
Jika saya diminta menyebut satu hal yang paling saya pelajari dari Pak Dedy, maka jawabannya adalah keberanian untuk memasuki dunia teknologi.
Di saat transformasi digital belum menjadi arus utama sebagaimana hari ini, beliau sudah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap dunia IT. Banyak hal yang saya pahami tentang teknologi pendidikan justru lahir dari berbagai diskusi, percobaan, dan kolaborasi yang kami lakukan bersama.
Dari pengelolaan media sosial sekolah hingga pemanfaatan berbagai platform digital untuk mendukung pembelajaran, saya belajar bahwa teknologi bukan sekadar alat.
Teknologi adalah bahasa baru yang harus dipahami oleh setiap pendidik yang ingin tetap relevan dengan zamannya.
Dalam konteks Society 5.0, teknologi seharusnya tidak menggantikan manusia, tetapi memperluas kapasitas kemanusiaan. Dan saya melihat prinsip itu hidup dalam diri Pak Dedy. Pengetahuan teknologi yang dimilikinya tidak pernah digunakan untuk menunjukkan superioritas, melainkan untuk membantu orang lain bertumbuh bersama.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa nyaman belajar darinya.
Dari Guru Penggerak hingga Komunitas Global
Perjalanan kami kemudian berlanjut ke ruang-ruang belajar yang lebih luas.
Kami dipertemukan dengan berbagai komunitas yang memperkaya perspektif tentang pendidikan masa depan. Mulai dari program Guru Penggerak, Gemini Academy, hingga jejaring global para pendidik kreatif melalui Canva.
Di titik inilah saya semakin menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar profesi.
Pendidikan adalah ekosistem kolaborasi.
Saya masih mengingat dengan jelas momen ketika sahabat-sahabat hebat dari komunitas Canva Indonesia datang ke Madura. Pak Oji, Mas Mif, Mpok Sherly, dan Mpok Citra DNA menginap di rumah saya dalam sebuah pertemuan yang penuh cerita, gagasan, dan semangat berbagi.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya peristiwa biasa.
Namun bagi saya, itu adalah bukti bahwa teknologi mampu mempertemukan manusia-manusia baik dari berbagai daerah untuk tujuan yang sama: menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi generasi masa depan.
Di balik cerita itu, ada sosok Pak Dedy yang dengan penuh ketulusan membantu menjemput para sahabat tersebut demi menghadiri kegiatan Canva Community Labs Surabaya.
Hal-hal kecil semacam itulah yang sering kali luput dari dokumentasi, tetapi justru paling lama tersimpan dalam ingatan.
Tentang Perpisahan dan Makna Kebermanfaatan
Seiring waktu, saya semakin memahami bahwa tidak semua kebersamaan harus berlangsung selamanya.
Dalam perspektif pendidikan, seorang guru sejatinya tidak pernah benar-benar berpindah tempat. Yang berpindah hanyalah ruang pengabdiannya.
Nilai, pengalaman, pengetahuan, dan keteladanan yang telah ia tanamkan akan terus hidup melampaui ruang dan waktu.
Karena itu saya tidak memandang perpindahan Pak Dedy sebagai kehilangan.
Saya memilih melihatnya sebagai perluasan lingkar kebermanfaatan.
SMP Negeri 3 Pamekasan akan memperoleh sosok pendidik yang saya kenal sebagai pribadi pekerja keras, rendah hati, senang belajar, dan tidak pernah berhenti mencari cara agar dirinya tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dan bagi saya pribadi, persahabatan tidak pernah diukur oleh kedekatan geografis.
Persahabatan diukur oleh ketulusan untuk tetap saling mendoakan meskipun jalan hidup mulai mengarah ke tujuan yang berbeda.
Terima Kasih untuk Tiga Belas Tahun yang Bermakna
Sahabatku, Pak Dedy Kharisma.
Terima kasih atas tiga belas tahun perjalanan yang penuh pelajaran.
Terima kasih atas semua diskusi yang memperluas cara berpikir saya.
Terima kasih atas semua bantuan yang tidak pernah tercatat dalam laporan kinerja.
Terima kasih atas ilmu IT yang dengan sabar Anda bagikan.
Terima kasih karena telah menjadi bagian penting dalam proses saya bertumbuh sebagai guru, pembelajar, dan manusia.
Saya juga memohon maaf atas segala kekhilafan, perkataan, maupun tindakan yang mungkin pernah kurang berkenan selama kebersamaan kita.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan, keberkahan, kemudahan, dan kebahagiaan dalam setiap langkah pengabdian di SMP Negeri 3 Pamekasan.
Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati.
Tetaplah menjadi guru yang menginspirasi tanpa harus merasa paling hebat.
Karena saya percaya, sebagaimana dikatakan Paulo Freire, pendidikan yang paling berpengaruh bukan lahir dari mereka yang merasa paling tahu, melainkan dari mereka yang terus bersedia belajar bersama.
Selamat melanjutkan perjalanan pengabdian.
Jarak mungkin bertambah jauh, tetapi persahabatan, rasa hormat, dan doa baik akan selalu menemukan jalannya.
Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah perjalanan menjadi bermakna bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan siapa saja yang pernah berjalan bersama kita.
Salam hormat dari bestiemu,
Abdulloh Aup
"Guru yang biasa-biasa saja."


Komentar
Posting Komentar