Catatan Refleksi Kelulusan Guru Pejuang Digital
Menjawab Tantangan Society 5.0: Refleksi Seorang Mahasiswa Doktor Pendidikan dalam Perjalanan Menjadi Guru Pejuang Digital
Oleh: Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang
Guru UPTD SMP Negeri 1 Blega, Pamong Science Expedition Learning (SEL), dan Anggota KOMPAK TERBANG
Di tengah derasnya arus transformasi digital, kita sering mendengar istilah Society 5.0, sebuah konsep masyarakat masa depan yang menempatkan teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Big Data, dan berbagai teknologi cerdas lainnya hadir bukan sekadar sebagai alat bantu, melainkan sebagai bagian dari sistem kehidupan yang terintegrasi.
Namun, sebagai seorang pendidik sekaligus mahasiswa doktor pendidikan, saya sering bertanya pada diri sendiri: Apakah sekolah kita telah siap menghadapi perubahan ini? Apakah ruang-ruang kelas kita sudah mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan bersama?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika saya mengikuti Program Guru Pejuang Digital (GPD) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Alhamdulillah, saya dinyatakan lulus setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran dan tantangan praktik baik yang diberikan.
Bagi sebagian orang, kelulusan mungkin dipandang sebagai garis akhir. Namun bagi saya, justru sebaliknya. Kelulusan ini merupakan titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menghadirkan transformasi pendidikan yang relevan dengan tuntutan Society 5.0.
Belajar Menjadi Pendidik di Era Disrupsi
Melalui platform LMS Ruang GTK, saya memperoleh pengalaman belajar yang mempertemukan teori, praktik, dan inovasi digital dalam pendidikan. Program ini dibangun di atas tiga fondasi utama yang menurut saya sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan masa depan.
Pertama, penguatan kompetensi digital, yang memperkenalkan pemanfaatan AI dalam pembelajaran, pengembangan media digital, content creation, hingga pengenalan computational thinking melalui aktivitas koding sederhana.
Kedua, implementasi teknologi dalam praktik pendidikan, di mana peserta didorong untuk mengintegrasikan berbagai perangkat dan platform digital seperti Interactive Flat Panel (IFP) serta ekosistem Rumah Pendidikan dalam proses pembelajaran.
Ketiga, kolaborasi dan inovasi, yang menempatkan guru sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna, kreatif, dan berpusat pada peserta didik.
Sebagai mahasiswa doktor pendidikan, saya melihat bahwa ketiga pilar tersebut bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari transformasi paradigma pendidikan menuju pembelajaran yang lebih humanis, adaptif, dan berorientasi masa depan.
Society 5.0 dan Kepemimpinan Pendidikan
Dalam berbagai kajian akademik, Society 5.0 menekankan pentingnya harmonisasi antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, peran guru tidak akan pernah tergantikan oleh teknologi.
Yang mungkin terjadi adalah perubahan cara guru bekerja, berinteraksi, dan memfasilitasi pembelajaran.
Saya meyakini bahwa kecerdasan buatan tidak akan menggantikan guru. Namun guru yang tidak mau beradaptasi dengan teknologi berpotensi tertinggal oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara bijak.
Di sinilah pentingnya kepemimpinan pendidikan yang transformatif. Guru tidak lagi hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator, mentor, inovator, dan penggerak perubahan.
Dari Pembelajar Menjadi Penggerak
Kelulusan sebagai Guru Pejuang Digital memberikan refleksi mendalam bahwa tugas seorang pendidik tidak berhenti pada peningkatan kompetensi diri. Lebih dari itu, ilmu dan pengalaman yang diperoleh harus memberikan dampak bagi lingkungan sekitar.
Sebagai guru sekaligus mahasiswa doktor pendidikan, saya memiliki beberapa komitmen yang ingin terus diwujudkan:
Menjadi pendamping bagi rekan sejawat dalam pemanfaatan teknologi pendidikan.
Mengembangkan pembelajaran berbasis AI, dekat dengan alam, literasi digital, dan computational thinking di sekolah.
Menguatkan budaya kewargaan digital (digital citizenship) yang beretika dan bertanggung jawab.
Mengintegrasikan gerakan literasi melalui komunitas KOMPAK TERBANG dengan ekosistem digital yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21.
Mengembangkan inovasi pembelajaran yang berpusat pada student agency sebagai bekal generasi masa depan.
Dari Blega untuk Indonesia
Menjadi mahasiswa doktor pendidikan mengajarkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Kelulusan sebagai Guru Pejuang Digital bukanlah tentang sertifikat atau pengakuan semata. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk terus belajar, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan pendidikan.
Saya percaya bahwa ruang kelas di pelosok sekalipun memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi laboratorium masa depan. Dengan semangat kolaborasi, literasi, dan transformasi digital, kita dapat mempersiapkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi Society 5.0, tetapi juga mampu menjadi pemimpin perubahan di dalamnya.
Mari bergerak bersama, membangun pendidikan yang lebih adaptif, humanis, dan bermakna.
Salam Literasi. Salam Transformasi Pendidikan.

Komentar
Posting Komentar