Ketika Pendidikan Harus Kembali Belajar dari Alam


Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Kenangan Tentang SEL: Ketika Pendidikan Harus Kembali Belajar dari Alam

5 Juni selalu mengingatkan saya pada satu hal: alam tidak pernah berhenti mengajar manusia. Yang sering terjadi justru manusialah yang berhenti belajar dari alam.

Hari ini dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di berbagai tempat orang menanam pohon, membagikan poster hijau, mengunggah kampanye penyelamatan bumi, dan berbicara tentang keberlanjutan.

Namun bagi saya, tanggal ini membawa ingatan yang lebih personal.

Ingatan tentang sekelompok siswa yang dahulu berjalan menyusuri sungai, mengamati tumbuhan, mencatat fenomena alam, berdiskusi tentang lingkungan, dan belajar langsung dari kehidupan.

Ingatan tentang sebuah komunitas kecil yang kami bangun pada tahun 2015 bernama Science Expedition Learning (SEL).

Hari ini SEL memang sedang hiatus.

Tetapi gagasannya tidak pernah benar-benar berhenti hidup.

"Ketika manusia merasa menjadi pemilik bumi, kerusakan dimulai. Ketika manusia menyadari dirinya hanya penjaga sementara, peradaban menemukan harapan." 🌱


Ketika pertama kali mendirikan SEL, saya memiliki kegelisahan sederhana.

Sekolah sering kali terlalu sibuk mengajarkan teori, tetapi kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengalami kehidupan secara langsung.

Anak-anak mengetahui definisi ekosistem, tetapi tidak pernah benar-benar mengamati ekosistem.

Mereka memahami konsep pencemaran lingkungan dari buku pelajaran, tetapi tidak pernah berdiri di tepi sungai yang tercemar.

Mereka menghafal tentang konservasi, tetapi tidak pernah merasakan bagaimana sulitnya menjaga sebuah kawasan agar tetap lestari.

Padahal pendidikan sejatinya bukan hanya transfer pengetahuan.

Pendidikan adalah perjumpaan antara manusia dengan realitas.

Karena itulah SEL lahir.

Bukan sekadar ekstrakurikuler.

Bukan sekadar organisasi siswa.

SEL adalah ruang belajar yang mencoba membawa pendidikan kembali ke habitat aslinya: kehidupan.

Kami percaya bahwa pengalaman sering kali menjadi guru yang lebih kuat daripada ceramah.

Bahwa melihat langsung lebih bermakna daripada membaca.

Bahwa menyentuh tanah, mengamati pohon, mendengar suara burung, dan menyaksikan kondisi lingkungan secara nyata akan meninggalkan jejak pembelajaran yang jauh lebih dalam dibandingkan lembar soal pilihan ganda.

"Pendidikan sejati bukan membuat manusia mampu menaklukkan alam, tetapi menyadarkannya bahwa ia adalah bagian dari alam."


Kini, sebelas tahun setelah SEL berdiri, saya melihat Indonesia menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Banjir datang hampir setiap tahun.

Longsor menghantui kawasan pegunungan.

Kebakaran hutan terus berulang.

Sampah plastik memenuhi sungai dan lautan.

Krisis iklim perlahan mengubah pola kehidupan masyarakat.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan lagi mengapa bencana terjadi.

Melainkan mengapa kita terus mengulangi kesalahan yang sama.

Di sinilah saya teringat pada pemikiran filsuf Prancis, Jean-Jacques Rousseau, yang pernah mengatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, tetapi rusak oleh cara hidup yang dibangunnya sendiri.

Mungkin itulah yang sedang kita alami.

Bumi tidak sedang marah.

Alam tidak sedang membenci manusia.

Alam hanya bekerja sesuai hukum-hukumnya.

Ketika hutan hilang, air kehilangan tempat menyerap.

Ketika sungai rusak, banjir menjadi lebih mudah terjadi.

Ketika gunung dilukai, longsor menjadi konsekuensi logis.

Alam tidak menghukum.

Alam hanya memperlihatkan akibat.

"Pendidikan terbaik terjadi ketika kaki menyentuh tanah, mata melihat kenyataan, dan hati belajar memahami kehidupan."


Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kerusakan lingkungan tidak lagi berdiri sendiri.

Ia bertemu dengan persoalan sosial yang lebih besar.

Korupsi.

Ketamakan.

Eksploitasi sumber daya.

Mentalitas instan.

Budaya konsumtif.

Kita sering membicarakan bencana alam sebagai persoalan teknis, padahal akar masalahnya sering kali merupakan persoalan moral.

Korupsi misalnya.

Ketika anggaran lingkungan dikorupsi, yang hilang bukan hanya uang negara.

Yang hilang adalah hutan yang seharusnya direhabilitasi.

Yang hilang adalah sungai yang seharusnya dibersihkan.

Yang hilang adalah masa depan yang seharusnya diwariskan.

Karena itu korupsi dan kerusakan lingkungan sesungguhnya adalah dua sisi dari penyakit yang sama: ketidakmampuan manusia membatasi hasratnya.

Refleksi yang juga muncul dalam berbagai fenomena budaya populer hari ini, termasuk perdebatan yang mengiringi film Pesta Babi.

Di balik kontroversinya, kita dapat membaca simbol tentang kerakusan manusia yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dan bukankah sejarah kerusakan lingkungan juga merupakan sejarah tentang manusia yang gagal mengendalikan keinginannya?

"Setiap pohon yang tumbang bukan sekadar kehilangan batang dan daun, melainkan hilangnya sepotong kebijaksanaan yang gagal dipahami manusia."


Ironisnya, semua ini terjadi ketika kita hidup di era Society 5.0.

Era ketika teknologi berkembang begitu pesat.

Artificial Intelligence mampu menjawab jutaan pertanyaan.

Data tersedia dalam hitungan detik.

Canva memungkinkan guru menciptakan media pembelajaran yang kreatif dan menarik.

Dunia digital membuka akses pengetahuan yang hampir tak terbatas.

Namun saya semakin percaya bahwa masalah terbesar manusia bukan kekurangan teknologi.

Masalah terbesar manusia adalah kekurangan kebijaksanaan.

Teknologi dapat membantu manusia mengetahui banyak hal.

Tetapi hanya pendidikan yang dapat membantu manusia memahami makna dari apa yang diketahuinya.

Teknologi dapat membuat kita pintar.

Tetapi pendidikan yang humanislah yang membuat kita bijaksana.

"Era Society 5.0 akan gagal jika kecerdasan digital tumbuh lebih cepat daripada kesadaran ekologis."


Di sinilah saya melihat kembali makna SEL.

Mungkin selama ini kita terlalu fokus mengajarkan siswa tentang lingkungan.

Padahal yang lebih penting adalah mengajarkan siswa untuk memiliki hubungan dengan lingkungan.

Orang tidak akan menjaga sesuatu yang tidak dicintainya.

Dan seseorang tidak akan mencintai sesuatu yang tidak pernah dikenalnya.

Karena itu pendidikan lingkungan harus melampaui slogan.

Ia harus menjadi pengalaman.

Ia harus menjadi kebiasaan.

Ia harus menjadi budaya.

"SEL lahir dari keyakinan sederhana: manusia akan menjaga apa yang pernah ia cintai, dan ia hanya akan mencintai apa yang benar-benar ia kenali."


Jika ada pelajaran yang saya dapatkan dari perjalanan SEL sejak 2015 hingga hari ini, pelajaran itu sederhana:

Perubahan besar selalu dimulai dari pengalaman kecil yang bermakna.

Seorang siswa yang belajar menanam pohon hari ini mungkin akan menjadi pemimpin yang menolak perusakan hutan di masa depan.

Seorang anak yang belajar mencintai sungai hari ini mungkin akan menjadi ilmuwan yang menyelamatkan ekosistem di masa depan.

Seorang guru yang mengajak muridnya belajar dari alam hari ini mungkin sedang menanam kesadaran yang akan tumbuh puluhan tahun kemudian.

Karena itu saya percaya, meskipun SEL sedang beristirahat, semangatnya tidak boleh ikut berhenti.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan sekadar momentum untuk mengenang apa yang telah hilang.

Ia harus menjadi momentum untuk membangun kembali apa yang masih bisa diselamatkan.

Bukan hanya hutan.

Bukan hanya sungai.

Bukan hanya lingkungan.

Tetapi juga kesadaran manusia itu sendiri.

Sebab pada akhirnya krisis terbesar yang sedang kita hadapi bukanlah krisis iklim.

Bukan pula krisis lingkungan.

Melainkan krisis kebijaksanaan.

Dan solusi paling mendasar bukan hanya teknologi.

Bukan hanya regulasi.

Bukan hanya pembangunan.

Melainkan pendidikan yang mampu mengembalikan manusia kepada hakikatnya: sebagai penjaga kehidupan, bukan penguasa yang merasa memiliki segalanya.

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Untuk bumi.

Untuk masa depan.

Dan untuk semua pelajaran yang diam-diam masih terus diajarkan alam kepada kita.

"Ketika sungai menjadi tempat sampah, sesungguhnya yang tercemar bukan airnya terlebih dahulu, melainkan cara berpikir manusianya."

Abdulloh Aup

@aupdentata

Guru yang biasa saja

Komentar

Postingan Populer