Selamat 100 tahun Gontor

 


Beda Mahfuzhat

Ada satu hal yang menarik ketika bertemu alumni pesantren dari latar yang berbeda.

Sering kali yang berbeda bukan hanya kitab yang dikaji, bukan hanya tradisi yang diwarisi, tetapi bahkan kalimat-kalimat sederhana yang terus hidup di kepala kami hingga hari ini.

Bagi mereka yang tumbuh di lingkungan pesantren modern, khususnya Gontor, tentu sangat akrab dengan mahfuzhat yang begitu populer:

من جد وجد

Man Jadda Wajada.

"Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil."

Kalimat pendek.

Mudah dihafal.

Kuat maknanya.

Begitu populer hingga sering menjadi slogan pendidikan, motivasi belajar, bahkan kutipan di berbagai media sosial.

Namun karena saya berasal dari pesantren yang jauh lebih tradisional—bahkan nama geng pertemanan kami dulu adalah "Kasta Salaf"—versi mahfuzhat yang saya dengar sedikit lebih panjang dan sedikit lebih "berliku".

Bunyinya:

من جهد و جد وجد
و من قرع الباب و لج ولج

Man Jahada wa Jadda Wajada.
Wa Man Qara'al Baaba wa Lajja Walaja.

Siapa yang berjuang dan bersungguh-sungguh akan menemukan hasil.

Dan siapa yang terus mengetuk pintu dengan kesungguhan akan dipersilakan masuk.

Jika direnungkan, kedua mahfuzhat itu sesungguhnya mengajarkan hal yang sama: tentang ikhtiar.

Namun ada nuansa yang sedikit berbeda.

"Man Jadda Wajada" menekankan kesungguhan.

Sementara "Man Jahada wa Jadda Wajada" seolah mengingatkan bahwa kesungguhan saja kadang belum cukup.

Ada unsur jahada di sana.

Ada perjuangan.

Ada kelelahan.

Ada jatuh bangun.

Ada proses panjang yang sering kali tidak romantis.

Karena hidup memang tidak selalu memberi hasil kepada yang sekadar ingin.

Hidup lebih sering berpihak kepada mereka yang tetap berjalan meskipun lelah.


Bagian kedua bahkan lebih menarik.

"Wa Man Qara'al Baaba wa Lajja Walaja."

Siapa yang mengetuk pintu dan terus bersungguh-sungguh, akan masuk.

Bukan sekadar mengetuk.

Tetapi mengetuk berulang kali.

Dengan kesabaran.

Dengan ketekunan.

Dengan keyakinan bahwa di balik pintu itu ada sesuatu yang layak diperjuangkan.

Bukankah hampir semua pencapaian besar dalam hidup memiliki pola yang sama?

Pengetahuan.

Karier.

Persahabatan.

Perjuangan sosial.

Bahkan doa.

Semuanya sering kali adalah proses mengetuk pintu yang sama berkali-kali sebelum akhirnya terbuka.


Mungkin itulah mengapa saya selalu menyukai mahfuzhat.

Ia tidak sekadar mengajarkan bahasa Arab.

Ia mengajarkan cara memandang kehidupan.

Beberapa baris kalimat sederhana mampu menyimpan filsafat yang kadang lebih dalam daripada buku-buku motivasi modern.

Bahwa keberhasilan bukan hadiah.

Ia adalah akibat.

Bahwa jalan tidak selalu terbuka sejak awal.

Kadang kita harus terus mengetuknya.

Bahwa kesungguhan tanpa perjuangan adalah angan-angan.

Dan perjuangan tanpa kesungguhan hanya akan menjadi kelelahan.


Di tengah peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor, saya jadi teringat kembali betapa pesantren-pesantren di negeri ini, baik modern maupun salaf, sesungguhnya sedang mengajarkan hal yang sama kepada para santrinya.

Tentang disiplin.

Tentang kesabaran.

Tentang adab.

Tentang perjuangan.

Tentang keyakinan bahwa ilmu tidak akan datang kepada mereka yang malas mencarinya.

Perbedaan mahfuzhat hanyalah perbedaan redaksi.

Tetapi ruh yang dibawanya tetap sama.

Yaitu membentuk manusia yang tidak mudah menyerah.

Maka dari sudut kecil seorang alumni pesantren tradisional yang dulu bangga menyebut dirinya bagian dari "Kasta Salaf", saya mengucapkan:

Ngaturaken tahni'ah. Baarakallahu fiikum.

Selamat 100 tahun untuk seluruh keluarga besar dan alumni Gontor.

Semoga terus menjadi pintu ilmu yang tak pernah lelah diketuk oleh para pencari ilmu dari berbagai penjuru negeri.

Karena pada akhirnya, siapa yang terus mengetuk pintu dengan kesungguhan, insyaallah akan dipersilakan masuk.

ومن قرع الباب ولج

Komentar

Postingan Populer