Perjalanan Lima Jam Menuju Ruang Bertumbuh

 




Perjalanan Lima Jam Menuju Ruang Bertumbuh

Catatan dari Kelompok 8 Check Point Implementasi PjBL Wardah Inspiring Teacher Gen 8 Sidoaarjo

"Tidak semua pertemuan membutuhkan waktu yang lama. Ada yang hanya berlangsung beberapa jam, tetapi mampu meninggalkan jejak yang bertahan lama."

Jujur saja, sebelum kegiatan dimulai saya sempat dihampiri rasa khawatir.

Bagaimana kalau saya justru menjadi beban bagi kelompok?

Bagaimana kalau suasana diskusi terasa kaku?

Bagaimana kalau saya tidak bisa mengikuti ritme teman-teman yang baru pertama kali bertemu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya hingga akhirnya nama kelompok diumumkan.

Kelompok 8.

Sebuah kelompok kecil yang dipertemukan dalam Check Point Implementasi Project Based Learning (PjBL) Wardah Inspiring Teacher Gen 8 di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom, Sidoarjo.

Di kelompok inilah saya dipertemukan dengan orang-orang hebat.

Dipandu oleh fasilitator yang luar biasa, Ibu Lailatur Rohmah dari SMK Negeri 13 Surabaya, kami mulai menyusun langkah demi langkah implementasi Project Based Learning. Beliau bukan sekadar memfasilitasi diskusi, tetapi menghadirkan suasana belajar yang hangat. Beliau memberi ruang kepada setiap anggota untuk berbicara, mendengar, sekaligus bertumbuh bersama.

Anggota Kelompok 8 berasal dari berbagai daerah dan jenjang pendidikan.

Ada Yunita Rahmah, S.Pd. dari UPT SMP Negeri 2 Gresik.

Kholifatus Zuhriyah, S.Pd. dari SD Khazanah Ilmu Sidoarjo.

Ardes Tri Murni dari SDIT Insan Kamil Sidoarjo.

Indrawati dari SMP Negeri 1 Camplong.

Laela Dwi K. S., S.Si. dari SMP Al-Ikhlas Tarokan.

Dan saya sendiri, Abdulloh, dari UPTD SMP Negeri 1 Blega.

Berbeda sekolah.

Berbeda daerah.

Berbeda pengalaman.

Namun ternyata memiliki frekuensi yang sama.

Kami hanya dipertemukan sekitar lima jam.

Tetapi rasanya... lengket seperti perangko.

Tawa mengalir begitu saja.

Diskusi berlangsung tanpa sekat.

Setiap ide dihargai.

Setiap pendapat mendapat tempat.

Tidak ada yang merasa paling hebat.

Tidak ada yang ingin menjadi pusat perhatian.

Yang ada hanyalah keinginan agar proyek yang sedang kami rancang benar-benar memberi manfaat bagi peserta didik.

Ruangan yang sejuk di SD Muhammadiyah 1 Pucanganom menjadi saksi bagaimana kami begitu sibuk. Kertas-kertas penuh coretan mulai memenuhi meja. Catatan refleksi terus bertambah. Ide demi ide saling bersahutan. Kami menyusun rancangan Project Based Learning, merancang alur kegiatan, hingga mempersiapkan video reels berdurasi 50 detik yang akan menjadi bagian dari implementasi proyek kami.

Namun yang paling berharga bukanlah produk yang sedang kami susun.

Yang paling berharga justru prosesnya.

Kami belajar saling mendengarkan.

Belajar menerima kritik.

Belajar memberi masukan.

Belajar menambal kekurangan satu sama lain.

......




















......

Refleksi yang kami lakukan bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk memastikan bahwa apa yang sudah baik tetap dipertahankan, dan apa yang masih kurang dapat diperbaiki bersama.

Barangkali, beginilah seharusnya belajar.

Bukan tentang siapa yang paling pintar.

Melainkan tentang siapa yang bersedia terus belajar.

Saya semakin yakin bahwa komunitas belajar bukan sekadar tempat bertukar pengetahuan. Ia adalah ruang yang menumbuhkan rasa percaya, rasa memiliki, dan rasa ingin bertumbuh bersama. Dalam waktu yang singkat, orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal dapat berubah menjadi teman seperjalanan yang saling menguatkan.

Terima kasih, Wardah Inspiring Teacher Gen 8, karena telah menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga mempertemukan hati-hati yang memiliki semangat yang sama.

Terima kasih kepada Ibu Lailatur Rohmah yang telah mendampingi kami dengan penuh kesabaran dan ketulusan.

Terima kasih kepada seluruh sahabat di Kelompok 8. Mungkin waktu kebersamaan kita hanya lima jam, tetapi kenangannya akan tinggal jauh lebih lama daripada itu.

Saya percaya, guru-guru yang rela meninggalkan rumah, menempuh perjalanan jauh, meluangkan waktu di tengah kesibukan, bukan sedang mengejar sertifikat atau sekadar memenuhi undangan. Mereka sedang merawat sebuah harapan. Harapan agar setiap ruang kelas yang mereka masuki menjadi ruang yang lebih hidup, lebih manusiawi, dan lebih bermakna bagi setiap peserta didik.

Karena sesungguhnya, guru yang terus belajar sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri.

Ia sedang membangun peradaban.

Dan peradaban yang besar tidak hanya lahir dari kecerdasan, tetapi juga dari guru-guru yang terus menjaga ilmu dengan adab, mengajar dengan hati, serta mendidik dengan keteladanan.

Sebab saya percaya, kelas bukan sekadar tempat belajar. Kelas adalah pabrik peradaban yang akan menghantarkan Indonesia menuju bangsa yang Adil dan beradab.

"Teruslah bertumbuh tanpa merasa paling tinggi. Sebab ilmu menumbuhkan kecerdasan, tetapi kerendahan hati melahirkan kebijaksanaan."
— Abdulloh Aup "Guru yang Biasa Saja" 


JANGAN LUPA IKUTI  🔽 Terima Kasih  🔽😁

 🔽

Komentar

Postingan Populer