MANUSIA MULAI MENCINTAI PEKERJAANNYA LEBIH DARIPADA KEHIDUPANNYA

 


KEGILAAN PALING ANEH DI MASYARAKAT MODERN: KETIKA MANUSIA MULAI MENCINTAI PEKERJAANNYA LEBIH DARIPADA KEHIDUPANNYA

Membaca Kembali Paul Lafargue, “The Right to Be Lazy”, di Tengah Budaya Produktivitas, Hustle Culture, dan Krisis Waktu untuk Menjadi Manusia

Ada sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar tidak produktif di tengah dunia yang sedang berlari: untuk apa sebenarnya manusia bekerja? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi semakin sulit dijawab ketika pekerjaan telah menjadi ukuran harga diri, status sosial, identitas, bahkan ukuran moral seseorang. Kita hidup dalam zaman ketika kalimat “Saya sedang sibuk” sering terdengar seperti sebuah prestasi. Seseorang yang tidur sedikit dianggap pekerja keras. Seseorang yang pulang larut dianggap berdedikasi. Seseorang yang selalu tersedia dianggap profesional. Bahkan kelelahan kadang dipamerkan seperti medali: “Belum tidur, masih menyelesaikan pekerjaan.” Di tengah kebudayaan semacam itulah gagasan Paul Lafargue terasa kembali mengganggu kesadaran kita. Pada 1883, dalam esainya The Right to Be Lazy, Lafargue menyerang apa yang ia sebut sebagai “cinta terhadap kerja” yang telah berubah menjadi hasrat berlebihan sampai menguras tenaga hidup manusia. Ia tidak sedang memuliakan kemalasan dalam pengertian tidak melakukan apa-apa, melainkan mengkritik masyarakat yang menjadikan kerja sebagai semacam dogma moral dan lupa bahwa manusia memiliki kehidupan yang jauh lebih luas daripada pekerjaannya. (Marxists Archive)

LAFARGUE TIDAK SEDANG MENGAJARKAN MANUSIA UNTUK MALAS

Kalimat “hak untuk malas” mudah disalahpahami. Jika dibaca sepintas, Lafargue seolah-olah sedang mengajak manusia meninggalkan tanggung jawab dan memilih bermalas-malasan. Padahal sasaran kritiknya jauh lebih dalam. Ia hidup pada abad ke-19, ketika industrialisasi sedang mengubah manusia menjadi tenaga produksi dan jam kerja yang sangat panjang merupakan kenyataan bagi banyak pekerja. Dalam The Right to Be Lazy, Lafargue menyerang gagasan bahwa semakin banyak seseorang bekerja, semakin baik pula dirinya sebagai manusia. Ia melihat bahwa ketika kerja dipuja tanpa batas, manusia berisiko kehilangan waktu untuk menikmati hidup, mengembangkan pikiran, beristirahat, mencintai, berkesenian, bersosialisasi, dan menjadi manusia secara utuh. Buku tersebut pertama kali diterbitkan pada 1883 dan terdiri antara lain atas bab “A Disastrous Dogma”, “Blessings of Work”, “The Consequences of Over-Production”, dan “New Songs to New Music”. (Marxists Archive)

Karena itu, “malas” dalam Lafargue lebih tepat dibaca sebagai kritik terhadap dominasi kerja atas kehidupan, bukan pembelaan terhadap kemalasan yang tidak bertanggung jawab. Ia bahkan menghubungkan perkembangan teknologi dengan kemungkinan mengurangi waktu kerja manusia. Dalam pandangannya, mesin seharusnya membantu manusia memperoleh lebih banyak waktu bebas, bukan justru membuat manusia bekerja semakin lama untuk menghasilkan semakin banyak barang. Ironinya, teknologi yang seharusnya membebaskan manusia dapat berubah menjadi alat untuk mempercepat produksi, memperluas target, meningkatkan tuntutan, dan membuat manusia semakin sibuk. (Marxists Archive)

Di sinilah pemikiran Lafargue terasa sangat kontemporer. Kita mungkin telah meninggalkan pabrik abad ke-19, tetapi belum tentu meninggalkan mentalitas kerja abad ke-19.

DULU MESIN MEMAKSA MANUSIA BEKERJA; SEKARANG MANUSIA MEMBAWA MESIN KE MANA-MANA

Ada sesuatu yang berubah secara radikal sejak Lafargue menulis gagasannya. Pada masa industrialisasi, persoalan utamanya adalah manusia berada di dalam pabrik dan harus mengikuti ritme mesin. Hari ini, mesin justru berada di dalam saku kita. Ponsel membuat pekerjaan dapat masuk ke ruang makan, kamar tidur, perjalanan, liburan, bahkan percakapan keluarga. Pesan kerja dapat muncul kapan saja. Grup kantor tidak mengenal jam biologis. Email tidak tidur. Notifikasi tidak mengenal hari Minggu.

Teknologi digital memang memberikan fleksibilitas dan banyak manfaat. Namun, fleksibilitas dapat berubah menjadi keterhubungan tanpa batas ketika seseorang merasa harus selalu tersedia. International Labour Organization mencatat bahwa digitalisasi dan konektivitas terus-menerus dapat memperpanjang waktu kerja dan mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. (International Labour Organization)

Maka ada paradoks besar dalam kehidupan modern: kita memiliki semakin banyak alat untuk menghemat waktu, tetapi sering kali justru semakin sedikit merasa memiliki waktu.

Kita menggunakan aplikasi agar pekerjaan selesai lebih cepat, lalu mengisi waktu yang tersisa dengan pekerjaan tambahan. Kita menggunakan AI agar tulisan selesai lebih cepat, kemudian menggunakan kecepatan itu untuk menerima lebih banyak tugas. Kita memiliki kalender digital agar hidup lebih teratur, tetapi kalender itu penuh sampai tidak menyisakan ruang kosong untuk sekadar duduk dan berpikir.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Apakah teknologi membuat kita lebih produktif?”

Pertanyaan yang lebih filosofis adalah:

“Produktif untuk apa?”

KETIKA PRODUKTIVITAS MENJADI AGAMA BARU

Masyarakat modern mempunyai satu kata yang sangat disukai: produktif.

Hari harus produktif.
Akhir pekan harus produktif.
Liburan harus produktif.
Membaca harus produktif.
Olahraga harus produktif.
Bahkan istirahat pun kadang harus memiliki tujuan produktivitas.

Kita mulai merasa bersalah ketika tidak menghasilkan sesuatu.

Duduk menikmati hujan dianggap membuang waktu. Berjalan tanpa tujuan dianggap tidak produktif. Mengobrol panjang dengan keluarga dianggap tidak menghasilkan apa-apa. Membaca novel yang tidak berhubungan dengan pekerjaan dianggap kurang berguna. Tidur siang dianggap kemalasan. Bermain bersama anak dianggap gangguan pekerjaan jika dilakukan ketika ada tenggat.

Padahal kehidupan manusia tidak pernah hanya terdiri atas aktivitas yang menghasilkan sesuatu secara langsung.

Tidak semua yang bernilai dapat dihitung.

Pelukan tidak produktif dalam terminologi ekonomi. Persahabatan tidak menghasilkan laporan bulanan. Membaca puisi tidak meningkatkan angka penjualan secara langsung. Memandang matahari terbenam tidak menghasilkan output. Berbicara dengan orang tua tidak menambah portofolio. Bermain dengan anak tidak meningkatkan KPI.

Tetapi apakah semua itu tidak bernilai?

Justru di sinilah kita perlu membedakan nilai manusia dari nilai ekonomi.

Ketika seluruh kehidupan diukur menggunakan logika produktivitas, manusia berisiko melihat dirinya sendiri seperti sebuah mesin: selama menghasilkan sesuatu, ia merasa berharga; ketika berhenti menghasilkan, ia merasa tidak berguna.

Dan itu adalah persoalan yang jauh lebih serius daripada sekadar kelelahan.

KETIKA “SIBUK” MENJADI IDENTITAS

Ada orang yang sebenarnya sudah lelah, tetapi takut mengatakan lelah.

Ada orang yang sebenarnya ingin berhenti sejenak, tetapi takut dianggap tidak ambisius.

Ada orang yang ingin pulang tepat waktu, tetapi merasa bersalah karena teman-temannya masih bekerja.

Ada orang yang sedang bersama keluarganya, tetapi pikirannya masih berada di kantor.

Ada pula orang yang bahkan ketika sedang berlibur tetap membuka laptop karena merasa dunia akan berhenti jika ia tidak bekerja sehari.

Lalu kita bertanya:

Kapan terakhir kali kita benar-benar tidak melakukan apa-apa tanpa merasa bersalah?

Pertanyaan ini penting karena kerja telah mengalami perubahan makna. Dahulu pekerjaan adalah salah satu bagian dari kehidupan. Sekarang, bagi sebagian orang, pekerjaan telah menjadi identitas utama kehidupan.

Saya guru.

Saya dosen.

Saya pengusaha.

Saya dokter.

Saya pejabat.

Saya content creator.

Saya CEO.

Identitas profesi tentu tidak salah. Masalah muncul ketika “apa yang saya kerjakan” berubah menjadi “siapa saya sepenuhnya.”

Jika pekerjaan gagal, identitas ikut runtuh.

Jika jabatan hilang, harga diri ikut jatuh.

Jika seseorang pensiun, ia merasa tidak lagi memiliki alasan untuk bangun pagi.

Jika sebuah proyek tidak berhasil, ia merasa dirinya tidak berguna.

Padahal manusia jauh lebih luas daripada pekerjaannya.

Kita bukan hanya profesi kita.

Kita adalah anak bagi orang tua. Orang tua bagi anak. Sahabat bagi seseorang. Tetangga bagi lingkungan. Warga bagi masyarakat. Makhluk spiritual yang memiliki pertanyaan tentang makna. Manusia yang membutuhkan cinta, permainan, kesunyian, persahabatan, keluarga, seni, alam, dan waktu untuk mengenali dirinya sendiri.

ANEHNYA, KITA BANGGA KETIKA DIRI KITA DIPERAS

Ada satu fenomena yang menurut saya sangat menarik dalam budaya kerja modern: kelelahan sering kali berubah menjadi simbol status.

“Saya cuma tidur tiga jam.”

“Seminggu ini belum sempat pulang cepat.”

“Saya kerja sampai tengah malam.”

“Saya belum sempat makan.”

Kalimat-kalimat tersebut terkadang disampaikan bukan sebagai keluhan, melainkan sebagai bukti bahwa seseorang sangat berdedikasi.

Di sinilah kritik Lafargue menjadi tajam.

Jika seseorang bangga karena tubuhnya semakin lelah, pikirannya semakin penuh, keluarganya semakin jarang ditemui, dan hidupnya semakin tidak memiliki ruang kosong, mungkin masalahnya bukan hanya pada banyaknya pekerjaan, tetapi pada nilai yang kita berikan kepada pekerjaan itu sendiri.

International Labour Organization mencatat bahwa jam kerja berlebihan dan kurangnya waktu istirahat dapat merusak kesehatan dan meningkatkan risiko kecelakaan kerja; jam kerja panjang juga dapat mengurangi kesempatan seseorang untuk memenuhi tanggung jawab keluarga dan berpartisipasi dalam komunitas. Dalam laporan globalnya, ILO memperkirakan lebih dari sepertiga pekerja dunia secara rutin bekerja lebih dari 48 jam per minggu. (International Labour Organization)

Jadi, kritik terhadap budaya kerja berlebihan bukan romantisme anti-kerja.

Ia memiliki dasar yang sangat konkret.

Tubuh manusia memang memiliki batas.

BURNOUT BUKAN MEDALI KEHORMATAN

Kita perlu berhenti memuliakan burnout.

World Health Organization memasukkan burn-out dalam ICD-11 sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, bukan sebagai penyakit medis. WHO mendefinisikannya sebagai sindrom yang muncul akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, dengan tiga karakteristik utama: kehabisan energi, meningkatnya jarak mental atau sinisme terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional. (World Health Organization)

Perhatikan bagian terakhir: menurunnya efektivitas profesional.

Ini penting.

Budaya kerja berlebihan sering mengira bahwa lebih banyak jam berarti lebih banyak hasil. Padahal manusia bukan mesin yang dapat terus dinaikkan kecepatannya tanpa konsekuensi.

Kelelahan dapat membuat kita kehilangan konsentrasi. Tekanan yang terus-menerus dapat mengurangi kreativitas. Kurangnya istirahat dapat memengaruhi kemampuan mengambil keputusan. Dan ketika pekerjaan yang awalnya kita cintai mulai membuat kita sinis terhadap pekerjaan itu sendiri, kita perlu bertanya apakah yang sedang kita pertahankan masih merupakan dedikasi atau sudah berubah menjadi pengorbanan yang tidak sehat.

Guru yang kelelahan bukan guru yang lebih mulia hanya karena ia bekerja sampai malam.

Dokter yang tidak pernah beristirahat bukan otomatis dokter yang lebih manusiawi.

Pemimpin yang selalu paling sibuk bukan otomatis pemimpin yang paling penting.

Pegawai yang selalu tersedia bukan otomatis pegawai yang paling berdedikasi.

Kita harus mulai memisahkan etos kerja dari kultus kerja.

GURU JUGA MANUSIA, BUKAN MESIN PEMBELAJARAN

Sebagai seorang pendidik, saya melihat persoalan ini menjadi semakin menarik ketika dibawa ke dunia pendidikan.

Guru sering dipuji karena “rela berkorban”. Guru yang datang paling pagi dan pulang paling malam dianggap luar biasa. Guru yang membawa pekerjaan sekolah ke rumah dianggap berdedikasi. Guru yang terus menjawab pesan sampai larut malam dianggap bertanggung jawab.

Tentu, dedikasi guru adalah sesuatu yang penting.

Tetapi ada pertanyaan yang harus berani kita ajukan: apakah pendidikan yang baik harus selalu dibangun di atas kelelahan gurunya?

Jika seorang guru tidak memiliki waktu membaca, bagaimana ia akan terus bertumbuh secara intelektual? Jika guru tidak memiliki waktu bersama keluarga, bagaimana ia memahami kehidupan yang menjadi konteks pendidikan? Jika guru tidak memiliki waktu untuk diam dan berpikir, bagaimana ia dapat merancang pembelajaran yang reflektif?

Guru membutuhkan waktu bukan hanya untuk bekerja, tetapi juga untuk menjadi manusia.

UNESCO menekankan bahwa kesejahteraan psikososial guru berhubungan dengan kualitas pendidikan; guru bukan hanya mengajar materi, tetapi juga menghadapi kebutuhan emosional, sosial, dan perkembangan peserta didik. Beban kerja yang berat dan tuntutan yang terus bertambah karena itu bukan persoalan pribadi guru semata, melainkan juga persoalan kualitas sistem pendidikan. (IICBA)

Guru yang memiliki ruang untuk hidup mungkin justru memiliki lebih banyak sesuatu untuk dibawa ke kelas: pengalaman, cerita, kesabaran, kreativitas, empati, dan kedalaman berpikir.

Sebab pendidikan tidak lahir dari manusia yang hanya bekerja. Pendidikan lahir dari manusia yang mengalami kehidupan.

SEKOLAH JUGA PERLU BELAJAR TENTANG “LEISURE”

Ini mungkin terdengar aneh bagi dunia pendidikan: sekolah perlu mengajarkan seni tidak selalu produktif.

Anak-anak kita tumbuh dalam budaya target.

Nilai.
Ranking.
Prestasi.
Sertifikat.
Kompetisi.
Portofolio.
Proyek.
Lomba.

Semua itu memiliki tempatnya.

Tetapi kapan anak belajar menikmati proses tanpa harus selalu menghasilkan penghargaan?

Kapan anak membaca buku hanya karena penasaran?

Kapan anak bermain karena memang ingin bermain?

Kapan anak duduk di bawah pohon dan mengamati semut tanpa harus membuat laporan?

Kapan anak menggambar sesuatu yang tidak dinilai?

Kapan anak berbicara dengan temannya tanpa tujuan akademik?

Kapan anak belajar bahwa hidup bukan sekadar perlombaan menuju prestasi berikutnya?

Jika seluruh waktu anak dipenuhi target, kita mungkin sedang menghasilkan generasi yang sangat terampil mencapai sesuatu, tetapi tidak tahu mengapa sesuatu itu perlu dicapai.

Pendidikan seharusnya tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa dilakukan manusia?”

Pendidikan juga harus bertanya:

“Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?”

LAFARGUE DAN PERTANYAAN TENTANG AI

Di era kecerdasan buatan, kritik Lafargue bahkan memperoleh konteks baru.

Dulu manusia berharap mesin akan mengurangi kerja.

Sekarang AI mampu menulis, menganalisis, menerjemahkan, membuat gambar, merangkum dokumen, menyusun presentasi, membantu pemrograman, dan mengotomatisasi berbagai pekerjaan.

Secara logika, semakin banyak pekerjaan dapat diotomatisasi, seharusnya semakin besar peluang manusia memiliki waktu untuk kehidupan.

Tetapi ada risiko sebaliknya.

AI dapat membuat manusia tidak bekerja lebih sedikit, tetapi bekerja lebih banyak.

Jika sebuah laporan yang sebelumnya membutuhkan tiga jam kini dapat diselesaikan dalam tiga puluh menit, organisasi mungkin tidak berhenti pada penghematan waktu. Bisa saja targetnya dinaikkan: kalau dulu satu laporan, sekarang sepuluh laporan.

Teknologi akhirnya tidak mengurangi tuntutan.

Ia hanya menaikkan standar produktivitas.

Inilah paradoks yang perlu kita waspadai: ketika teknologi semakin cepat, manusia justru merasa harus semakin cepat.

Padahal mungkin tujuan teknologi seharusnya bukan membuat manusia terus berlari.

Mungkin tujuan teknologi adalah memberi manusia kesempatan untuk berhenti sejenak.

KITA HARUS MENGEMBALIKAN MAKNA “WAKTU LUANG”

Waktu luang sering dianggap sebagai waktu yang tersisa setelah semua pekerjaan selesai.

Masalahnya: pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.

Email akan selalu datang.

Pesan akan selalu masuk.

Target akan selalu bertambah.

Ide akan selalu muncul.

Rapat akan selalu bisa dijadwalkan.

Tugas akan selalu dapat diperbaiki.

Jika kita menunggu semua pekerjaan selesai sebelum memberi diri sendiri waktu untuk hidup, mungkin kita akan menunggu sampai tua.

Karena itu, waktu luang bukan sisa waktu.

Waktu luang harus menjadi bagian dari desain kehidupan.

Kita perlu memiliki waktu untuk keluarga sebelum hubungan menjadi renggang. Waktu untuk membaca sebelum pikiran menjadi kering. Waktu untuk tubuh sebelum kesehatan menuntut perhatian. Waktu untuk teman sebelum kesepian menjadi kebiasaan. Waktu untuk spiritualitas sebelum hidup hanya menjadi daftar pekerjaan. Waktu untuk diri sendiri sebelum kita lupa siapa diri kita.

ILO sendiri menekankan pentingnya pengaturan waktu kerja yang memungkinkan istirahat, tanggung jawab keluarga, kehidupan sosial, dan keseimbangan kerja-kehidupan. (International Labour Organization)

Jadi, waktu luang bukan musuh produktivitas. Ia bagian dari kehidupan yang membuat produktivitas manusiawi.

BUKAN BERARTI KITA HARUS BERHENTI BEKERJA

Di sinilah kita perlu berhati-hati membaca Lafargue.

Kita tidak perlu mengambil kesimpulan bahwa bekerja adalah buruk.

Kerja dapat menjadi bentuk tanggung jawab. Kerja dapat menjadi jalan pengabdian. Kerja dapat memberikan martabat, penghasilan, pengalaman, keterampilan, dan kesempatan berkontribusi. Bagi seorang guru, pekerjaan bahkan dapat menjadi bentuk pelayanan kepada manusia lain.

Masalahnya bukan kerja.

Masalahnya adalah ketika kerja menjadi satu-satunya cara kita memahami nilai kehidupan.

Kerja seharusnya menjadi bagian dari hidup.

Bukan hidup yang menjadi bagian dari pekerjaan.

Kalimat itu sederhana, tetapi konsekuensinya sangat besar.

Kita boleh bekerja keras.

Tetapi kita tidak harus menjadikan kelelahan sebagai identitas.

Kita boleh mengejar prestasi.

Tetapi kita tidak harus kehilangan keluarga untuk mendapatkannya.

Kita boleh memiliki ambisi.

Tetapi kita tidak harus mengorbankan kesehatan.

Kita boleh profesional.

Tetapi kita tidak harus tersedia dua puluh empat jam.

Kita boleh produktif.

Tetapi kita juga berhak menjadi manusia.

BARANGKALI YANG KITA BUTUHKAN BUKAN “WORK-LIFE BALANCE”, MELAINKAN LIFE ITSELF

Istilah work-life balance kadang membuat seolah-olah pekerjaan dan kehidupan adalah dua benda yang terpisah dan harus dibagi dengan proporsi tertentu.

Padahal pekerjaan adalah bagian dari kehidupan.

Persoalan sebenarnya bukan membuat pekerjaan dan kehidupan saling berimbang seperti dua benda di atas timbangan.

Persoalannya adalah memastikan pekerjaan tidak menelan seluruh kehidupan.

Seseorang tetap membutuhkan ruang untuk mencintai, bermain, belajar, beristirahat, beribadah, berkawan, berpikir, menikmati alam, merawat tubuh, merawat keluarga, dan bahkan tidak melakukan apa-apa.

Sebab manusia bukan human resource semata.

Istilah “sumber daya manusia” sendiri sebenarnya sudah memberi petunjuk tentang bahaya cara pandang tertentu. Ketika manusia terutama dilihat sebagai sumber daya, kita mudah tergoda untuk bertanya: berapa banyak yang bisa ia hasilkan?

Pendidikan seharusnya mengembalikan pertanyaan yang lebih mendasar:

“Bagaimana manusia dapat hidup dengan bermakna?”

DARI “KERJA KERAS” MENUJU “HIDUP UTUH”

Mungkin sudah waktunya kita mendefinisikan ulang kerja keras.

Kerja keras bukan berarti bekerja tanpa batas.

Kerja keras berarti memberikan kesungguhan pada sesuatu yang memang layak diperjuangkan.

Kerja keras bukan berarti tidak pernah istirahat.

Kerja keras berarti tahu kapan harus bergerak dan kapan harus memulihkan diri.

Kerja keras bukan berarti selalu sibuk.

Kerja keras berarti mampu membedakan mana yang penting dan mana yang hanya membuat kita terlihat sibuk.

Kerja keras bukan berarti mengorbankan seluruh kehidupan.

Kerja keras berarti bekerja dengan cara yang memungkinkan kita tetap memiliki kehidupan setelah pekerjaan selesai.

Dan barangkali, kedewasaan profesional bukan ketika seseorang mampu berkata, “Saya sanggup bekerja sepanjang hari,” tetapi ketika ia mampu berkata, “Saya tahu apa yang harus saya kerjakan, kapan harus berhenti, dan untuk siapa sebenarnya saya bekerja.”

PENDIDIKAN HARUS MENGAJARKAN MANUSIA UNTUK HIDUP, BUKAN HANYA UNTUK BEKERJA

Sebagai calon doktor pendidikan, saya semakin percaya bahwa persoalan pendidikan pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari pertanyaan tentang manusia seperti apa yang ingin kita lahirkan.

Jika sekolah hanya mempersiapkan anak agar menjadi tenaga kerja yang produktif, maka pendidikan kehilangan sebagian besar maknanya.

Anak bukan calon pegawai.

Anak bukan calon mesin ekonomi.

Anak bukan sekadar calon pembayar pajak.

Anak adalah manusia.

Ia kelak akan bekerja, tentu.

Tetapi ia juga akan mencintai. Menjadi orang tua. Menjadi sahabat. Menjadi warga masyarakat. Menghadapi kehilangan. Mengalami kegagalan. Merawat orang tua. Menemukan makna. Bertanya tentang Tuhan. Berhadapan dengan kematian. Menikmati seni. Menolong sesama. Dan suatu hari, mungkin, ia akan duduk sendiri memikirkan apakah hidup yang dijalaninya benar-benar merupakan hidup yang ia pilih.

Maka pendidikan yang baik bukan hanya mengajarkan cara mendapatkan pekerjaan, tetapi juga cara tidak kehilangan diri setelah mendapatkan pekerjaan.

Itulah sebabnya pendidikan karakter tidak cukup jika hanya berbicara tentang disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras.

Kita juga harus mengajarkan batas, keseimbangan, refleksi, keberanian berkata tidak, kemampuan beristirahat, kemampuan menikmati hidup, dan kesadaran bahwa nilai manusia tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh produktivitasnya.

MUNGKIN LAFARGUE HANYA INGIN KITA BERHENTI SEJENAK

Lebih dari satu abad setelah The Right to Be Lazy ditulis, dunia kita memang telah berubah.

Kita memiliki internet.

Kecerdasan buatan.

Robot.

Otomatisasi.

Telekonferensi.

Komputasi awan.

Perangkat pintar.

Namun satu pertanyaan Lafargue masih berdiri di depan kita:

Jika semua teknologi itu akhirnya membuat manusia semakin sibuk, sebenarnya siapa yang sedang dilayani oleh kemajuan?

Jika mesin membuat pekerjaan lebih cepat tetapi target membuat manusia bekerja lebih lama, siapa yang menikmati keuntungan dari kecepatan itu?

Jika AI dapat menghemat waktu tetapi manusia justru mengisi waktu yang dihemat dengan pekerjaan baru, apakah kita benar-benar mendapatkan kebebasan?

Jika seorang guru dapat membuat materi pembelajaran lebih cepat dengan teknologi tetapi kemudian dibebani semakin banyak pekerjaan administratif, apakah teknologi benar-benar membebaskan guru?

Jika anak-anak memiliki lebih banyak akses informasi tetapi tidak memiliki waktu untuk bermain, berbicara, membaca dengan tenang, dan mengenali dirinya sendiri, apakah pendidikan sedang memerdekakan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak memiliki jawaban sederhana.

Tetapi pendidikan yang matang tidak takut mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman.

EPILOG: JANGAN SAMPAI KITA BERHASIL DALAM PEKERJAAN, TETAPI GAGAL DALAM KEHIDUPAN

Mungkin inilah ironi terbesar manusia modern.

Kita mengejar pekerjaan agar kehidupan menjadi lebih baik.

Lalu pekerjaan mengambil seluruh kehidupan kita.

Kita bekerja keras agar keluarga bahagia.

Lalu keluarga mendapatkan sisa waktu kita.

Kita mengejar uang agar memiliki kebebasan.

Lalu kita kehilangan kebebasan karena harus terus mengejar uang.

Kita membeli teknologi untuk menghemat waktu.

Lalu teknologi membawa pekerjaan masuk ke setiap menit kehidupan.

Kita mengejar kesuksesan agar suatu hari dapat menikmati hidup.

Lalu ketika “suatu hari” itu datang, kita tidak lagi tahu bagaimana cara menikmati hidup.

Inilah kegilaan yang mungkin perlu kita renungkan.

Bukan kegilaan karena manusia bekerja.

Tetapi kegilaan ketika manusia mulai menganggap bahwa semakin sedikit waktu yang ia miliki untuk hidup, semakin sukses dirinya.

Paul Lafargue menulis kritiknya dalam konteks kapitalisme dan perjuangan buruh abad ke-19; gagasannya tentu tidak dapat dipindahkan mentah-mentah ke abad ke-21. Tetapi pertanyaan filosofis yang ditinggalkannya masih relevan: apakah kemajuan seharusnya membuat manusia bekerja semakin banyak, atau justru memberi manusia lebih banyak ruang untuk menjadi manusia? Dalam teksnya, Lafargue bahkan melihat pengurangan jam kerja sebagai jalan untuk membuka ruang bagi kehidupan di luar produksi. (Marxists Archive)

Maka mungkin kita tidak membutuhkan slogan “jangan bekerja keras.”

Kita membutuhkan sesuatu yang jauh lebih dewasa:

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan sampai pekerjaan menghabiskan seluruh alasan mengapa hidup layak dijalani.

Bekerjalah.

Belajarlah.

Berkaryalah.

Berkontribusilah.

Tetapi pulanglah.

Peluk keluargamu.

Baca buku yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaanmu.

Duduklah bersama teman.

Berjalanlah tanpa tujuan sesekali.

Beribadahlah dengan tenang.

Tatap langit.

Dengarkan anak-anakmu bercerita.

Rawat tubuhmu.

Diamlah.

Dan sesekali, jangan menghasilkan apa-apa.

Bukan karena kita malas.

Tetapi karena kita sedang mengingat kembali sesuatu yang sering dilupakan oleh masyarakat yang terlalu sibuk mengejar produktivitas:

“Manusia tidak dilahirkan hanya untuk bekerja. Ia bekerja agar dapat menjalani kehidupan sebagai manusia.”

Dan mungkin, pada akhirnya, hak untuk berhenti sejenak adalah salah satu hak paling manusiawi yang harus kita pertahankan di tengah dunia yang terus memerintahkan kita untuk berlari.

— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
Calon Doktor Pendidikan

Referensi utama: Paul Lafargue, The Right to Be Lazy (1883); International Labour Organization, Working Time and Work-Life Balance Around the World; World Health Organization, ICD-11 mengenai burn-out; UNESCO mengenai kesejahteraan dan beban kerja pendidik. (Marxists Archive)

Komentar

Postingan Populer