Teknologi Mengikis Kecerdasan Generasi Z
Prolog
Di tengah gegap gempita digital yang kian membanjir,
Ada suara peringatan yang membuat hati tergetir.
Tentang otak generasi yang dulunya pintar, kini terasa getir,
Mari kita selami mengapa cahaya kognitif mulai memudar dan memikir.
Akankah teknologi jadi penolong, atau justru sang penyingkir?
Bumerang Digital: Ketika Teknologi Mengikis Kecerdasan Generasi Z
Sebuah peringatan keras datang dari para ahli saraf di Amerika Serikat, yang menyebutkan adanya penurunan kualitas kognitif pada Generasi Z dibandingkan generasi Milenial. Fenomena ini cukup ironis dan mengkhawatirkan, mengingat secara statistik Gen Z menghabiskan waktu lebih banyak dalam lingkungan sekolah dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, data menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan kecerdasan murni mereka justru mengalami kemerosotan yang signifikan.
Ironisnya, penurunan ini bukan tanpa jejak. Para peneliti mengidentifikasi bahwa titik balik kemerosotan kemampuan otak ini mulai terjadi secara masif sejak tahun 2010. Ini adalah tahun yang bertepatan dengan ledakan teknologi digital di dunia pendidikan, melalui penggunaan Education Technology (EdTech) yang masif. Penggunaan EdTech yang berlebihan ini disinyalir menjadi biang keladi di balik melemahnya daya ingat, kemampuan literasi, hingga numerasi siswa. Alih-alih merangsang pemikiran kritis dan analitis, ketergantungan pada gawai dan aplikasi justru membuat otak menjadi "malas" dan sulit fokus dalam waktu lama.
Ahli saraf terkemuka, Jared Cooney Horvath, menjelaskan bahwa paparan layar yang konstan telah mengubah fundamental cara otak memproses informasi. Otak beralih dari pemahaman mendalam dan koneksi sinaptik yang kuat menjadi pemindaian cepat yang cenderung dangkal. Hal ini berakibat pada rendahnya kemampuan Generasi Z dalam melakukan analisis kompleks, berpikir secara abstrak, dan mengambil keputusan yang matang. Fenomena ini bukan anomali yang hanya ditemukan di Amerika Serikat, melainkan juga menghantui lebih dari 80 negara yang mengadopsi teknologi digital secara masif di kurikulum sekolah mereka.
Ini menjadi sebuah tamparan keras bagi para pemangku kebijakan pendidikan global yang selama ini mengagung-agungkan digitalisasi sebagai solusi utama dan satu-satunya untuk masa depan pendidikan. Jika kondisi ini tidak segera diimbangi dengan metode belajar tradisional yang melatih ketajaman mental secara manual—seperti membaca buku fisik, menulis tangan, diskusi mendalam, dan pemecahan masalah tanpa bantuan instan—dikhawatirkan generasi masa depan akan kehilangan kapasitas kognitif dasarnya.
Kini, saatnya bagi kita semua untuk mengevaluasi kembali peran teknologi di kelas. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses berpikir. Teknologi harus dimanfaatkan secara bijak agar tidak menjadi bumerang yang justru membungkam potensi kecerdasan generasi mendatang.
Literatur Terkait & Bacaan Lanjutan:
- Horvath, J. C. (2018). Stop Talking, Start Influencing: 12 Insights from Brain Science to Make Your Message Stick. Dalam bukunya, Horvath sering membahas tentang bagaimana otak modern bereaksi terhadap paparan informasi digital dan implikasinya terhadap pembelajaran.
- Small, G., & Vorgan, G. (2008). iBrain: Surviving the Technological Alteration of the Modern Mind. Meskipun lebih tua, buku ini sudah menyoroti perubahan neurologis akibat penggunaan teknologi digital yang intens.
- Carr, N. (2010). The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. Karya klasik yang membahas dampak internet terhadap kemampuan konsentrasi dan pemikiran mendalam.
- OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). (Berbagai Publikasi PISA). Laporan PISA secara berkala menunjukkan tren kemampuan siswa di berbagai negara, termasuk pergeseran dalam literasi dan numerasi yang bisa dihubungkan dengan perubahan lingkungan belajar.
- Studi-studi tentang Digital Natives vs. Digital Immigrants. Banyak penelitian dalam psikologi kognitif dan pendidikan yang membandingkan cara belajar dan kapasitas kognitif antargenerasi dalam konteks era digital.
Endgame
Jika layar terus membius, akal budi pun akan terpinggir,
Menjadikan masa depan gelap, tanpa arah yang terukir.
Mari bersama benahi, agar kebijaksanaan takkan mengempis dan mungkir,
Sebab kognitif yang tajam, adalah bekal tuk dunia yang kian getir.
Selamatkan akal, agar generasi tak lagi tergelincir.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar