CINTA, TAI KUCING RASA COKELAT

 


CINTA, TAI KUCING RASA COKELAT

Sebuah kampanye kecil di kelas: mengajarkan adab, menjaga masa depan, dan menempatkan cinta pada waktu yang tepat

Saya mengajar IPA.

Setiap hari saya bertemu dengan anak-anak yang sedang tumbuh: tubuhnya berubah, pikirannya berkembang, emosinya mulai menemukan banyak warna, dan dunianya perlahan menjadi lebih luas.

Tetapi saya kemudian menyadari satu hal:

Guru tidak hanya sedang mengajarkan materi pelajaran.

Di depan kita ada manusia yang sedang belajar menjadi manusia.

Karena itu, di sela-sela pelajaran tentang makhluk hidup, ekosistem, energi, atau sistem tubuh manusia, saya ingin menyelipkan sesuatu yang menurut saya jauh lebih penting:

adab.

Adab kepada guru.

Adab kepada orang tua.

Adab kepada teman.

Adab kepada lawan jenis.

Dan adab dalam mengelola perasaan.

Salah satunya adalah tentang cinta.

Bukan karena cinta itu buruk.

Justru karena cinta itu terlalu berharga untuk dimainkan terlalu dini.


ANAK-ANAKKU, KALIAN TIDAK DILARANG MENCINTAI

Saya ingin mengatakan ini dengan jelas kepada anak-anak didikku:

Kalian tidak perlu malu karena pernah menyukai seseorang.

Rasa kagum itu manusiawi.

Menyukai seseorang itu manusiawi.

Merasa deg-degan ketika bertemu seseorang juga manusiawi.

Masa remaja memang masa ketika hati mulai belajar mengenal rasa.

Tetapi ada perbedaan besar antara:

merasakan cinta

dan

menjadikan cinta sebagai hubungan pacaran yang menghabiskan masa depan.

Perasaan tidak selalu harus segera dijadikan hubungan.

Kadang-kadang perasaan cukup disimpan sebagai doa.

Cukup dijaga sebagai motivasi.

Cukup dijadikan alasan untuk memperbaiki diri.

Sebab tidak semua rasa harus segera dimiliki.


“CINTA, TAI KUCING RASA COKELAT”

Saya menggunakan kalimat ini bukan untuk merendahkan cinta.

Saya menggunakannya sebagai sindiran terhadap kondisi ketika perasaan membuat seseorang kehilangan kemampuan berpikir jernih.

Ungkapan itu memang pernah digunakan Ustaz Felix Siauw ketika membahas bagaimana orang yang sedang jatuh cinta dapat menjadi sangat emosional sampai sulit membedakan sesuatu secara rasional. (K-Hub)

Dan menurut saya, ada pelajaran pendidikan yang menarik di sana.

Ketika seseorang sedang sangat terbawa perasaan, sesuatu yang sebenarnya biasa saja bisa terlihat luar biasa.

Pesan singkat terasa seperti perhatian besar.

Satu emoji dianggap tanda cinta.

Duduk bersebelahan terasa seperti takdir.

Diberi hadiah dianggap bukti keseriusan.

Padahal bisa jadi semuanya hanya bagian dari emosi yang sedang tumbuh.

Cinta tidak salah.

Tetapi ketika cinta membuat akal berhenti bekerja, di situlah kita perlu berhenti sejenak.


ANAK-ANAK, JANGAN HABISKAN MASA DEPAN HANYA UNTUK MENGEJAR STATUS “PACAR”

Saya sering ingin mengatakan kepada anak-anak:

“Kalian sedang berada pada usia untuk membangun masa depan, bukan terburu-buru membangun hubungan.”

Kalian punya buku yang harus dibaca.

Ada ilmu yang harus dikuasai.

Ada karakter yang harus dibentuk.

Ada cita-cita yang harus diperjuangkan.

Ada orang tua yang sedang menaruh harapan.

Ada masa depan yang belum kalian kenal.

Jangan sampai energi yang seharusnya digunakan untuk belajar justru habis untuk:

“Dia kenapa tidak membalas chat?”

“Dia kok dekat dengan orang lain?”

“Kenapa dia berubah?”

“Dia online tapi tidak membalas.”

“Apakah dia masih sayang?”

Lalu malam habis untuk menangis.

Pagi datang dengan kantuk.

Di kelas tidak konsentrasi.

Nilai turun.

Motivasi belajar hilang.

Dan perlahan-lahan seseorang mulai kehilangan fokus terhadap dirinya sendiri.

Bukan karena cinta itu jahat.

Tetapi karena cinta ditempatkan pada ruang dan waktu yang belum tepat.



KALIAN PUNYA SESUATU YANG JAUH LEBIH BERHARGA: MASA DEPAN

Bayangkan seorang anak berusia 14 tahun.

Ia memiliki cita-cita menjadi dokter.

Tetapi sebagian besar waktunya digunakan untuk memikirkan pacarnya.

Ada tugas sekolah yang tertunda.

Ada buku yang tidak dibaca.

Ada kompetensi yang tidak dilatih.

Ada kesempatan yang dilewatkan.

Lalu lima tahun kemudian mereka putus.

Hubungan selesai.

Tetapi waktu yang hilang tidak dapat dikembalikan.

Karena itu saya sering mengatakan:

“Jangan korbankan masa depanmu demi sesuatu yang bahkan belum tentu menjadi bagian dari masa depanmu.”

Belajar.

Berkarya.

Berprestasi.

Berorganisasi.

Berolahraga.

Membaca.

Mengembangkan kemampuan.

Membantu orang tua.

Mendekat kepada Allah.

Bangun kualitas diri.

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.


KALAU DIA MEMANG UNTUKMU, BIARKAN WAKTU YANG MEMBUKTIKAN

Ini mungkin bagian yang paling sulit bagi anak muda:

menunggu.

Ketika menyukai seseorang, kita ingin segera memiliki.

Padahal tidak semua yang kita sukai harus segera kita miliki.

Jika seseorang memang memiliki perasaan yang sama, maka bukan berarti kalian harus langsung pacaran.

Kalian bisa sama-sama menjaga diri.

Sama-sama belajar.

Sama-sama bertumbuh.

Sama-sama mengejar cita-cita.

Dan ketika suatu hari kalian sudah cukup matang, cukup siap, dan berada pada waktu yang tepat, persoalannya dapat dibicarakan dengan cara yang lebih bertanggung jawab.

Bukan sekarang.

Bukan terburu-buru.

Tunggu sampai waktunya tepat.

Misalnya ketika sudah menyelesaikan pendidikan, memiliki kesiapan untuk bekerja, atau ketika secara nyata sudah memiliki kesiapan untuk memasuki pernikahan.

Bukan berarti semua orang harus menikah segera setelah lulus.

Justru sebaliknya:

jangan menikah hanya karena takut kehilangan seseorang.

Pernikahan membutuhkan kesiapan, tanggung jawab, kematangan, dan pertimbangan yang jauh lebih luas daripada sekadar rasa suka.


CINTA YANG BAIK TIDAK HARUS TERBURU-BURU

Ada sesuatu yang sering kita lupa:

menunggu bukan berarti kehilangan.

Kadang menunggu adalah bentuk penghormatan terhadap perasaan.

Kalau memang ada seseorang yang menyukai kalian, biarkan ia juga belajar bertanggung jawab terhadap perasaannya.

Bukan:

“Kalau kamu cinta, kamu harus jadi pacarku sekarang.”

Tetapi:

“Kalau kamu benar-benar menghargai aku, mari kita sama-sama menjaga diri sampai waktunya tepat.”

Itulah cinta yang memiliki kedewasaan.

Tidak memaksa.

Tidak mengancam.

Tidak meminta pembuktian melalui kedekatan fisik.

Tidak memanfaatkan rasa sayang.

Tidak membuat seseorang kehilangan harga diri.


DARI “PACAR” MENJADI “PASANGAN”

Dalam berbagai kajiannya, Felix Siauw memang sering mengkritik pacaran sebagai hubungan pra-pernikahan dan mendorong pendekatan yang berorientasi pada kesiapan menikah. Dalam salah satu materi resminya, ia bahkan mengatakan bahwa pacaran tidak berkorelasi langsung dengan persiapan menikah dan membahas alternatif berupa ta'aruf bagi mereka yang memang sudah siap. (YouTube)

Ada satu gagasan yang menurut saya menarik untuk direnungkan orang dewasa:

bagaimana jika kita tidak harus melalui fase “mantan pacar” untuk sampai pada pasangan hidup?

Tentu ini adalah perspektif keagamaan tertentu, bukan satu-satunya cara semua orang menjalani kehidupan relasional.

Tetapi gagasannya sederhana:

Jika hubungan laki-laki dan perempuan diarahkan sejak awal kepada komitmen dan tanggung jawab, maka seseorang tidak sekadar belajar bagaimana menjadi “pacar”.

Ia belajar bagaimana menjadi:

pasangan.

Orang yang kelak bukan hanya menjadi kekasih, tetapi teman hidup.

Bukan seseorang yang sewaktu-waktu menjadi mantan.

Melainkan seseorang yang bersama-sama membangun keluarga.


PACARAN DAN ZINA: JANGAN DIANGGAP SEPELE

Dalam perspektif Islam yang menjadi landasan kampanye adab ini, persoalannya bukan semata-mata label “pacaran”.

Yang lebih penting adalah batas-batas pergaulan.

Al-Qur'an bahkan menggunakan larangan:

“Janganlah kamu mendekati zina.”

(QS. Al-Isra': 32)

Perhatikan kata yang digunakan:

mendekati.

Karena sesuatu yang besar sering kali tidak dimulai dari tindakan besar.

Ia dapat dimulai dari:

chat yang semakin intens,

pertemuan berdua,

sentuhan yang awalnya dianggap biasa,

kedekatan yang semakin sulit dikendalikan,

kemudian batas yang semakin bergeser.

Karena itu, menjaga jarak bukan berarti membenci lawan jenis.

Menjaga batas justru bisa menjadi cara untuk menghormati diri sendiri dan orang lain.


ADAB BUKAN BERARTI MEMATIKAN PERASAAN

Ini yang menurut saya penting sekali dalam pendidikan.

Jangan sampai anak merasa bahwa ketika guru berbicara tentang adab, berarti guru sedang mengatakan:

“Kalian tidak boleh punya perasaan.”

Bukan.

Perasaan adalah bagian dari manusia.

Yang kita ajarkan adalah:

bagaimana mengelola perasaan.

Marah ada.

Tetapi tidak boleh menyakiti.

Sedih ada.

Tetapi tidak harus menyerah.

Suka ada.

Tetapi tidak harus memiliki sekarang.

Cinta ada.

Tetapi tidak harus diwujudkan dalam pacaran.

Inilah pendidikan pengendalian diri.

Dan kemampuan mengendalikan diri akan jauh lebih berguna bagi anak ketika mereka dewasa.


SAYA LEBIH SENANG MELIHAT ANAK-ANAK SAYA BERLOMBA DALAM CITA-CITA

Bayangkan jika energi anak-anak kita dialihkan.

Bukan:

“Siapa pacarmu?”

Tetapi:

“Apa cita-citamu?”

Bukan:

“Sudah punya pasangan?”

Tetapi:

“Sudah membaca berapa buku bulan ini?”

Bukan:

“Dia membalas chat kamu?”

Tetapi:

“Sudah belajar untuk ujian besok?”

Bukan:

“Kapan jadian?”

Tetapi:

“Kapan kamu bisa membanggakan orang tuamu dengan karya?”

Saya ingin melihat anak-anak berlomba:

Siapa yang paling rajin membaca.

Siapa yang paling disiplin.

Siapa yang paling baik akhlaknya.

Siapa yang paling banyak berkarya.

Siapa yang paling berani bermimpi.

Siapa yang paling tekun belajar.

Siapa yang paling banyak membantu orang lain.

Itulah kompetisi yang sehat.

Bukan berlomba mendapatkan pacar.

Tetapi berlomba menjadi manusia yang lebih baik.


ANAK-ANAKKU, JANGAN TAKUT KEHILANGAN CINTA

Kadang anak muda berkata:

“Kalau saya tidak pacaran sekarang, nanti saya tidak mendapatkan siapa-siapa.”

Saya justru ingin menjawab:

Tenang.

Hidupmu tidak sesempit itu.

Dunia tidak berhenti pada satu orang.

Masa depanmu tidak ditentukan oleh siapa yang menyukaimu hari ini.

Dan harga dirimu tidak ditentukan oleh apakah seseorang menjadikanmu pacarnya.

Masih ada sekolah.

Masih ada kuliah.

Masih ada pekerjaan.

Masih ada perjalanan hidup.

Masih ada begitu banyak manusia yang kelak akan kalian temui.

Dan yang paling penting:

ada Allah yang mengatur pertemuan manusia dengan cara yang sering kali tidak dapat kita tebak.


JADILAH ORANG YANG LAYAK MENDAPATKAN YANG BAIK

Daripada sibuk bertanya:

“Siapa yang akan mencintaiku?”

Lebih baik bertanya:

“Manusia seperti apa yang sedang aku persiapkan untuk menjadi diriku?”

Kalau ingin pasangan yang baik, jadilah orang yang belajar menjadi baik.

Kalau ingin pasangan yang berilmu, belajarlah.

Kalau ingin pasangan yang bertanggung jawab, latih tanggung jawab.

Kalau ingin pasangan yang menjaga agama, jagalah hubunganmu dengan Allah.

Kalau ingin pasangan yang menghargai keluarga, belajarlah menghargai keluarga.

Jangan hanya mencari orang baik.

Persiapkan dirimu agar juga menjadi orang yang baik.


GURU BUKAN HANYA MENGAJARKAN APA YANG ADA DI BUKU

Inilah alasan mengapa saya merasa pendidikan tidak boleh hanya berhenti pada nilai.

Anak-anak kita mungkin lupa rumus.

Mungkin lupa nama organ.

Mungkin lupa definisi ekosistem.

Tetapi saya berharap mereka tidak lupa satu hal:

bagaimana menjaga dirinya ketika tidak ada guru yang mengawasi.

Sebab karakter sesungguhnya bukan terlihat ketika seseorang sedang diawasi.

Karakter terlihat ketika seseorang mempunyai kesempatan untuk melanggar tetapi memilih untuk menahan diri.

Itulah adab.


KAMPANYE SAYA SEDERHANA

Saya tidak sedang mengkampanyekan:

“Anti-cinta.”

Saya juga tidak sedang mengatakan bahwa semua persoalan remaja selesai hanya dengan mengatakan “jangan pacaran”.

Yang saya kampanyekan adalah:

FOKUS PADA MASA DEPAN.

JAGA ADAB.

JAGA BATAS.

JAGA DIRI.

KEJAR CITA-CITA.

BIARKAN CINTA DATANG PADA WAKTU YANG TEPAT.

Dan ketika waktunya benar-benar tiba, semoga cinta itu tidak hanya membawa bunga dan kata-kata.

Tetapi juga membawa:

tanggung jawab, kedewasaan, kesetiaan, keberanian, dan komitmen.


UNTUK ANAK-ANAK DIDIKKU

Kalian masih muda.

Jangan terburu-buru menjadi dewasa hanya karena ingin merasakan cinta.

Nikmati masa belajar.

Baca buku.

Bermain.

Berkarya.

Berteman.

Berorganisasi.

Berolahraga.

Bermimpi.

Berdoa.

Buat orang tua kalian tersenyum.

Bangun kemampuan.

Kejar pendidikan.

Raih cita-cita.

Dan kalau suatu hari hati kalian menemukan seseorang yang kalian sukai—

jangan buru-buru menggenggam tangannya.

Genggamlah terlebih dahulu masa depan kalian sendiri.

Kalau dia memang orang yang tepat, semoga ia bukan orang yang mengajakmu meninggalkan cita-cita.

Semoga ia menjadi orang yang juga berkata:

“Mari kita sama-sama bertumbuh. Kamu kejar cita-citamu, aku juga mengejar cita-citaku. Kalau memang Allah mengizinkan, kita bertemu lagi di waktu dan tempat yang lebih baik.”

Itulah cinta yang tidak terburu-buru.

Itulah cinta yang tahu batas.

Itulah cinta yang memberi ruang bagi dua manusia untuk tumbuh.


EPILOG: CINTA BOLEH MENUNGGU, MASA DEPAN JANGAN

Anak-anak saya ingin kalian tahu satu hal:

kalian berharga.

Kalian tidak perlu memiliki pacar untuk merasa dicintai.

Kalian tidak perlu menerima perhatian seseorang untuk merasa berarti.

Kalian tidak perlu terburu-buru memiliki pasangan untuk membuktikan bahwa kalian sudah dewasa.

Kalian sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar:

masa depan kalian sendiri.

Jadi mari kita ubah perlombaan.

Bukan:

siapa cepat punya pacar.

Tetapi:

siapa cepat menjadi pribadi yang lebih baik.

Bukan:

siapa yang paling romantis.

Tetapi:

siapa yang paling bertanggung jawab.

Bukan:

siapa yang paling banyak mendapatkan perhatian.

Tetapi:

siapa yang paling banyak memberi manfaat.

Karena pada akhirnya, cinta yang baik bukan sekadar tentang menemukan seseorang.

Cinta juga tentang menjadi seseorang yang pantas dipercaya ketika waktunya tiba.

Dan jika hari itu belum datang?

Tidak apa-apa.

Belajarlah.

Tumbuhlah.

Berprestasilah.

Perbaiki akhlakmu.

Dekatlah kepada Allah.

Bangun masa depanmu.

Sebab:

“Cinta akan datang pada waktu yang tepat. Tetapi masa depan tidak akan menunggu kita selamanya.”

Dan untuk anak-anak didikku:

“Jangan habiskan masa mudamu untuk mengejar seseorang yang belum tentu menjadi masa depanmu. Gunakan masa mudamu untuk menjadi seseorang yang kelak siap menyambut masa depanmu.”

Kalian pasti bisa.
Kalian punya masa depan.
Dan kalian layak mendapatkan yang terbaik.
❤️

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
Guru IPA | Pengajar Adab | Pendamping Tumbuh Anak-anak Indonesia


CINTA BOLEH MENUNGGU

Untuk anak-anak yang sedang tumbuh,
tentang cinta yang tak perlu terburu-buru.

Jangan dulu sibuk mencari genggaman,
ketika tanganmu masih harus menggenggam buku.
Jangan terlalu cepat mengejar seseorang,
ketika cita-citamu masih menunggumu
di ujung jalan yang belum selesai kau tempuh.

Kalian masih muda,
dan dunia masih begitu luas.
Ada ilmu yang belum selesai dipelajari,
ada mimpi yang belum selesai ditulis,
ada doa ibu yang diam-diam
menunggu menjadi kenyataan.

Jika hari ini hatimu mulai menyukai seseorang,
tak perlu malu pada rasa.
Cinta bukan dosa.
Tetapi jangan biarkan cinta
membuatmu kehilangan arah.

Cinta, tai kucing rasa cokelat—
kadang yang terlihat manis
hanya karena hati sedang dimabuk rasa.
Yang biasa tampak istimewa,
yang sementara terasa selamanya,
dan yang belum tentu menjadi takdir
kita anggap sebagai satu-satunya dunia.

Maka berhentilah sejenak.

Tanyakan kepada hatimu:

“Apakah dia membuatku semakin dekat
dengan cita-citaku,
atau justru semakin jauh
dari diriku sendiri?”

Sebab cinta yang baik
tidak akan memintamu membuang masa depan.
Ia tidak akan menyuruhmu meninggalkan buku,
melupakan keluarga,
mengabaikan pendidikan,
atau mengorbankan harga diri
demi sebuah status bernama pacar.

Kalau memang dia menyukaimu,
biarkan dia belajar menunggu.

Biarkan waktu menjadi saksi.
Biarkan pendidikan membentukmu.
Biarkan pengalaman mendewasakanmu.
Biarkan cita-cita membawamu
menjadi manusia yang lebih baik.

Mungkin hari ini
kalian berjalan di jalan yang berbeda.

Kamu mengejar ilmu.
Dia mengejar cita-citanya.

Kamu memperbaiki diri.
Dia juga belajar menjadi lebih baik.

Dan jika suatu hari
kalian dipertemukan kembali
pada waktu yang lebih matang,
dengan hati yang lebih dewasa,
dengan kehidupan yang lebih siap—

semoga bukan lagi:

“Maukah kamu menjadi pacarku?”

Tetapi:

“Maukah kamu menjadi pasangan hidupku?”

Bukan cinta yang dimulai dengan janji-janji remaja,
tetapi cinta yang datang membawa tanggung jawab.

Bukan hubungan yang sibuk takut kehilangan,
tetapi dua manusia yang sudah siap
saling menjaga.

Maka anak-anakku,
jangan takut kehilangan cinta hari ini.

Takutlah jika kehilangan
kesempatan untuk menjadi versi terbaik dirimu.

Kejar pendidikanmu. 🎓
Rawat adabmu. 🌱
Bangun karaktermu. 🤍
Banggakan orang tuamu.
Dekatkan dirimu kepada Allah.
Dan berlombalah dalam kebaikan.

Karena masa depanmu
jauh lebih panjang
daripada kisah cinta yang mungkin
hanya berlangsung sebentar.

Dan percayalah—

cinta yang benar tidak akan membuatmu
kehilangan masa depan.

Ia akan datang
ketika kamu sudah siap.

Pada waktu yang tepat.

Di tempat yang tepat.

Dengan cara yang tepat.

Dan ketika saat itu tiba,
semoga kamu tidak lagi mencari seseorang
hanya untuk mengisi kekosongan.

Tetapi menemukan seseorang
untuk bersama-sama membangun kehidupan.

Jadi, anak-anakku—

belajarlah dulu.
bertumbuhlah dulu.
berprestasilah dulu.
jadilah manusia yang bermanfaat.

Cinta?

Biarkan ia menunggu.

Karena—

“Masa depan tidak boleh dikorbankan demi cinta yang belum tentu menjadi takdir. Tetapi cinta yang benar akan menemukan jalannya ketika dua manusia telah siap menyambutnya.”

Kalian pasti bisa.
Kalian punya masa depan.
Dan kalian layak mendapatkan yang terbaik.
❤️

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar

Postingan Populer