Kebaikan Beracun
Prolog
Dalam tipu daya dunia, kebaikan tak selalu murni adanya,
Tersembunyi jerat halus, menuju jurang dosa yang tersembunyi.
Kadang setan berbisik, menyaru sebagai penunjuk jalan yang mulia,
Namun di balik selubung itu, terlukis bencana yang tak terperi.
Mari kita bedah, muslihat licik yang menyesatkan setiap jiwa.
Kebaikan Beracun: Ketika Setan Menuntunmu ke Dosa yang Lebih Besar
Seringkali kita membayangkan setan sebagai makhluk yang hanya mengajak pada keburukan yang jelas-jelas tercela: mencuri, berbohong, membunuh, atau perbuatan maksiat terang-terangan. Namun, ada satu bentuk tipu daya yang jauh lebih licik, lebih halus, dan lebih berbahaya, yaitu ketika setan datang tidak dalam wujud keburukan, melainkan dalam balutan kebaikan.
Para ahli hikmah dan ulama telah lama memperingatkan, "Terkadang setan mengajak kebaikan, tetapi kebaikan yang dapat menarik dosa yang besar, dan kebaikan itu tidak sepadan dengan keburukan yang timbul." Ini adalah sebuah jebakan psikologis dan spiritual yang seringkali tidak disadari, bahkan oleh mereka yang berniat baik.
1. Kebaikan yang Menarik Riya' dan 'Ujub
Bayangkan seseorang yang semangat beribadah dan bersedekah. Awalnya niatnya tulus. Namun, setan membisikkan, "Tunjukkanlah kebaikanmu ini agar orang lain terinspirasi." Kebaikan untuk menginspirasi ini, pada awalnya terdengar mulia. Namun, jika tidak diiringi benteng keikhlasan yang kokoh, ia bisa berubah menjadi keinginan untuk dipuji (riya') atau merasa bangga diri (ujub). Dosa riya' dan 'ujub ini bisa menghapuskan pahala amal kebaikan itu sendiri, bahkan menjadikannya dosa besar karena menduakan niat hanya untuk Allah.
Contoh: Seseorang sedekah dalam jumlah besar, lalu ia mempublikasikannya secara berlebihan bukan demi syiar, melainkan demi pujian. Kebaikan sedekah itu sendiri tidak sepadan dengan dosa riya' yang menghapus pahala dan merusak hati.
2. Kebaikan yang Menimbulkan Fitnah atau Perpecahan
Setan juga bisa mengajak pada kebaikan yang, pada permukaannya, tampak benar, namun memiliki dampak negatif yang lebih besar.
Contoh 1: Seseorang melihat kemungkaran dan ingin menegur. Niatnya baik, ingin mencegah kejahatan. Namun, setan membisikkan untuk menegur dengan cara yang kasar, merendahkan, atau di depan umum hingga menimbulkan permusuhan, fitnah, bahkan perpecahan di masyarakat. Kebaikan menegur kemungkaran tidak sepadan dengan dosa perpecahan dan terlukanya harga diri orang lain yang lebih besar.
Contoh 2: Seseorang bersemangat untuk menyebarkan ilmu agama, sebuah kebaikan yang sangat mulia. Namun, setan bisa membisikkan untuk menyebarkan informasi yang belum diverifikasi secara cermat, menggunakan dalil yang salah tafsir, atau mengkafirkan pihak lain yang berbeda pendapat. Kebaikan menyebarkan ilmu tidak sepadan dengan dosa menyebarkan kesesatan, hoaks, atau memecah belah umat.
3. Kebaikan yang Mengabaikan Prioritas Utama
Ada kalanya setan mengajak kita pada kebaikan kecil yang membuat kita mengabaikan kebaikan yang lebih besar atau bahkan kewajiban fundamental.
Contoh: Seseorang sangat rajin mengikuti kajian agama dan menyebarkan nasihat di media sosial (sebuah kebaikan). Namun, di saat yang sama, ia lalai menafkahi keluarganya, mengabaikan hak-hak orang tua, atau menelantarkan tanggung jawab pekerjaannya. Kebaikan-kebaikan kecil tersebut tidak sepadan dengan dosa-dosa besar akibat mengabaikan kewajiban dan amanah utama.
4. Kebaikan yang Berbasis Ego dan Pembenaran Diri
Terkadang, kebaikan yang kita lakukan sebenarnya berakar pada ego kita untuk merasa lebih baik dari orang lain, atau sebagai bentuk pembenaran diri atas kekurangan lain.
Contoh: Seseorang sangat rajin shalat sunnah, puasa, dan tahajud (sebuah kebaikan). Namun, di hatinya tumbuh rasa merasa lebih suci atau lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan orang lain, bahkan merendahkan mereka. Kebaikan ibadah itu sendiri bisa menjadi pintu masuk bagi dosa kesombongan dan merendahkan hamba Allah lainnya.
Benteng dari Kebaikan Beracun
Untuk melindungi diri dari tipu daya ini, kita perlu selalu:
- Periksa Niat: Selalu perbarui dan sucikan niat hanya untuk Allah. Tanyakan pada diri sendiri, "Untuk siapa aku melakukan ini?"
- Pertimbangkan Dampak: Pikirkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan "kebaikan" kita. Apakah ia benar-benar membawa maslahat atau justru membuka pintu pada kerusakan yang lebih besar?
- Timbang Prioritas: Kenali mana kewajiban yang lebih utama dan mana kebaikan sunnah. Jangan biarkan kebaikan kecil mengorbankan kebaikan besar.
- Rendah Hati: Sadari bahwa segala kebaikan adalah taufik dari Allah. Jangan biarkan kebaikan menumbuhkan rasa sombong atau merasa lebih baik.
Endgame
Hati-hati dalam melangkah, wahai jiwa yang penuh harap,
Sebab setan itu pandai menyaru, dalam setiap sudut gelap.
Kebaikan yang semu, bisa jadi jembatan menuju jurang yang dalam,
Jaga niatmu tetap murni, agar tak terjerat oleh fatamorgana yang kelam.
Hanya keikhlasan sejati, yang akan membimbingmu ke jalan yang tentram.
Abdulloh Aup

Good
BalasHapusTerima kasih selalu sempatin mampir 🙏🏾
Hapus