Menjaga Lisan Anak, Menjaga Masa Depan
Prolog
Dunia berputar cepat, melahirkan warna baru setiap detik,
Anak-anak kita menyerapnya, tanpa filter yang kita selidik.
Kata kasar bertebaran, dianggap lumrah, bahkan tak lagi pelik,
Namun di balik tawa mereka, ada adab yang perlahan tersisih.
Mari kita jaga lisan mereka, sebelum terlambat untuk berbenah, agar tak tertatih.
Sebuah Pengingat: Menjaga Lisan Anak, Menjaga Masa Depan
Anak-anak adalah cermin dari lingkungan di sekelilingnya. Mereka adalah spons yang menyerap segala sesuatu dengan kecepatan luar biasa. Bukan dari ceramah panjang dan nasihat berbusa-busa, melainkan dari apa yang mereka dengar setiap hari, setiap saat, di setiap sudut kehidupan mereka. Dari konten digital yang mereka tonton, idola maya yang mereka tiru, hingga lingkungan pergaulan yang membiarkan kata kasar dan umpatan menjadi bahasa sehari-hari.
Yang berbahaya adalah ketika kita, sebagai orang dewasa dan penjaga, sering menutup mata. Kita seringkali terlena dengan pembenaran, "Ah, namanya juga anak-anak. Nanti juga besar, ngerti sendiri." Padahal, kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita anggap sepele ini sedang membentuk karakter besar mereka di masa depan.
Lisan Kasar, Empati Tumpul, Adab Menipis
Ketika lisan anak dibiarkan terbiasa dengan kata-kata kasar, makian, atau umpatan, secara perlahan namun pasti, ia akan menumpulkan empati. Kata-kata adalah manifestasi dari pikiran dan perasaan. Jika yang keluar adalah kekasaran, maka pikiran dan perasaan pun akan terbiasa dengan kekerasan.
Hati mereka jadi keras, sulit merasakan penderitaan orang lain. Adab pun jadi tipis, batas antara sopan santun dan kekasaran menjadi kabur. Dan saat semua itu terjadi, seringkali kita terlambat menyadari bahwa masalahnya bukan hanya pada anak, tetapi pada kegagalan kita sebagai orang tua dan pendidik untuk memasang filter yang seharusnya. Kita gagal menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan adab dan budi pekerti.
Filter yang Gagal Kita Pasang
Kita memang tidak bisa mengontrol dunia digital sepenuhnya. Arus informasi begitu deras, dan anak-anak memiliki akses yang luas. Namun, kita masih bisa menentukan satu hal yang sangat penting: apa yang boleh tumbuh di dalam rumah, dan apa yang harus dihentikan di pintu gerbangnya.
Rumah adalah benteng pertama dan utama. Di sinilah nilai-nilai diajarkan dan dibentuk.
- Pentingnya Percakapan: Ajak anak bicara tentang apa yang mereka tonton dan dengar. Ajarkan mereka untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
- Model Perilaku: Kita adalah contoh utama. Jika kita ingin anak-anak memiliki lisan yang baik, maka lisan kita sendiri harus menjadi teladan.
- Pembatasan yang Jelas: Tetapkan aturan yang jelas tentang penggunaan gawai dan batasan konten. Jelaskan alasannya, bukan hanya melarang.
- Ciptakan Lingkungan Positif: Penuhi rumah dengan kebaikan, buku-buku, musik yang menenangkan, dan percakapan yang membangun.
Menjaga Lisan Hari Ini, Menjaga Masa Depan Mereka Nanti
Menjaga lisan anak hari ini bukan hanya tentang kebersihan bahasa. Ini adalah tentang menjaga kebersihan hati, ketajaman empati, dan kokohnya adab mereka. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan mereka. Anak dengan lisan yang baik akan tumbuh menjadi individu yang lebih bijaksana, lebih dihormati, dan mampu berinteraksi dengan dunia secara positif. Mereka akan menjadi agen perubahan yang menyebarkan kebaikan, bukan kekasaran.
Endgame
Rumah adalah taman, tempat benih adab ditanam,
Lisan anak adalah bunga, yang harus dijaga agar tak layu sebelum mekar.
Jangan biarkan racun kata kasar merusak indahnya alam,
Sebab masa depan mereka, ada di tangan kita, hari ini, takkan tertukar.
Mari kita jaga lisan, sebagai amanah Ilahi yang harus tersemat.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar