Tukang yang Enak di Lingkungan Toksik



Tiga Tukang yang Paling Enak di Lingkungan Kerja Toksik: Tukang Suruh, Tukang Nyalahkan, dan Tukang Marah

Ada sebuah candaan yang sering beredar di media sosial:

"Ada sebuah humor yang beredar di masyarakat: dalam lingkungan kerja yang toksik, tukang yang paling enak ada tiga, yaitu tukang suruh, tukang nyalahkan, dan tukang marah. Kita tertawa ketika mendengarnya. Namun seperti banyak humor lainnya, kalimat ini lucu karena terlalu dekat dengan kenyataan."

Sekilas kalimat ini terdengar lucu. Namun jika direnungkan lebih dalam, sesungguhnya ia menyimpan kritik sosial yang sangat tajam tentang budaya kerja yang masih banyak ditemukan di berbagai organisasi, termasuk dunia pendidikan.

Mengapa demikian?

Karena dalam lingkungan kerja yang tidak sehat, sering kali tanggung jawab tidak berjalan beriringan dengan kewenangan. Ada orang yang gemar menyuruh, tetapi tidak mau terlibat dalam penyelesaian masalah. Ada yang paling cepat menemukan kesalahan, tetapi paling lambat menawarkan solusi. Bahkan ada yang menjadikan kemarahan sebagai instrumen kepemimpinan.

Padahal organisasi tidak dibangun untuk saling menyalahkan. Organisasi dibangun untuk menyelesaikan masalah bersama.

Ketika Menyuruh Menjadi Identitas

Dalam filsafat kepemimpinan, seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan bagi timnya. Konsep servant leadership menempatkan pemimpin sebagai orang yang hadir untuk membantu, memfasilitasi, dan memberdayakan anggota tim.

Namun dalam budaya kerja toksik, kepemimpinan sering bergeser menjadi sekadar aktivitas memberi instruksi.

Muncullah "tukang suruh".

Ia merasa tugasnya selesai ketika perintah telah disampaikan. Yang penting pekerjaan jalan, terlepas dari apakah tim memiliki sumber daya, waktu, atau dukungan yang memadai untuk melaksanakannya.

Padahal dunia kerja modern tidak lagi membutuhkan pemimpin yang hanya pandai memberi komando. Dunia membutuhkan pemimpin yang mampu turun tangan ketika tim menghadapi kesulitan.

Ketika Menyalahkan Menjadi Kebiasaan

Fenomena kedua adalah "tukang nyalahkan".

Karakter ini biasanya muncul ketika hasil tidak sesuai harapan. Yang dicari pertama kali bukan akar masalah, melainkan siapa yang harus bertanggung jawab.

Akibatnya budaya kerja berubah menjadi budaya ketakutan.

Orang enggan berinovasi karena takut salah. Orang enggan menyampaikan ide karena khawatir dikritik. Bahkan banyak pegawai memilih diam meskipun melihat masalah karena merasa lebih aman menjadi penonton.

Penelitian tentang psychological safety menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang aman secara psikologis membuat individu lebih berani menyampaikan ide, melaporkan kesalahan, dan berkontribusi secara optimal. Sebaliknya, budaya saling menyalahkan justru menurunkan kesejahteraan dan kinerja organisasi.

Dalam organisasi yang sehat, kesalahan dipandang sebagai bahan pembelajaran. Dalam organisasi yang toksik, kesalahan dipandang sebagai alat untuk mencari kambing hitam.

Ketika Marah Dianggap Kepemimpinan

Yang ketiga adalah "tukang marah".

Ironisnya, masih banyak orang yang menganggap kemarahan identik dengan kewibawaan.

Semakin keras suara seseorang, semakin dianggap berwibawa.

Semakin sering membentak, semakin dianggap tegas.

Padahal penelitian modern tentang kepemimpinan menunjukkan hal yang berbeda. Organisasi yang dipenuhi intimidasi, perilaku negatif, dan supervisi otoriter justru berisiko menimbulkan stres, menurunkan kesehatan mental, serta mengurangi keterlibatan pegawai.

Bahkan WHO secara eksplisit memasukkan budaya organisasi yang memungkinkan perilaku negatif, minim dukungan, dan supervisi otoriter sebagai faktor risiko kesehatan mental di tempat kerja.

Marah mungkin bisa membuat orang patuh sesaat.

Tetapi rasa hormat tidak pernah lahir dari ketakutan.

Rasa hormat tumbuh dari keteladanan.

Mengapa Lingkungan Kerja Toksik Berbahaya?

Banyak orang menganggap lingkungan kerja toksik hanya membuat suasana tidak nyaman.

Faktanya lebih serius daripada itu.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang buruk dapat meningkatkan stres kronis, burnout, kelelahan emosional, menurunkan produktivitas, bahkan berdampak pada kesehatan mental dan kualitas hubungan sosial seseorang.

Laporan Gallup juga menunjukkan bahwa tingkat keterikatan karyawan secara global masih rendah dan stres kerja tetap menjadi tantangan besar di berbagai negara. Lingkungan kerja yang tidak sehat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan pekerja.

Karena itu, persoalan budaya kerja bukan sekadar urusan kenyamanan. Ia adalah persoalan kemanusiaan.

Dari Budaya Menyalahkan Menuju Budaya Menyelesaikan

Lalu apa solusinya?

Menurut saya, organisasi perlu mengganti tiga "tukang" tersebut dengan tiga karakter baru.

Bukan tukang suruh, tetapi tukang membantu.

Bukan tukang nyalahkan, tetapi tukang mencari solusi.

Bukan tukang marah, tetapi tukang menginspirasi.

Dalam dunia pendidikan, perubahan ini menjadi semakin penting. Sekolah adalah tempat belajar, bukan hanya bagi siswa tetapi juga bagi para guru dan tenaga kependidikan. Jika lingkungan kerjanya dipenuhi ketakutan, maka sulit mengharapkan lahirnya kreativitas, inovasi, dan pembelajaran bermakna.

Di era Society 5.0, organisasi yang unggul bukanlah organisasi yang memiliki orang-orang paling pintar. Organisasi yang unggul adalah organisasi yang mampu membangun budaya saling percaya, saling mendukung, dan saling bertumbuh.

Karena pada akhirnya, kualitas sebuah organisasi tidak ditentukan oleh seberapa banyak orang yang pandai memberi perintah.

Melainkan oleh seberapa banyak orang yang bersedia turun tangan ketika masalah datang.

Maka jika suatu hari kita berada di lingkungan kerja yang toksik, jangan ikut menjadi tukang suruh, tukang nyalahkan, atau tukang marah.

Jadilah orang yang menghadirkan solusi.

Sebab dunia kerja sudah terlalu penuh dengan orang yang pandai menunjukkan masalah. Yang masih langka adalah mereka yang bersedia menjadi bagian dari penyelesaiannya.

Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia (Canvassador) | Guru Pejuang Digital (GPD) | Penggerak Literasi | Pamong SEL | Penulis Buku "Kreatif Mengajar dengan Canva: Strategi Diferensiasi Konten di Era Society 5.0"


Komentar

Postingan Populer