Guru Harus Memilih Bertahan atau Bertahan Hidup

 


Ketika Guru Harus Memilih Bertahan atau Bertahan Hidup

Prolog

Negara ini sering berkata:

“Pendidikan adalah pondasi masa depan.”

Kalimat itu terdengar indah:

  • di podium seminar,
  • di pidato peringatan nasional,
  • dan di baliho-baliho besar tentang kemajuan bangsa.

Namun di sudut-sudut sekolah,
ada kenyataan yang jauh lebih sunyi.

Ada guru
yang setiap pagi datang mengajar:

  • membangunkan mimpi anak-anak,
  • menenangkan murid yang kesulitan belajar,
  • dan membantu membentuk masa depan bangsa—

tetapi pulang ke rumah
dengan gaji
yang bahkan sulit mencukupi kebutuhan hidup paling dasar.

Dan mungkin,
ironi terbesar pendidikan hari ini adalah:

kita ingin masa depan bangsa tumbuh kuat,
tetapi membiarkan sebagian gurunya bertahan
dalam ketidakpastian hidup.


Ketika Mengajar Tidak Lagi Cukup untuk Bertahan Hidup

Di Kulon Progo,
sebanyak 18 guru memilih mundur dari pekerjaannya.

Bukan karena mereka tidak mencintai dunia pendidikan.
Bukan karena mereka malas mengajar.

Tetapi karena:

mereka tidak lagi mampu bertahan hidup

dengan penghasilan yang terlalu kecil.

Sebagian guru disebut hanya menerima:

  • sekitar Rp350 ribu,
  • hingga Rp600 ribu per bulan.

Dan bahkan ketika status mereka direncanakan berubah menjadi:
Jasa Layanan Orang Perorangan,
penghasilan minimal yang disebutkan
sekitar:

Rp1 juta per bulan.

Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya:
uang makan beberapa hari.

Namun bagi mereka,
itulah nilai
dari pekerjaan yang setiap hari:
membentuk generasi masa depan bangsa.


Guru Juga Manusia yang Harus Hidup

Ada kesalahpahaman yang sering hidup di masyarakat:
seolah guru cukup hidup:

  • dengan pengabdian,
  • idealisme,
  • dan rasa cinta terhadap pendidikan.

Padahal guru juga manusia.

Mereka:

  • punya keluarga,
  • punya kebutuhan hidup,
  • punya tagihan,
  • dan punya masa depan
    yang juga perlu dipastikan.

Dalam teori:
Maslow's Hierarchy of Needs

manusia tidak bisa terus bertahan
hanya dengan kebutuhan makna dan idealisme,
jika kebutuhan dasarnya:

  • makan,
  • keamanan hidup,
  • dan kesejahteraan,
    tidak terpenuhi.

Dan inilah realitas yang sering dilupakan:

pengabdian tidak menghapus kebutuhan hidup.


Mereka Pergi Bukan Karena Tidak Peduli Pendidikan

Sebagian guru akhirnya memilih:

  • menjadi PPPK,
  • menjadi pamong kalurahan,
  • bahkan berpindah ke sektor lain
    seperti petugas pemenuhan gizi program MBG.

Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo,
Nur Hadiyanto menyampaikan:

“Ada yang bekerja jadi petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi [SPPG]. Mereka menyampaikan surat pengunduran diri.”

Kalimat itu sederhana,
tetapi menyimpan kenyataan yang sangat dalam:

mereka mencari kepastian hidup.

Dan sulit menyalahkan mereka.

Karena manusia tidak bisa terus diminta:
bertahan dalam ketidakpastian
atas nama pengabdian semata.


Krisis Pendidikan Tidak Selalu Dimulai dari Kurikulum

Hari ini banyak diskusi pendidikan
terlalu sibuk membahas:

  • teknologi pembelajaran,
  • kurikulum baru,
  • digitalisasi sekolah,
    atau:
  • metode belajar modern.

Padahal ada persoalan yang jauh lebih mendasar:

bagaimana mungkin pendidikan maju

jika kesejahteraan gurunya tertinggal?

Karena kualitas pendidikan
tidak hanya dibangun:

  • oleh gedung sekolah,
  • aplikasi digital,
  • atau slogan reformasi pendidikan.

Ia juga dibangun:

oleh manusia bernama guru
yang merasa cukup aman
untuk hidup dengan layak.


Ketika Sekolah Mulai Kekurangan Guru

Dampaknya mulai terlihat.

Sekolah kekurangan tenaga pengajar.
Muncul wacana:
satu guru mengajar di dua sekolah.

Dan ini bukan sekadar masalah administratif.

Ini tentang:

  • kualitas pembelajaran,
  • kesehatan mental guru,
  • dan masa depan anak-anak
    yang membutuhkan perhatian optimal.

Karena guru bukan mesin.

Mereka tidak hanya mengajar materi.

Mereka:

  • mendampingi,
  • mendengar,
  • membimbing,
    dan sering kali menjadi:
    tempat aman bagi murid-muridnya.

Namun bagaimana guru bisa hadir sepenuhnya
untuk anak-anak,
jika hidupnya sendiri terus dibayangi:
kecemasan ekonomi?


Pendidikan Selalu Berbicara Tentang Masa Depan

Bangsa yang besar
bukan hanya bangsa yang:

  • membangun jalan,
  • gedung tinggi,
  • atau teknologi canggih.

Tetapi bangsa yang:

serius menghargai pendidikan.

Dan menghargai pendidikan
tidak cukup:

  • dengan pidato,
  • slogan,
  • atau peringatan Hari Guru setiap tahun.

Ia harus terlihat:

  • dalam kebijakan,
  • dalam kesejahteraan,
  • dan dalam keberpihakan nyata
    kepada mereka yang menjaga ruang kelas setiap hari.

Karena ketika guru mulai meninggalkan sekolah
demi bertahan hidup,
itu bukan sekadar kehilangan tenaga pengajar.

Itu adalah:

alarm sosial
tentang bagaimana bangsa ini
memperlakukan fondasi masa depannya sendiri.


Refleksi: Seberapa Serius Kita Menganggap Pendidikan Penting?

Mungkin pertanyaan paling penting hari ini bukan:

“Mengapa guru-guru itu mundur?”

Tetapi:

“Mengapa profesi yang disebut mulia
masih membuat banyak orang kesulitan hidup dengan layak?”

Karena selama pendidikan hanya dipuji secara simbolik,
tetapi tidak diperjuangkan secara nyata,
maka krisis seperti ini
akan terus berulang.


Endgame

Pada akhirnya,
guru tidak pernah meminta:

  • hidup mewah,
  • dipuja berlebihan,
  • atau dianggap pahlawan setiap hari.

Mereka hanya ingin:
hidup dengan layak
dari pekerjaan
yang setiap hari membantu membangun masa depan bangsa.

Dan mungkin,
ironi paling menyakitkan dalam dunia pendidikan adalah:
ketika mereka yang diminta mencerdaskan generasi,
justru harus meninggalkan ruang kelas
demi memastikan hidupnya sendiri tetap berjalan.

Karena bangsa yang benar-benar menghargai pendidikan
bukan hanya yang pandai berbicara tentang masa depan.

Tetapi yang mampu memastikan:
orang-orang yang menjaga masa depan itu
tidak hidup dalam ketidakpastian hari ini.

Komentar

Postingan Populer