Saat Lapar Tak Sampai Menyentuh Nurani

 




Prolog

Sebuah ritual tahunan kembali menyapa, namun hati terasa hampa,

Kita sibuk menghitung jam, sementara makna kian tenggelam dalam dahaga.

Menahan lapar hanyalah kulit, namun syahwat dunia tetap membelit,

Membuat perjalanan spiritual ini terasa begitu sempit.

Mari kita jujur pada diri, tentang puasa yang mungkin baru sebatas jasmani.

​Puasa Hewan: Saat Lapar Tak Sampai Menyentuh Nurani

​Ada sebuah kegelisahan yang mendalam dalam setiap sujud kita: Kita mungkin tak pandai berpuasa.

​Selama ini, barangkali kita hanya sejenak menunda makan dan minum. Sebuah perjuangan fisik yang melelahkan, namun sayangnya, sering kali tak sampai menyentuh lapisan nafsu yang lebih dalam. Kita merasa telah menang saat azan Magrib berkumandang, padahal kekalahan sesungguhnya terjadi sepanjang hari—saat lisan tak terjaga dan hati tetap penuh prasangka.

​Puasa yang Tak Meluas ke Akhlak Zaman

​Puasa kita sering kali terisolasi di dalam tenggorokan. Ia tak sampai meluas menjadi akhlak zaman, tak menyentuh pengelolaan sosial, apalagi mewujud dalam kebijakan negara yang berpihak pada keadilan.

​Jika puasa hanya sekadar urusan perut, lantas betapa mungkin sejatinya fithri (kesucian) itu akan benar-benar tiba?

  • Puasa Hewan: Perjuangan yang hanya sampai ke badan, sedikit jasad, dan urusan keduniawian.
  • Akal yang Tertidur: Kita tidak mempuasai zaman. Kita tak menggunakan momentum ini untuk menyiapkan keselamatan masa depan, bahkan mungkin tidak untuk esok atau lusa. Kita hanya ingin melewati hari ini dengan perut kosong, lalu mengisinya kembali dengan penuh nafsu.

​Fokus pada Meja Makan, Bukan pada Perbaikan

​Betapa ironisnya, setiap kali menjalani puasa, pusat gravitasi pikiran kita justru berpindah ke persiapan makan. Menu buka apa hari ini? Takjil apa yang harus dibeli? Fokus tujuan kita bergeser dari penyucian jiwa menjadi perayaan rasa.

​Kita melewati ribuan kali sahur dan berbuka tanpa ada pengaruh nyata atas perbaikan kehidupan. Dunia tetap sama, ketidakadilan tetap ada, dan ego kita tetap berdiri tegak setinggi menara.

​Memohon Rahmat Penerimaan

​Maka, di tengah ketidakberdayaan ini, apakah ada pilihan lain bagi kita?

​Selain bersimpuh dan memohon rahmat penerimaan-Nya. Memohon agar Allah sudi memandang puasa kita yang cacat ini dengan kasih sayang-Nya. Kita mengakui bahwa puasa kita masih jauh dari sempurna, namun kita tak ingin menyerah pada keadaan.

​Semoga, suatu saat nanti, puasa kita tak lagi sebatas puasa hewan. Semoga ia mulai menyentuh akal, memperbaiki akhlak, dan menjadi jembatan menuju keselamatan masa depan yang hakiki.

Endgame

Lapar ini janganlah sia-sia, menjadi sekadar rutinitas tanpa sisa,

Sebab Tuhan tak butuh hausmu, jika hatimu masih penuh dengan dosa.

Tundukkanlah egomu, sebagaimana kau menundukkan keinginan untuk makan,

Agar puasa bukan sekadar beban, melainkan jalan menuju keheningan.

Semoga rahmat-Nya memeluk puasa kita yang penuh kekurangan.

Abdulloh Aup



Komentar

Postingan Populer