Kontemplasi Akhir Tahun
Di Antara Detak Waktu dan Jeda: Sebuah Kontemplasi Akhir Tahun
Oleh: Abdulloh Aup
Langit sebentar lagi akan riuh. Kembang api akan meledak, menjadi metafora paling purba tentang harapan manusia: menyala terang, membumbung tinggi, lalu lenyap ditelan gelap. Di bawah gemerlap itu, kita—manusia-manusia modern—sibuk dengan ritual tahunan yang tak kalah bisingnya: menyusun daftar pencapaian.
Kita menghitung piala, melingkari angka di rekening, dan memamerkan medali kesibukan. Namun, di tengah hiruk-pikuk perayaan angka itu, ada satu pertanyaan lirih yang sering kali tenggelam: Apakah kita benar-benar melangkah maju, atau hanya berlari kencang di tempat yang sama?
Labirin Ambisi Tanpa Arah
Setiap akhir tahun, kita terjebak dalam ironi. Kita menulis resolusi dengan tinta semangat yang tebal, namun sering kali lupa membaca ulang catatan kaki tentang mengapa kita gagal di tahun sebelumnya. Kita begitu terobsesi memperpanjang daftar keinginan, padahal yang jiwa kita butuhkan adalah daftar pelajaran.
Tahun berganti, angka di kalender berubah, tetapi narasi hidup kita sering kali stagnan. Ambisi menua tanpa arah, menjadi beban yang kita panggul sambil berlari mengejar bayang-bayang. Kita mengira kesibukan adalah tanda kehidupan. Padahal, kekosongan yang paling mengerikan bukanlah saat kita diam tanpa aktivitas, melainkan saat kita bergerak tanpa makna.
Hidup terasa seperti perlombaan lari tanpa garis finis. Kita berkeringat, napas memburu, kaki melepuh, namun hati tak pernah benar-benar merasa sampai. Mengapa? Karena kita lupa bertanya: Apakah jalan ini yang benar-benar ingin kutuju?
Cermin Bernama Kekosongan
Sering kali kita takut pada jeda. Kita takut pada hening. Saat hidup terasa "kosong" atau stagnan, kita panik dan berusaha mengisinya dengan kebisingan baru. Namun, mari kita ubah cara pandang itu.
Kekosongan bukanlah kegagalan. Ia adalah ruang tamu yang Tuhan sediakan agar kita bisa duduk berhadapan dengan diri sendiri. Ia adalah cermin jernih yang tidak retak oleh ego. Di titik nadir itulah, kita diajak berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk menyadari bahwa yang perlu diperpanjang bukanlah durasi waktu, melainkan kedalaman kesadaran.
Di dalam jeda, kita menata kembali hati yang lelah dikejar dunia. Kita belajar bahwa menjadi produktif tidak selalu berarti menghasilkan sesuatu yang terlihat mata, tetapi juga membangun sesuatu yang terasa di jiwa.
Bukan Adu Penalti
Tahun depan akan datang, membawa gelombang tantangan yang baru. Namun, semoga kita tidak lagi memandang hidup sebagai adu penalti melawan waktu—sebuah momen tegang di mana kita harus mencetak gol secepat mungkin sebelum peluit berbunyi. Hidup terlalu agung untuk diredusir menjadi sekadar menang atau kalah dalam hitungan detik.
Kemenangan sejati tidak milik mereka yang paling cepat berlari. Kemenangan adalah milik mereka yang tahu kapan harus berhenti, menarik napas panjang, dan meninjau kompas di tangan. Mereka yang paham bahwa arah jauh lebih krusial daripada kecepatan.
Jadi, sebelum kalender benar-benar berganti, mari kita lakukan satu hal sederhana yang radikal: Berhenti.
Berhentilah sejenak dari obsesi menjadi "lebih". Mulailah belajar menjadi "sadar". Waktu memang tidak pernah menunggu siapa pun, ia kejam sekaligus adil. Namun, ia selalu memberi pagi yang baru sebagai kesempatan untuk memulai ulang—bukan sebagai pengulangan dari kelelahan yang sama, tetapi sebagai awal yang benar-benar jernih.
Jangan biarkan tahun depan menjadi arena pertempuran antara ambisi dan penyesalan. Jadikan ia perjalanan yang tenang, di mana setiap langkah—sekecil apa pun—memiliki makna yang utuh.

Komentar
Posting Komentar