Kepemimpinan Murid (Student Agency)
Prolog
Ruang kelas bukan lagi panggung tunggal sang guru bersuara,
Melainkan samudra luas di mana setiap murid memegang kemudi nahkoda.
Bukan sekadar menerima, namun berani menentukan arah dan cita,
Mengubah keterpaksaan menjadi pilihan yang penuh makna.
Di sini, potensi kepemimpinan tumbuh dalam bimbingan yang bersahaja,
Menjadikan mereka kontributor aktif bagi hidup dan dunianya.
Kepemimpinan Murid: Menumbuhkan "Agency" di Jantung Pembelajaran
Menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses belajarnya sendiri bukan berarti membiarkan mereka tanpa arah. Sebaliknya, ini adalah tentang memberikan ruang bagi mereka untuk mengelola kapasitas diri, sementara kita, sebagai pendidik, hadir sebagai mitra yang mendampingi sesuai kodrat dan zamannya.
Ketika kita berani mengurangi kontrol dan memberikan kepercayaan, saat itulah murid memiliki "Student Agency". Meminjam pemikiran Albert Bandura (2006), menjadi seorang agent berarti secara sengaja mempengaruhi fungsi hidupnya sendiri. Mereka bukan penonton, melainkan kontributor aktif bagi masa depan mereka.
Mengenal IVAR: Empat Sifat Inti "Agency"
Untuk memudahkan kita memahami kapasitas kepemimpinan ini, mari kita menyelami akronim IVAR:
- I - Intensi (Kesengajaan): Memiliki niat yang dibarengi dengan rencana tindakan dan strategi. Mereka paham bagaimana menyelaraskan niat pribadi dengan kepentingan bersama.
- V - Visi (Pemikiran ke Depan): Menjadikan visualisasi masa depan sebagai pemandu tindakan hari ini. Visi inilah yang memicu semangat dan tujuan yang jelas.
- A - Aksi (Kereaktifan-diri): Tidak sekadar menunggu, tapi aktif mengonstruksi tindakan, mengatur eksekusi, dan meregulasi diri sendiri.
- R - Refleksi (Kereflektifan-diri): Memiliki kesadaran metakognitif untuk menilai efikasi diri, memperbaiki tindakan, dan menemukan makna dalam setiap upaya.
Kemitraan: Wajah Baru Hubungan Guru dan Murid
Kepemimpinan murid mengubah dinamika kelas menjadi sebuah Kemitraan. Murid tidak lagi hanya menerima apa yang ditentukan, melainkan aktif menyuarakan opini, membuat pilihan, dan melakukan tindakan nyata.
- Murid sebagai Mitra: Berusaha memahami tujuan, menunjukkan inisiatif, rasa ingin tahu yang tinggi, dan berani mengambil tanggung jawab atas pilihannya.
- Guru sebagai Mitra: Aktif mendengarkan aspirasi, menghormati perspektif, menawarkan tugas-tugas terbuka, dan memberikan ruang bagi murid untuk mengambil risiko kreatif.
OECD (2019) menekankan bahwa kepemimpinan murid adalah tentang identitas dan rasa memiliki. Dengan growth mindset dan efikasi diri, murid menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Inilah keterampilan hidup yang sesungguhnya: belajar bagaimana belajar.
Endgame
Kepemimpinan bukanlah jabatan, melainkan kapasitas untuk bertindak,
Membimbing murid agar tak sekadar patuh, namun mampu bergerak.
IVAR adalah napasnya, kemitraan adalah jalannya,
Menuju generasi yang mandiri, di tangan mereka masa depan bertahta.
Mari lepaskan kendali yang mengekang, berikan ruang untuk mencoba,
Sebab murid yang berdaya hari ini, adalah pemimpin dunia esok lusa.
Oleh: Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar