Dialektika Cinta dan Benci
Prolog: Sajak Sang Maha Cinta
Di hamparan bumi, langkah-langkah terbagi,
Antara sujud yang tulus dan sombong yang meninggi.
Cinta-Nya luas, namun ada yang lebih didamba,
Benci-Nya tegas, namun ada yang lebih nista.
Kita bukan sekadar angka di hadapan Yang Kuasa,
Kita adalah pilihan-pilihan di dalam pusaran masa.
Matematika Akhlak: Membedah Dialektika Cinta dan Benci Sang Khaliq
Dalam diskursus teologi dan moralitas, seringkali kita terjebak pada pemahaman hitam-putih. Namun, dalam sebuah Hadits Qudsi yang tertuang dalam Tafsir al-Sya’rowi, kita diajak melihat sebuah "Skala Prioritas Moral". Ada sebuah pola matematis yang indah sekaligus menggetarkan tentang bagaimana Allah SWT memandang hamba-Nya bukan hanya dari apa yang dilakukan, melainkan dari konteks di mana perbuatan itu terjadi.
1. Dialektika Perlawanan Terhadap Karakter Alami
Filosofi di balik "Lebih Mencintai" dan "Lebih Membenci" ini berakar pada kemampuan manusia melawan kecenderungan atau "fasilitas" yang ia miliki.
- Kekayaan vs Kerendahan Hati: Allah mencintai orang miskin yang tawadhu, namun sangat mencintai orang kaya yang tawadhu. Secara data psikologis, kekayaan seringkali menjadi stimulan rasa kuasa (power) yang memicu arogansi. Ketika seseorang memiliki "alasan" untuk sombong namun memilih menunduk, itulah puncak keindahan akhlak.
- Kemiskinan vs Kedermawanan: Secara statistik ekonomi, memberi saat berkekurangan ( the widow's mite effect) jauh lebih sulit secara psikis daripada memberi saat berlebih. Inilah mengapa kedermawanan orang miskin menempati posisi lebih tinggi di mata-Nya.
- Masa Muda vs Ketaatan: Masa muda adalah puncak hormon dan gairah ( libido & ambition). Secara literatur biologis, pengendalian diri di masa muda memerlukan usaha berkali-kali lipat dibanding masa tua. Maka, pemuda yang taat adalah "kekasih" istimewa bagi Ar-Rahman.
2. Anatomi Kebencian: Ketika Logika Moral Dilanggar
Allah membenci kemaksiatan, namun tingkat kebencian-Nya berkorelasi dengan ketiadaan alasan untuk melakukan dosa tersebut.
|
Subjek |
Perilaku Benci |
Mengapa "Lebih Dibenci"? |
|---|---|---|
|
Orang Miskin |
Sombong |
Secara logika, tidak ada instrumen (harta/kuasa) yang bisa disombongkan. Ini adalah kesombongan yang "kosong" dan murni penyakit hati. |
|
Orang Kaya |
Bakhil (Pelit) |
Memiliki instrumen untuk berbagi namun menahannya. Ini adalah pelanggaran terhadap fungsi distribusi ekonomi yang diamanahkan. |
|
Orang Tua |
Maksiat |
Secara biologis, gairah fisik sudah menurun. Maksiat di usia senja menunjukkan kerusakan jiwa yang sudah mengakar dan pengabaian terhadap kematian yang mendekat. |
3. Analisis Filosofis: Tentang Konteks dan Kontradiksi
Hadits ini mengajarkan kita tentang Fisika Spiritual. Semakin besar gaya gesek (hambatan/godaan) yang dihadapi seseorang untuk berbuat baik, maka semakin besar pula "usaha" (work done) yang tercatat di langit.
Sebaliknya, melakukan dosa di saat tidak ada dorongan mendesak (seperti orang tua yang bermaksiat atau orang miskin yang sombong) adalah bentuk pembangkangan yang bersifat absolut. Ini bukan lagi soal godaan, tapi soal pilihan sadar untuk melawan fitrah.
End Game: Melampaui Standar Biasa
Data moral ini memberikan kita sebuah benchmark baru. Kita diajak untuk tidak hanya menjadi orang baik "standar", tapi menjadi orang baik yang melampaui batasan keadaan kita:
- Menjadi dermawan meski tak punya.
- Menjadi rendah hati meski berkuasa.
- Menjadi taat meski muda dan perkasa.
Penutup: Sajak Neraca Jiwa
Jangan bangga dengan ketaatan di masa senja,
Jika masa mudamu habis dalam angkara dan manja.
Jangan merasa suci dalam kemiskinan yang terpaksa,
Hingga engkau mampu merunduk saat harta bertahta.
Karena di neraca Tuhan, bukan cuma berat yang diukur,
Tapi seberapa keras hatimu berjuang agar tidak tersungkur.

Komentar
Posting Komentar