Honorer, Menakar Nalar Anggaran MBG
Gerbang Sajak Prioritas
Di atas meja, janji-janji mulai ditata,
Antara gizi raga dan masa depan bangsa yang nyata.
Satu piring nasi diukur dengan angka,
Satu ruang kelas dihitung dengan sisa.
Kita bicara tentang perut yang harus diisi,
Tapi jangan lupa pada mereka yang merawat nalar di negeri ini.
Satu Meja Makan atau Setahun Masa Depan? Menakar Nalar Anggaran MBG
Kebijakan publik selalu tentang satu hal: prioritas. Ketika pemerintah mengetok palu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), kita melihat sebuah ambisi besar untuk memutus rantai stunting. Namun, di balik angka-angka fantastis tersebut, muncul sebuah temuan dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang memantik diskusi tajam.
Studi tersebut mengungkapkan sebuah kontradiksi yang menyesakkan: Anggaran MBG untuk 12 hari saja setara dengan biaya untuk menggaji seluruh guru honorer di Indonesia selama satu tahun penuh dengan upah Rp1,7 juta per bulan.
Bedah Angka: Literasi Data di Balik Kebijakan
Mari kita bicara lewat data. Jika kita membedah rasio tersebut, ada ketimpangan alokasi yang mencolok. Program MBG diproyeksikan menelan biaya ratusan triliun rupiah per tahun. Namun, di sisi lain, nasib guru honorer—sang garda terdepan literasi—masih terkatung-katung dalam ketidakpastian upah.
- Logika 12 Hari: Temuan CELIOS ini menunjukkan betapa besarnya daya beli negara ( state purchasing power) jika dialokasikan pada sektor SDM pendidik.
- Standar Kelayakan: Angka Rp1,7 juta per bulan memang masih di bawah UMP banyak daerah, namun bagi ratusan ribu guru honorer yang saat ini menerima Rp300.000 hingga Rp500.000, angka ini adalah peningkatan taraf hidup sebesar 300-500%.
- Kontras Biaya: Mengapa memberi makan murid dianggap lebih mendesak daripada memberi "nafas" bagi guru? Tanpa guru yang sejahtera, ruang kelas hanya akan menjadi tempat makan kolektif, bukan ruang transformasi ilmu.
Analisis Kritis: Paradox Pembangunan
Kebijakan MBG secara teknis memang mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan. Namun, ada risiko investasi yang pincang. Kita sedang berusaha membangun fisik anak didik, namun di saat yang sama, kita membiarkan sistem pendukungnya (guru) keropos secara ekonomi.
Secara analitis, ada beberapa poin yang harus dikritisi:
- Keberlanjutan Fiskal: Jika 12 hari MBG setara dengan satu tahun gaji guru, maka efisiensi anggaran menjadi krusial. Apakah ada kebocoran dalam distribusi pangan nantinya?
- Kualitas vs. Kuantitas: Kita memberikan nutrisi mikro pada anak, tapi apakah kita memberikan nutrisi intelektual yang berkualitas jika gurunya harus mencari sampingan sebagai ojek online demi bertahan hidup?
Mencari Titik Tengah
Kita tidak sedang membenturkan antara "perut murid" dan "nasib guru". Keduanya adalah pilar kemajuan. Namun, data CELIOS ini menjadi pengingat keras bahwa pemerintah sebenarnya mampu menyelesaikan masalah kesejahteraan guru honorer jika memiliki kemauan politik (political will) yang sama besarnya dengan program bagi-bagi makan.
Negara tidak boleh hanya sibuk mengisi piring, sementara papan tulis mulai retak karena pengajarnya kehilangan harapan.


Komentar
Posting Komentar