Esok yang Menanti, Hati yang Mencari
Prolog:
Kita sering terjebak dalam angka dan kalender yang sepi,
Mengejar detak jam yang seolah enggan berkompromi.
Esok adalah misteri yang sering dipaksa menjadi ambisi,
Padahal ia hanyalah selembar kertas kosong yang menanti jemari.
Bertanya tentang rencana, seringkali berujung pada sunyi,
Atau sekadar repetisi dari mimpi yang gagal kita amini.
Ruang Esok: Antara Ambisi dan Autentisitas
Bagi banyak orang, pertanyaan "apa rencanamu esok?" bukan sekadar basa-basi administratif, melainkan beban eksistensial. Kita hidup di era performance society, di mana filsuf Byung-Chul Han dalam karyanya The Burnout Society menyebut bahwa manusia modern bukan lagi subjek ketaatan, melainkan subjek prestasi yang mengeksploitasi dirinya sendiri hingga kelelahan.
Ketika jawaban atas hari esok masih berupa kabut yang membingungkan, tekanan untuk terlihat "sukses" seringkali memaksa kita membohongi hati. Kita menciptakan narasi palsu agar terlihat selaras dengan standar sosial, padahal di dalam batin, terjadi disonansi yang menyesakkan. Bertanya perlahan pada pikiran tanpa membohongi hati adalah tindakan radikal di tengah dunia yang bising. Ini adalah bentuk kejujuran intelektual dan emosional yang paling murni.
Perangkap Komparasi dan Fatamorgana Kesuksesan
Seringkali, kalutnya pikiran kita bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena terlalu sibuk memberi "salut" pada pencapaian orang lain. Kita terjebak dalam apa yang disebut RenĂ© Girard sebagai Mimesis Desire—keinginan untuk memiliki sesuatu hanya karena orang lain memilikinya.
Kesuksesan orang lain yang terpampang di etalase digital seringkali menjadi standar ganda yang menghakimi langkah kaki kita sendiri. Padahal, setiap individu memiliki orbitnya masing-masing. Tak perlu takut tertinggal, karena hidup bukanlah perlombaan lari cepat, melainkan perjalanan mendaki yang membutuhkan ritme napas yang stabil.
Sintesa Iman: Ikhtiar dan Ketetapan Ilahi
Di titik nadir kebingungan, literatur spiritual mengajarkan kita tentang konsep Amor Fati—mencintai takdir—yang dalam perspektif teologis kita kenal sebagai keyakinan pada titah Ilahi. Mengimani bahwa ketetapan Tuhan adalah yang terbaik bukan berarti menyerah pada keadaan. Sebaliknya, itu adalah pembebasan mental.
Ketakutan akan masa depan seringkali muncul karena kita merasa memegang kendali penuh atas segalanya. Namun, dengan menanamkan keyakinan bahwa ada tangan tak terlihat yang mengatur harmoni alam semesta, beban di pundak terasa lebih ringan. Ini adalah optimisme teologis: kita berjuang menyatakan mimpi sekuat tenaga, namun meletakkan hasilnya pada singgasana ketenangan batin.
Berjuanglah, bukan karena ingin melampaui orang lain, melainkan untuk menuntaskan amanah keberadaan kita di bumi. Hingga pada akhirnya, ketika esok benar-benar tiba dan mimpi itu mewujud atau bertransformasi, hanya satu kata yang sanggup merangkum seluruh pergulatan itu: Alhamdulillah. Sebuah pengakuan tulus bahwa perjalanan ini, sepahit apapun prosesnya, berujung pada kebaikan yang terencana.
Narasi and Game:
Tak perlu tersiksa oleh bayang-bayang yang belum nyata,
Apalagi meratap karena merasa paling tertinggal di belakang sana.
Sebab hidup bukan soal siapa yang paling cepat sampai di puncak,
Tapi tentang siapa yang paling jujur saat melangkah dan berpijak.
Tanamkan keyakinan, titah-Nya takkan pernah salah alamat,
Berjuanglah dengan hati, agar senyummu nanti terasa berkat.
Di ujung jalan, biarlah syukur yang bicara,
Menutup hari dengan kata yang paling mulia.
Oleh: Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar