​LPDP: Investasi Strategi

 




Prolog

Bising perdebatan kembali menyalak, tentang pulang yang dianggap mutlak.

Ada yang bicara tentang bakti dan durhaka, seolah pendidikan adalah hutang nyawa yang harus segera dilunasi paksa.

Namun di Nottingham, sebuah suara jernih mencoba membedah logika yang retak,

Bahwa membangun bangsa bukan hanya soal raga yang berpijak, tapi tentang dampak yang meluas dan berdampak.

Mari kita bedah narasi investasi ini, agar kita tak terjebak dalam sentimen yang tak bertepi.

​LPDP: Investasi Strategis, Bukan Sedekah Emosional

​Debat mengenai kewajiban kepulangan penerima beasiswa LPDP kembali memanas di ruang publik. Namun, akademisi Indonesia di University of Nottingham, Dr. Bagus Muljadi, memberikan perspektif yang mendinginkan sekaligus menantang cara berpikir kita selama ini. Ada kekeliruan fundamental dalam kacamata yang kita gunakan: kita terlalu sering melihat LPDP sebagai "sedekah" atau "charity" negara.

​Menurut Bagus, penggunaan diksi seperti "mengabdi" atau "balas budi" terlalu sarat dengan muatan moral dan emosional. Dampaknya? Diskusi menjadi terbelah antara si "nasionalis" dan si "pengkhianat". Padahal, LPDP adalah instrumen kebijakan yang dibiayai dana publik, yang seharusnya diposisikan sebagai investasi strategis negara.

​Logika ROI vs Logika "Ibu Sekarat"

​“LPDP itu investasi publik, bukan charity. Investasi harus diukur dari Return of Investment (ROI),” tegas Bagus. Dalam dunia investasi, keberhasilan tidak diukur dari posisi fisik aset, melainkan dari nilai tambah yang dihasilkan.

​Beliau mengkritik keras framing yang menggambarkan negara seolah “ibu yang sekarat” yang menjual segala harta demi menyekolahkan anak, lalu melabeli sang anak "durhaka" jika tidak segera pulang menyuapi sang ibu. Pendekatan emosional ini justru:

  1. Mengaburkan Dimensi Strategis: Kita lupa menghitung potensi kontribusi yang lebih besar.
  2. Memperkeruh Diskusi: Fokus publik beralih dari kualitas hasil ke sekadar absensi kehadiran.

​Diaspora sebagai Aset, Bukan Beban

​Dalam perspektif investasi global, diaspora akademik bukanlah "otak yang hilang" (brain drain), melainkan aset diplomasi sains. Banyak negara maju justru menggunakan ilmuwan mereka di luar negeri sebagai "jangkar" atau jembatan untuk:

  • Akses Hibah Global: Membawa masuk pendanaan riset bernilai miliaran ke tanah air.
  • Transfer Teknologi: Menjadi pintu masuk bagi teknologi mutakhir yang belum ada di dalam negeri.
  • Kolaborasi Kelas Dunia: Membuka jalan bagi peneliti lokal untuk mengakses fasilitas riset internasional yang prestisius.

​Jika seorang penerima LPDP berada di luar negeri namun berhasil membawa kolaborasi riset senilai puluhan miliar untuk universitas di Indonesia, bukankah itu ROI yang jauh lebih tinggi daripada sekadar pulang secara fisik namun tak memiliki ekosistem untuk berkarya?

​Mengelola Talenta dengan Profesionalisme

​Diskusi tentang LPDP, pada akhirnya, adalah tentang kedewasaan sebuah bangsa dalam mengelola talenta globalnya. Kita harus beralih dari cara mengelola yang "baperan" (emosional) ke arah yang cerdas, profesional, dan berorientasi pada hasil nyata.

​Kepulangan fisik adalah satu hal, namun kemanfaatan strategis adalah hal yang jauh lebih besar. Indonesia perlu membangun ekosistem di dalam negeri yang mampu menampung ledakan ilmu pengetahuan ini, sekaligus membiarkan "jangkar-jangkar" kita di luar negeri tetap kuat untuk menarik dunia ke Indonesia.

Analisis Kritis & Solusi:

Sudahkah LPDP dipandang sebagai investasi jangka panjang? Sepertinya belum sepenuhnya. Publik dan pemangku kebijakan masih terjebak pada "Key Performance Indicator (KPI) Administratif" (jumlah yang pulang) daripada "KPI Kontribusi" (apa yang dihasilkan bagi bangsa).

​Solusinya, PSSI (dalam hal ini pemerintah/LPDP) perlu membuat mekanisme "Kontribusi Jarak Jauh" yang terukur bagi diaspora, serta memastikan infrastruktur riset di dalam negeri tidak "karatan" sehingga para "Tsubasa Akademik" kita tidak bingung saat harus bermain di lapangan sendiri yang becek.

​Menurut Anda, sudahkah LPDP dipandang sebagai investasi jangka panjang bangsa, atau kita masih senang bermain di ranah sentimen "anak durhaka"? 💬👇

Endgame

Negara adalah investor, bukan sekadar pemberi santunan,

SDM adalah saham, yang nilainya diukur dari kemanfaatan.

Jangan kurung elang di sangkar sempit atas nama pengabdian,

Biarkan ia terbang tinggi, membawa pulang kemajuan bagi peradaban.

Sebab bakti tak harus selalu di sini, selama manfaatnya tetap untuk ibu pertiwi.

Abdulloh Aup


Komentar

Postingan Populer