Kuliah Adalah Scam?
Prolog
Gelar sarjana ditengah anatara koma dan titik, namun pintu kerja seolah terkunci rapat,
Suara-suara sumbang pun mulai riuh, menyebut kuliah adalah jerat.
Benarkah ilmu yang dicari, kini hanya menjadi scam yang berkarat?
Atau adakah variabel lain, yang selama ini luput dari penglihatan kita yang sesat?
Mari kita bedah jembatan peradaban ini, dengan hati yang lebih tepat.
Kuliah Adalah Scam: Frustrasi di Balik Jembatan yang Rapuh
Belakangan ini, kalimat "kuliah adalah scam" semakin sering menggema di ruang-ruang diskusi, baik di media sosial maupun obrolan warung kopi. Narasi ini biasanya lahir dari sebuah realitas yang pahit: melihat ribuan lulusan perguruan tinggi yang tak terserap lapangan kerja, atau mereka yang akhirnya harus bekerja di bidang yang sama sekali jauh dari jurusan yang mereka geluti bertahun-tahun.
Pernyataan itu, jika dilihat sebagai bentuk reaksi kekecewaan dan frustrasi, tentu sangat wajar. Namun, menjadikannya sebagai kesimpulan akhir yang mutlak adalah sebuah kekeliruan yang bisa menjadi masalah baru. Kita perlu melihat fenomena ini secara lebih jernih dan mendalam.
Jembatan dan Negeri di Seberang Sana
Mari kita analogikan kuliah sebagai sebuah jembatan. Kuliah sejatinya adalah instrumen untuk memperbaiki kualitas manusia, membekali mereka dengan kerangka berpikir, disiplin, dan spesialisasi ilmu tertentu.
Namun, ada sebuah realitas yang sering dilupakan:
- Keadaan di Seberang Jembatan: Sebaik apa pun jembatan itu dibangun, jika negeri di seberang sana—yakni lapangan kerja dan kebijakan ekonomi negara—sedang tidak baik-baik saja, maka orang yang menyeberang akan tetap merasa tersesat.
- Kebijakan Negara: Apakah negara memiliki strategi yang matang untuk menyinkronkan lulusan kampus dengan kebutuhan industri? Ataukah kebijakan ekonomi justru tidak berpihak pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas?
Jika ribuan orang menyeberang jembatan namun hanya menemukan lahan tandus di ujung sana, maka yang salah bukanlah jembatannya, melainkan pengelolaan wilayah di seberang sana.
Realitas "Jembatan" yang Rusak
Meski demikian, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap kualitas "jembatan" itu sendiri. Harus diakui bahwa tidak semua kampus memiliki standar kualitas yang sama.
- Kampus sebagai Bisnis: Ada jembatan yang memang dibangun secara asal-asalan, hanya sekadar formalitas untuk mencetak ijazah tanpa benar-benar mencetak intelektualitas. Ini adalah "jembatan jelek" yang harus diperbaiki atau bahkan ditutup.
- Tamatan yang Kurang Kualitas: Karena jembatannya rapuh, maka lulusan yang dihasilkan pun tidak memiliki daya saing. Mereka membawa gelar, tapi gagap dalam implementasi.
Kesimpulan: Memperbaiki Keduanya
Menyebut kuliah adalah scam secara menyeluruh adalah bentuk generalisasi yang berbahaya. Pendidikan tetaplah investasi terbaik bagi kualitas manusia. Namun, kita harus menuntut dua perbaikan besar:
- Perbaikan Jembatan: Kampus harus benar-benar menjadi kawah candradimuka kualitas manusia, bukan sekadar pabrik ijazah.
- Perbaikan Seberang Jembatan: Pemerintah harus memastikan kebijakan ekonomi dan lapangan kerja mampu menampung potensi-potensi yang telah dididik.
Kuliah bukan scam, tapi sistem yang tidak sinkron antara pendidikan, kebijakan negara, dan kebutuhan industri itulah yang sedang menipu kita.
Endgame
Ijazah bukan sekadar kertas, tapi bukti sebuah perjuangan panjang,
Jika dunia kerja terasa ganas, jangan langsung menyalahkan gerbang yang lapang.
Mungkin jembatannya butuh renovasi, atau seberang sana yang belum benderang,
Tuntutlah ilmu dengan hati, agar pribadimu tetap tangguh dan tak gampang goyang.
Sebab pendidikan yang sejati, adalah cahaya yang takkan pernah hilang.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar