Kepala Kawan Sebagai Pijakan
Prolog
Dalam sunyi malam, gema perlawanan Gie kembali menyapa,
Tentang nurani yang luruh, tergerus ambisi yang buta.
Ketika kuasa dikejar dengan nafsu, tanpa moral yang terjaga,
Maka kemanusiaan hanyalah topeng, pembungkus jiwa yang nista.
Mari kita renungi, harga sebuah martabat di tengah badai takhta.
Kepala Kawan Sebagai Pijakan: Ketika Ambisi Menghapus Nurani
Soe Hok Gie, sang demonstran yang tak kenal kompromi, pernah menulis dengan nada getir tentang manusia-manusia yang kehilangan nurani di tengah hasrat akan kuasa. Baginya, ambisi bukanlah sesuatu yang salah, namun ketika ia tidak dibimbing oleh idealisme yang jernih, ambisi itu akan berubah menjadi kerak yang mengeras di wajah kemanusiaan.
Hari ini, kita menyaksikan apa yang dicemaskan Gie terjadi di depan mata. Ada rasa muak yang mendalam ketika melihat orang-orang yang begitu bernafsu naik ke puncak kekuasaan, hingga mereka tega menjadikan kepala kawan sendiri sebagai pijakan.
Retorika Manis di Balik Sikut yang Tajam
Mereka yang haus kuasa pandai berbicara. Di panggung-panggung terbuka, mereka fasih merangkai kata tentang cita-cita mulia, tentang perubahan yang transformatif, dan tentang masa depan bangsa yang benderang. Namun, itu hanyalah etalase.
Di lorong-lorong sempit dan gelap menuju kekuasaan, yang bekerja bukanlah hati, melainkan siku.
- Solidaritas hanya slogan: Diucapkan saat butuh dukungan, dilupakan saat kursi sudah di genggaman.
- Persahabatan sekadar alat: Hubungan manusia dianggap sebagai investasi transaksional—dipelihara jika menguntungkan, dibuang jika menghambat jalan.
Dalam dunia yang dingin seperti itu, nilai-nilai luhur menguap. Yang tersisa hanyalah kompetisi brutal tanpa makna, sebuah perlombaan di mana kemenangan diraih dengan mematikan nurani sesama.
Integritas yang Perlahan, atau Pengkhianatan yang Kencang?
Kita perlu bertanya pada diri sendiri: apa arti sebuah kedudukan jika ia diraih dengan cara mengkhianati sesama? Apa gunanya berdiri di puncak jika tangan kita berlumuran luka kawan-kawan yang kita singkirkan?
Ada kebenaran abadi dalam kalimat: Lebih baik berjalan pelan dengan integritas daripada berlari kencang di atas luka orang lain. Kecepatan bukan segalanya jika arahnya salah. Ketinggian bukan kemuliaan jika fondasinya adalah pengkhianatan.
Mereka yang mengejar kuasa dengan cara-cara kotor mungkin akan sampai lebih cepat, mungkin akan duduk lebih tinggi. Namun, mereka akan selalu dihantui oleh bayang-bayang mereka yang telah mereka injak.
Sejarah: Catatan Tentang Cara Berdiri
Pada akhirnya, sejarah adalah hakim yang adil. Sejarah tidak pernah mencatat seberapa tinggi seseorang pernah berdiri atau seberapa banyak jabatan yang pernah ia rengkuh dalam daftar riwayat hidupnya.
Sejarah mencatat bagaimana ia berdiri.
- Apakah ia berdiri dengan martabat yang utuh?
- Apakah ia berdiri di atas pondasi kejujuran?
- Atau, apakah ia berdiri dengan meninggalkan jejak kaki di wajah temannya?
Menjadi manusia berarti menjaga keseimbangan antara ambisi dan nurani. Jangan biarkan nafsu untuk "menjadi seseorang" merusak hakikat kita sebagai "manusia". Sebab di atas segala takhta dan mahkota, ada martabat yang harus tetap terjaga agar kita tidak berakhir sebagai kerak dalam catatan masa.
Endgame
Takhta bisa runtuh, namun nama baik akan selalu benderang,
Jangan biarkan jiwamu hampa, terperangkap dalam ambisi yang gersang.
Lebih mulia berdiri kecil, daripada besar di atas pundak kawan yang mengerang,
Sebab integritas adalah warisan, yang takkan bisa dibeli atau dipinjam.
Jadilah manusia merdeka, yang nuraninya takkan pernah padam.
Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar