Nyali Intelektual di Hadapan Kekuasaan

 


Prolog

Di bawah bayangan menara gading, gelar-gelar berderet gagah,

Namun di hadapan singgasana, suara kebenaran sering terasa lemah.

Intelektual sejati, bukanlah sekadar tumpukan ilmu yang merekah,

Melainkan nyali yang membaja, melawan tirani yang memilah.

Mari kita renungi, makna di balik kata-kata Pramoedya yang begitu gamblang.

​"Kalian Hanyalah Ternak": Nyali Intelektual di Hadapan Kekuasaan

​Pramoedya Ananta Toer, sang pujangga perlawanan, pernah menohok dengan kalimatnya yang tajam: “Kalian hanyalah ternak saat punya gelar intelektual tapi nyali begitu tipis di depan kekuasaan.” Kalimat ini bukan sekadar kritik, melainkan sebuah peringatan keras bagi para cendekiawan, bagi mereka yang memegang obor ilmu di negeri yang seringkali mengagungkan simbol daripada substansi.

​Di negeri yang terlalu lama memuja stempel dan tanda tangan, gelar seringkali lebih dihormati daripada keberanian. Kita menyaksikan orang-orang berderet di wisuda, mengenakan toga, menggenggam ijazah seperti jimat keselamatan. Mereka percaya bahwa huruf-huruf di belakang nama, predikat cumlaude, atau deretan gelar akademik akan membuat mereka merdeka. Padahal, tanpa nyali untuk berpikir kritis dan bersuara lantang, huruf-huruf itu hanyalah hiasan kandang yang indah.

​Intelektual: Mata yang Awas, Lidah yang Tak Sudi Dibungkam

​Intelektual seharusnya menjadi mata yang awas, yang mampu melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan kebohongan di balik janji-janji manis. Ia juga harus menjadi lidah yang tak sudi dibungkam, yang berani menyuarakan kebenaran, bahkan jika itu berarti melawan arus atau menghadapi risiko. Seorang intelektual belajar bukan untuk tunduk pada narasi yang ada, melainkan untuk memahami—dan setelah memahami dengan segala kompleksitasnya, ia harus memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak.

​Tetapi apa jadinya bila pengetahuan hanya dipakai untuk mencari aman? Ketika kebenaran ditimbang bukan dengan nurani, melainkan dengan risiko jabatan, tunjangan, atau kenyamanan pribadi? Di sinilah nyali intelektual diuji. Intelektual yang sejati tidak akan menukar kebenaran dengan kursi empuk.

​Kekuasaan dan Intelektual yang Jinak

​Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, selalu menyukai orang pandai yang jinak. Mereka adalah aset berharga. Mereka bisa menyusun kata-kata indah untuk membenarkan setiap kebijakan, bahkan yang paling tidak populer sekalipun. Mereka bisa memelintir data, memanipulasi fakta, dan membangun narasi yang menenangkan keresahan publik. Mereka menjadi alat yang halus, lebih berbahaya dari senjata fisik.

​Sebab, mereka tahu persis apa yang salah, mereka punya kapasitas untuk menganalisis dan membongkar kebohongan, namun mereka memilih diam. Diam yang terdidik. Diam yang dibayar mahal dengan kenyamanan dan privilege. Diam yang pada akhirnya hanya melanggengkan kezaliman.

​Ternak, Bukan Soal Bodoh atau Pintar

​Menjadi "ternak" bukan soal bodoh atau pintar. Itu soal keberanian. Ternak digiring, diberi makan, lalu disembelih tanpa pernah bertanya atau melawan. Intelektual yang kehilangan nyali pun demikian—ia tahu jalan keluar dari kandang ketidakadilan, ia punya kunci pengetahuan untuk membuka gerbang, tetapi ia memilih tetap di dalam karena rumput di kandang masih hijau, tempat tidurnya masih empuk, dan jaminan hidupnya masih aman.

​Bangsa ini tidak kekurangan orang berijazah, tidak kekurangan orang yang pernah duduk di bangku kuliah dengan gelar mentereng. Yang kurang adalah orang yang bersedia membayar harga untuk kebenaran. Yang kurang adalah mereka yang berani berdiri, bersuara, dan bertindak sesuai dengan ilmu yang mereka miliki. Sebab pengetahuan tanpa keberanian hanyalah kemewahan yang tak berguna, hanya menjadi beban intelektual tanpa kontribusi nyata.

​Dan sejarah, seperti yang sering kita lupakan dalam euforia gelar dan jabatan, tidak pernah mencatat mereka yang selamat karena diam. Sejarah selalu mencatat mereka yang berdiri, meski sendirian, di tengah badai.

Endgame

Gelar itu mahkota, namun nyali adalah jiwa yang perkasa,

Jangan biarkan ilmu membisu, di hadapan tirani yang berkuasa.

Suarakan kebenaranmu, walau badai menerjang tanpa jeda,

Sebab kemerdekaan sejati, hanya diraih oleh mereka yang berani bersuara.

Intelektual adalah pelita, yang takkan padam di kegelapan nestapa.

Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer