Bajaj Itu Tidak Sedang Mencari Penumpang
Bajaj Itu Tidak Sedang Mencari Penumpang, Ia Sedang Mengantar Masa Depan
Oleh: Abdulloh Aup
aupdentata.blogspot.com
"Tidak semua perjalanan diukur dari seberapa jauh kendaraan melaju. Ada perjalanan yang nilainya justru diukur dari seberapa besar cinta yang ikut berangkat bersamanya."
Saya membayangkan bagaimana rasanya duduk selama hampir dua puluh empat jam di dalam sebuah bajaj.
Mesinnya meraung tanpa henti. Angin jalanan masuk dari berbagai sisi. Ruang geraknya sempit. Jalan yang dilalui bukan hanya jalan dalam kota, melainkan membelah pulau, melintasi malam, menghadapi kemacetan, dan sesekali mungkin membuat badan terasa pegal.
Namun saya yakin, selama perjalanan itu, tidak ada seorang pun di dalam bajaj yang benar-benar memikirkan rasa lelah.
Karena yang mereka bawa jauh lebih besar daripada sekadar koper.
Mereka sedang membawa sebuah mimpi.
Banyak orang mengenal bajaj sebagai kendaraan umum yang sederhana. Warnanya mencolok, suaranya khas, kecepatannya terbatas. Kendaraan itu akrab dengan jalan-jalan sempit dan hiruk pikuk perkotaan.
Tetapi beberapa hari yang lalu, sebuah bajaj mengubah cara saya memandang arti sebuah perjalanan.
Basuni Yusuf, seorang sopir bajaj dari Yogyakarta, memilih mengendarai kendaraan yang setiap hari menjadi sumber nafkahnya menuju Bandung demi mengantar putranya memulai kuliah di Institut Teknologi Bandung.
Ketika membaca berita itu, saya tidak sedang melihat seorang sopir bajaj.
Saya melihat seorang ayah.
Dan bagi seorang ayah, kendaraan apa pun akan menjadi kendaraan terbaik ketika mengantarkan masa depan anaknya.
Saya kemudian membaca kisah anaknya, Andromeda Sufi Anggoro.
Ia diterima di FMIPA ITB melalui jalur SNBT.
Yang membuat saya semakin terdiam bukanlah nama kampusnya.
Melainkan proses yang mengantarkannya ke sana.
Tidak ada bimbingan belajar mahal.
Tidak ada kelas eksklusif.
Tidak ada fasilitas yang serba lengkap.
Yang ada hanyalah YouTube, latihan soal, tryout daring, dan kemauan untuk terus belajar.
Di zaman ketika kita sering mengeluhkan kurangnya fasilitas, Andromeda justru mengajarkan bahwa fasilitas terbaik kadang bukanlah yang paling mahal, melainkan yang benar-benar dimanfaatkan.
Internet hari ini memang menyediakan jutaan informasi.
Namun informasi tidak otomatis menjadi ilmu.
Ilmu lahir ketika seseorang mau duduk lebih lama, membaca lebih banyak, mencoba kembali setelah gagal, dan percaya bahwa proses tidak pernah mengkhianati hasil.
Ada satu bagian dari kisah ini yang terus teringat di kepala saya.
Nama "Andromeda."
Nama itu diberikan sejak ia lahir.
Diambil dari nama sebuah galaksi.
Entah mengapa saya merasa nama itu bukan sekadar nama.
Ia adalah doa.
Barangkali saat itu orang tuanya hanya berharap anaknya kelak memiliki masa depan yang luas.
Namun bertahun-tahun kemudian, anak itu justru bercita-cita mempelajari bintang, planet, dan alam semesta melalui Program Studi Astronomi.
Kadang Tuhan memiliki cara yang sangat indah dalam menjawab doa.
Tidak selalu cepat.
Tidak selalu mudah.
Tetapi selalu menemukan waktunya.
Sebagai seorang guru, saya sering bertemu siswa yang berkata, "Pak, saya tidak bisa karena..."
"...tidak punya buku."
"...tidak ikut bimbel."
"...tidak punya ini."
"...tidak punya itu."
Padahal sesungguhnya, kalimat paling berbahaya bukanlah "saya tidak punya."
Melainkan "saya menyerah."
Keterbatasan memang nyata.
Saya tidak pernah ingin menutup mata terhadap kenyataan itu.
Masih banyak anak yang kesulitan membeli kuota internet.
Masih banyak keluarga yang harus memilih antara kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah.
Masih banyak orang tua yang bekerja lebih keras agar anak-anaknya bisa tetap belajar.
Namun kisah Andromeda mengingatkan saya bahwa keterbatasan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan.
Kadang ia justru menjadi awal dari ketangguhan.
Saya juga belajar sesuatu dari Basuni.
Beliau tidak memberikan warisan berupa rumah mewah.
Tidak memberikan kendaraan mahal.
Tidak pula mampu membelikan berbagai fasilitas terbaik.
Tetapi beliau memberikan sesuatu yang jauh lebih bernilai.
Kehadiran.
Perhatian.
Dan keyakinan bahwa anaknya layak diperjuangkan.
Saya membayangkan sepanjang perjalanan dari Yogyakarta menuju Bandung, mungkin tidak banyak percakapan yang terjadi.
Namun saya yakin, setiap kilometer yang mereka lalui sedang menulis kalimat yang tidak pernah diucapkan.
"Nak, Ayah mungkin tidak bisa memberimu segalanya. Tapi Ayah akan mengantarmu sejauh yang Ayah mampu."
Bukankah itu bentuk cinta yang paling sederhana sekaligus paling luar biasa?
Yang membuat saya semakin bersyukur adalah ketika mengetahui pihak ITB menyambut keluarga ini dengan hangat.
Bantuan biaya perjalanan, laptop, bantuan biaya hidup, hingga keringanan UKT menjadi bukti bahwa pendidikan yang baik bukan hanya menerima mahasiswa berprestasi, tetapi juga membantu mereka bertahan selama proses belajar.
Saya berharap semakin banyak perguruan tinggi, pemerintah, perusahaan, komunitas, dan para alumni yang memiliki semangat seperti ini.
Karena perjuangan anak-anak Indonesia tidak berhenti pada pengumuman kelulusan.
Justru di sanalah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.
Di tengah derasnya informasi yang setiap hari memenuhi layar ponsel kita, kisah seperti ini terasa seperti jeda yang menenangkan.
Ia mengingatkan bahwa masih ada orang tua yang rela menempuh ratusan kilometer demi anaknya.
Masih ada anak yang belajar tanpa menyerah meski fasilitasnya sederhana.
Masih ada lembaga pendidikan yang memilih hadir, bukan sekadar mengapresiasi.
Dan masih ada harapan bahwa pendidikan tetap menjadi jalan paling mulia untuk mengubah kehidupan.
Saya percaya, suatu hari nanti orang mungkin tidak lagi mengingat berapa jam bajaj itu menempuh perjalanan menuju Bandung.
Mungkin orang juga lupa berapa liter bensin yang dihabiskan.
Namun ada satu hal yang akan terus dikenang.
Bahwa pernah ada sebuah bajaj kuning yang tidak sedang mencari penumpang.
Ia sedang mengantar masa depan.
Dan di dalam kendaraan sederhana itu, seorang ayah sedang membuktikan bahwa kasih sayang tidak pernah diukur dari seberapa mewah kendaraan yang dimiliki, tetapi dari seberapa jauh seseorang bersedia melangkah demi masa depan anaknya.
Semoga kelak, ketika Andromeda berhasil menggapai cita-citanya sebagai seorang astronom, ia akan sesekali menengadah ke langit malam.
Lalu mengingat bahwa perjalanan menuju bintang-bintang itu, ternyata dimulai dari sebuah bajaj sederhana yang berangkat dari Yogyakarta dengan membawa cinta, doa, dan harapan yang tidak pernah kehabisan bahan bakar.
"Anak boleh lahir dari keluarga sederhana. Tetapi cita-citanya tidak boleh dipaksa hidup sesederhana keadaan. Tugas kita adalah memastikan setiap anak memiliki kesempatan untuk terbang setinggi mimpinya."
— Abdulloh Aup | Guru yang Biasa Saja

Komentar
Posting Komentar